Apakah memang terjadi kompetisi antara obat sintetik dengan obat bahan alam ? Secara pandangan pasar lokal Indonesia, nampaknya itu belum terjadi, walaupun media seringkali menghembuskan tren ”kembali ke alam” atau ”pengobatan alternatif” namun tentunya konsumen cerdas akan berpikir bahwa sesuatu yang ”alternatif” hanyalah komplemen dari yang utama, dan bukan substituen produk utama pada satu kasus penyakit yang sama.

Pangsa pasar obat sintetik masih dipegang oleh obat resep ( ethical) 80% dan sisanya OTC ( Over The Counter). Dengan pemanfaatan jejaring dokter, sistem ini nampaknya akan masih menjadi andalan kedepannya. Konsumen mungkin mengenal obat sintetik dosis tinggi via iklan media massa, namun jangan salah, untuk lima besar perusahaan farmasi Indonesia, input pendapatan justru masuk dari jenis obat resep.
Angka pertumbuhan konsumsi fitofarmasi ( produk farmasi berbasis bahan alam) di Indonesia akan Max ambil dari jenis suplemen makanan ( dietary supplement) di luar kategori jamu ( dan 2 kategori yang lebih kompleks ), mengalami pertumbuhan sebesar 506% antara tahun 2002- 2005. Jamu tidak dikategorikan sebagai suplemen makanan.Efek farmakologis yang ditimbulkan ( walaupun berupa klaim empirik) membuat jamu dimasukkan ke dalam kategori obat bahan alam, yang berfungsi untuk terapi kuratif, bukan promotif atau preventif seperti kategori suplemen makanan.80% dari konsumsi suplemen makanan Indonesia adalah impor, dan 60% darinya adalah dari Amerika Serikut. Untuk itu, bukanlah idiom kompetisi yang digunakan, melainan segmentasi. Lalu, mengapa segmen yang difokuskan di sini ? Dan, apa parameter segmen tersebut ?

Maximillian menggunakan pembanding beberapa perusahaan berkinerja terbaik 2009 versi analis bisnis Businessweek AS yang menempatkan 3 perusahaan farmasi ( definisi Maximillian) di 50 daftarnya. Kenapa Max menggunakan pembanding luar ? Ada beberapa alasan kuat, salah satunya adalah kesamaan portofolio ethical sebagai input terbesar perusahaan. Max juga sepaham dengan variabel penilaian yang digunakan Businessweek AS yaitu performa finansial inti meliputi : laba atas modal dan pertumbuhan rata- rata. Hanya saja, ini sangat kasuistik untuk iklim usaha dan karakter pebisnis di AS, apakah sama dengan Indonesia ? Tentu saja ada bedanya. Etika persaingan, metode pemasaran legal, dan goodwill penegakan hukum oleh pemerintah sebagai prasyarat kekuatan dinamis ekonomi mikro nampaknya masih belum dipenuhi secara optimal di Indonesia. Akan tetapi, pembandingan ini akan membantu untuk menjadi referensi pola bisnis farmasi ke depan, itu harapan Max.
