Bisnis Rumah Sakit Menggiurkan

Jika sebelum tahun 2005 jumlah rumah sakit (RS) tak sampai 1.000, saat ini sebanyak 2.103 RS beroperasi di negeri ini, mayoritas adalah milik swasta yang berorientasi pada profit.

Pertumbuhan RS diperkirakan akan terus melesat sebab antara demand dan supply masih jauh lebih besar demad.  Anjari Umarjianto, Juru Bicara Pehimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), mengatakan, dengan skala  satu tempat tidur di RS untuk 1.000 penduduk, artinya Indonesia masih kekurangan  40 ribu tempat tidur di RS. Uniknya, kekurangan tersebut justru terjadi di wilayah-wilayah potensial seperti Lampung Jawa Barat, Banten, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur.

“Bisnis RS terbukti sangat menguntungkan. Saya beri contoh, dari sekian banyak lini bisnis di perusahaan properti PT Lippo Karawaci Tbk., yang meneguk profit tertinggi justru bisnis RS-nya, RS Siloam. Pendapatannya melejit 45% dalam setahun lalu. Indofarma juga berencana masuk ke bisnis RS,” terang Anjari di Jakarta, Selasa (7/5).

Menurut Anjari, saat ini ada dua isu besar yang harus diperhatikan industri RS, terutama jika berbicara soal pemasaran RS.

Pertama , yakni isu seputar BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) yang mulai diberlakukan tahun 2014. Ini merupakan revolusi dunia kesehatan nasional dan akan merubah perilaku pasien. Yang dulunya menggunakan uang dari kantong sendiri, nantinya akan dijamin pemerintah. Imbasnya adalah pasien juga akan menuntut pelayanan  lebih karena merasa RS sudah dibayar pemerintah.

Isu kedua, tren informasi dan perilaku konsumen. Pasien kini lebih melek info kesehatan. Mereka akan menilai RS melalui opini media massa dan media sosial.

Anjari mengatakan, untuk menghadapi dua isu besar itu, PERSI melihat RS membutuhkan peran public relations (PR) dibanding marketing. Peran PR yang menginformasikan layanan-layanan RS, mengedukasi pasien, lebih dibutuhkan dibanding marketing yang menjual layanan-layanan RS saja. PR dianggap lebih bisa membuat pasien menjadi loyal.

Tuntutan pelayanan yang lebih terkait adanya BPJS, maka nantinya PR sebuah RS harus berorientasi kepada human interest. Mereka juga harus menjelaskan dengan baik apa keunggulan dari RS terkait (service excellence).

“Kemudian harus memaksimalkan media sosial sebagai pembentuk opini yang jitu. Harus juga ada media handling, yang meng-handle berita-berita yang buruk maupun baik juga mengatasi keluhan-keluhan yang masuk dengan baik,” tambah Anjari. (EVA)

Pranala Luar 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: