Maximillian

Manajemen Bisnis Apotek

In Supply Chain on Mei 17, 2009 at 01:10

Indikator Kinerja Ritel Apotek

Mengevaluasi komentar pengunjung pada tulisan Apotek Bisnis Basah di Samudera Biru, Max memutuskan untuk melakukan pembahasan seputar indikator kinerja ritel apotek dengan menggunakan pembandingan  manajerial ritel dan  sistem pelayanan klinik.

Optimasi bisnis pelayanan kesehatan ( Healthcare Business) pada apotek di Indonesia terbilang unik, kenapa ? Tulang punggung pemasaran obat di Indonesia bukan pada jejaring distributor ritel via apoteker, melainkan justru menggunakan tenaga dokter yang memiliki jam interaksi dan tingkat kepercayaan lebih tinggi dibanding sosok profesi apoteker. Terlepas dari aspek legalitas profesi, strategi ini adalah model optimal dengan pangsa pasar ethical : OTC adalah 80:20. Pasien akan patuh pada resep yang diberikan oleh dokter ( obat ethical), dan bukan pada rekomendasi apoteker, ditambah pada sosok apoteker sendiri yang tidak optimal menjalankan fungsi profesi pada bisnis apotek ( tidak signifikan eksistensinya secara profitabilitas maupun produktifitas apotek). Alokasi investasi sponsor untuk dokter  ( edukasi, bonus, wisata) di internal perusahaan farmasi  nilainya bisa mencapai 40- 50% dari harga obatnya itu sendiri.

dre0130l

Dalam pembahasan ini, faktor dominan variabel dokter dalam pola pemasaran obat masuk dalam pertimbangan utama, disamping faktor lain yang tentunya memiliki pengaruh. Dimensi penilaian bisnis pelayanan ( Service Business) yang ritel apotek masuk ke dalam kategori ini, meliputi lima hal, yaitu :

Best Performance Company Benchmark

In Corporate System on April 13, 2009 at 22:25

stepsMaximillian menggunakan pembanding beberapa perusahaan berkinerja terbaik 2009 versi analis bisnis Businessweek AS yang menempatkan 3 perusahaan farmasi ( definisi Maximillian) di 50 daftarnya. Kenapa Max menggunakan pembanding luar ? Ada beberapa alasan kuat, salah satunya adalah kesamaan portofolio ethical sebagai input terbesar perusahaan. Max juga sepaham dengan variabel penilaian yang digunakan Businessweek AS yaitu performa finansial inti meliputi : laba atas modal dan pertumbuhan rata- rata. Hanya saja, ini sangat kasuistik untuk iklim usaha dan karakter pebisnis di AS, apakah sama dengan Indonesia ? Tentu saja ada bedanya. Etika persaingan, metode pemasaran legal, dan goodwill penegakan hukum oleh pemerintah sebagai prasyarat kekuatan dinamis ekonomi mikro nampaknya masih belum dipenuhi secara optimal di Indonesia. Akan tetapi, pembandingan ini akan membantu untuk menjadi referensi pola bisnis farmasi ke depan, itu harapan Max.

logo-gilead


Gilead Sciences membukukan pendapatan 2 miliar US$ atas penjualan 5,3 miliar US$ dalam 12 bulan terakhir. Sebagian besar kesuksesan Gilead berkat upaya mereka mempermudah pasien menjalani perawatan yang selama ini rumit dan tidak menyenangkan. Gilead adalah salah satu perusahaan pertama yang mengeluarkan pil sekali minum, menggantikan koktail yang dimasukkan urat nadi. 2008, tiga obat HIV teratas Gilead menyumbang 84% dari total penjualan produk. Kini, 8 dari 10 pasien yang didiagnosis HIV di AS mengonsumsi produk Gilead, dan akan tetap mengonsumsinya selama bertahun- tahun.

Merjer Strategis ( Halah !!!)

In Corporate System on April 7, 2009 at 22:12

big_merger

Masa depan perusahaan farmasi bergantung pada daftar obat- obatan yang mereka harap bisa dikeluarkan dari lab dan dipasarkan lewat jejaring apotek sebelum obat putaran sebelumnya kehilangan daya jual. Namun gelombang merjer farmasi baru- baru ini bukan pertanda baik untuk proses penggantian tersebut. Divisi penelitian dan pengembangan menjadi satu- satunya bagian dari perusahaan farmasi yang tidak pernah berjalan mulus dalam mekanisme megamerjer.

Akuisisi Merck atas Schering- Plough seharga US $ 41 miliar akan mendongkrak laba bersih selama 2- 3 tahun mendatang, seperti rencana pembelian Pfizer atas Wyeth senilai US $ 64 miliar. Memperbesar litbang tidak berarti membuatnya menjadi lebih efisien, itu menurut Dr. Joseph Schlessinger, ketua departemen Farmakologi di Yale University School of Medicine yang juga pendiri tiga perusahaan bioteknologi farmasi.

Coba kita tengok ke belakang, industri farmasi telah diubah dengan sejumlah operasi megamerjer selama 15 tahun terakhir. Namun faktanya, semakin besar perusahaan, semakin sedikit pula inovasi produk obat baru yang mereka hasilkan. Untuk unit litbang saja, pada 2008, akumulasi belanja riset perusahaan farmasi AS menghabiskan US $ 65,2 miliar. Sementara pada 2002 nilai belanjanya hanya US $ 36 miliar. Banyak alasan yang bisa dijadikan pembenaran, nyatanya hanya delapan obat yang benar- benar turun ke pasar tahun lalu, jumlah ini sama dengan separuh dari tahun 2001. Pfizer malah sudah membelanjakan lebih dari US $ 60 miliar untuk litbang sejak 2000, tapi fakta bicara bahwa mereka belum menghasilkan satu pun dari lab mereka sendiri.

Schlessinger berpendapat lagi bahwa merjer akan membuat kebijakan riset internal bisnis perusahaan juga berubah, setelah merjer, peneliti di Merck, Pfizer, Wyeth, dan Schering akan berhenti berpikir kecuali satu hal, ” Apa yang akan terjadi pada diriku ?”.

Merjer BUMN Farmasi Indonesia, Defensif ? ( Opini Max)

Karakter perusahaan farmasi di AS dan Indonesia berbeda jauh, terutama pada alokasi pembelanjaan kapital untuk penelitian dan pengembangan. Melihat 80% pangsa pasar masih dipegang oleh ethical ( which is unethical ?), dan