Indikator Kinerja Ritel Apotek
Mengevaluasi komentar pengunjung pada tulisan Apotek Bisnis Basah di Samudera Biru, Max memutuskan untuk melakukan pembahasan seputar indikator kinerja ritel apotek dengan menggunakan pembandingan manajerial ritel dan sistem pelayanan klinik.
Optimasi bisnis pelayanan kesehatan ( Healthcare Business) pada apotek di Indonesia terbilang unik, kenapa ? Tulang punggung pemasaran obat di Indonesia bukan pada jejaring distributor ritel via apoteker, melainkan justru menggunakan tenaga dokter yang memiliki jam interaksi dan tingkat kepercayaan lebih tinggi dibanding sosok profesi apoteker. Terlepas dari aspek legalitas profesi, strategi ini adalah model optimal dengan pangsa pasar ethical : OTC adalah 80:20. Pasien akan patuh pada resep yang diberikan oleh dokter ( obat ethical), dan bukan pada rekomendasi apoteker, ditambah pada sosok apoteker sendiri yang tidak optimal menjalankan fungsi profesi pada bisnis apotek ( tidak signifikan eksistensinya secara profitabilitas maupun produktifitas apotek). Alokasi investasi sponsor untuk dokter ( edukasi, bonus, wisata) di internal perusahaan farmasi nilainya bisa mencapai 40- 50% dari harga obatnya itu sendiri.

Dalam pembahasan ini, faktor dominan variabel dokter dalam pola pemasaran obat masuk dalam pertimbangan utama, disamping faktor lain yang tentunya memiliki pengaruh. Dimensi penilaian bisnis pelayanan ( Service Business) yang ritel apotek masuk ke dalam kategori ini, meliputi lima hal, yaitu :
Maximillian menggunakan pembanding beberapa perusahaan berkinerja terbaik 2009 versi analis bisnis Businessweek AS yang menempatkan 3 perusahaan farmasi ( definisi Maximillian) di 50 daftarnya. Kenapa Max menggunakan pembanding luar ? Ada beberapa alasan kuat, salah satunya adalah kesamaan portofolio ethical sebagai input terbesar perusahaan. Max juga sepaham dengan variabel penilaian yang digunakan Businessweek AS yaitu performa finansial inti meliputi : laba atas modal dan pertumbuhan rata- rata. Hanya saja, ini sangat kasuistik untuk iklim usaha dan karakter pebisnis di AS, apakah sama dengan Indonesia ? Tentu saja ada bedanya. Etika persaingan, metode pemasaran legal, dan goodwill penegakan hukum oleh pemerintah sebagai prasyarat kekuatan dinamis ekonomi mikro nampaknya masih belum dipenuhi secara optimal di Indonesia. Akan tetapi, pembandingan ini akan membantu untuk menjadi referensi pola bisnis farmasi ke depan, itu harapan Max.

