Farmasi Veteriner

Ketahanan pangan dapat terwujud apabila pangan, yaitu karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral, dapat dihasilkan di dalam negeri dengan memanfaatkan sumberdaya lokal melalui rekayasa teknologi dan inovasi baru sehingga produk yang dihasilkan mempunyai daya saing internasional. Hasil penelitian yang berupa produk biologi (bibit, vaksin, antigen, dan mikroba) maupun yang berupa informasi, rekomendasi, metode dan standar, perlu disosialisasikan ataupun dipromosikan agar dapat dikenal dan bermanfaat bagi penggunanya, yang pada gilirannya akan berdampak dan memberikan nilai tambah bagi petemak, masyarakat, serta peneliti yang bersangkutan .

Hasil penelitian pemuliaan yang berupa bibit maupun teknologi perbibitan yang dihasilkan dalam dasawarsa terakhir ini antara lain bibit itik hibrida lokal, strategi pembentukan ayam hibrida lokal, domba komposit maupun hibrida, domba prolifik, kambing persilangan, serta teknologi reproduksi. Teknologi pakan baik untuk ternak ruminansia maupun ternak non-ruminansia telah banyak dihasilkan, terutama teknologi fermentasi dan pemanfaatan mikroba lokal. Teknik ini mampu mengatasi adanya faktor anti nutrisi yang terdapat pada limbah pertanian, serta meningkatkan gizi (kadar protein) bahan pakan lokal seperti singkong (cassava). Teknik pemberian pakan yang efisien dan toleransi terhadap bahan pakan lokal yang berkualitas rendah juga telah banyak dihasilkan.Beberapa teknologi mempunyai peluang untuk dikembangkan pada skala industri, sedangkan sebagian diantaranya cocok dikembangkan pada peternakan rakyat skala kecil atau menengah.

Ouput penelitian bidang veteriner, baik berupa produk biologis seperti vaksin dan antigen, informasi, metode, dan rekomendasi telah banyak dihasilkan. Bahkan secara signifikan telah memberi kontribusi yang sangat besar dalam program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.

Beberapa hasil penelitian telah dan akan dikomersialkan atau di-patent-kan. Namun komersialisasi produk penelitian ini bukan berarti tidak berpihak kepada peternak kecil, tetapi justru untuk lebih memberdayakan peternak dalam keikutsertaannya mewujudkan ketahanan pangan produk hewani . Inovasi baru diharapkan akan meningkatkan efisiensi dalam penggunaan sumberdaya atau input serta meningkatkan efisiensi dalam menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi . Adopsi hasil penelitian melalui swasta ternyata akan lebih efektifdan efisien, karena dengan cara ini akan terjadi integaksi dan respon ekonomi yang spontan. Apabila inovasi baru yang ditawarkan memang betul terbukti menguntungkan, maka pengusaha dan petsni/peternak dengan cepat akan menerimanya. Interaksi seperti ini kadang-kadang sulit terjadi bila dilakukan melalui kelembagaan formal yang ada, bila tidak dilakukan perubahan dan perubakan yang lebih mendasar.

Ketahanan pangan dapat terwujud apabila pangan, yaitu karbohidrat, protein, vitamin, dsn mineral, dapat dihasilkan di dalam negeri dengan memanfaatkan sumberdaya lokal melalui rekaya teknologi clan inovasi baru sehingga produk yang dihasilkan mempunyai daya saing internasional . Atau paling tidak ketergantungan pada produk impor harus semakin berkurang, kecuali untuk komoditas yang kurang strategis . Dengan teknologi dan inovasi baru diharapkan akan mampu menghasilkan produk yang sesuai dengan selera pasar serta usaha dapat dilaksanakan secara lestari . Akan tetapi saat ini produk maupun input produksi industri unggas (ayam ras), sapi potong penggemukan dan sapi perah masih didominasi oleh teknologi dan komponen impor. Bibit ayam (100%), bungkil kedelai (100%), wheat pollard (100%), sapi bakalan (100%), bahan susu olahan (60-70%), obat-obatan (60-70%), serta tepung ikan dan jagung sebagian besar masih harus diimpor(PUSLITBANGNAK, 2000). Keadaan diatas kalau dicermati sebenarnyajustru merupakan peluang yang baik untuk mengembangkan agribisnis peternakan clan pertanian pada umumnya, karena pasar domestik yang sedemikian besar.
Dengan penduduk lebih dari 200 juta dan prospek perkembangan ekonomi yang memadai, akan mendorong peningkatan permintaan pangan yang berasal dari produk hewani berupa telur, daging dan susu. Apalagi saat ini rata-rata konsumsi protein hewani penduduk Indonesia masih sangat rendah, jauh dibawah rata-rata konsumsi dunia, Asia, Asia Tenggara, bahkan masih kalah dengan India yang mayoritas penduduknya vegetarian . Sebelum krisis ekonomi, dimana pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 6%, menyatakan bahwa elastisitas pendapatan terhadap permintaan produk peternakan cukup tinggi . Dengan demikian, peningkatan dan perbaikan kesejahteraan penduduk akan mendorong meningkatnya konsumsi pangan hewani tersebut . Kondisi ini harus mendapat perhatian yang seksama bila ketahanan pangan, terutama pangan hewani akan diwujudkan, yaitu kondisi mampu gizi dan daya beli masyarakat.

Usaha peternakan di Indonesia pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam empat katagori, yaitu (1) Usaha peternakan yang bersifat pre-industri, dimana usaha bersifat subsisten, semua aktivitas dilakukan oleh peternak/petani, hampir tidak ada peran organisasi pemerintah maupun swasta. Usaha seperti ini masih banyak dijumpai di daerah pedalaman dan remote, walaupun jumlahnya sudah sangat terbatas; (2) Usaha peternakan yang mulai timbul pertimbangan industri (bisnis). Disini peran pemerintah dalam banyak hal cukup dominan, dan hampir tidak ada industri swasta yang terlibat (segmen ini yang berkontribusi kepada lambatnya laju usahaternak dimasa lalu karena peran pemerintah dalam kegiatan ekonomi harus minimal/katalisator saja). Contoh dari usaha ini antara lain peternakan kerbau, peternakan ayam buras, peternakan sapi di beberapa daerah remote, peternakan kambing, dll .; (3) Usaha peternakan dalam tahap ekspansi, dimana peran pemerintah dan swasta cukup besar. Pada tahap ini peran pemerintah dalam hal litbang cukup dominan, walaupun swasta sudah tertarik untuk berusaha, seperti Contoh dalam usaha peternakan sapi perah, domba, itik, dll .; dan (4) Usaha peternakan pada tahap industri yang matang, dimana peran swasta sangat dominan serta mereka telah mampu mengembangkan litbang untuk mendukung usahanya. Disini peran pemerintah hanya sebatas pada kegiatan fasilitasi, koordinasi, dan (de)regulasi. Contoh yang paling aktual adalah agribisnis ayam ras, petelur maupun pedaging.

Kondisi tersebut di atas, jika ditelaah berdasarkan teori farm business maka dapat dikelompokan menjadi 3 tahapan, yaitu: tahap entry, tahap growth, dan tahap exit. Pertama, tahap entry akan menentukan apakah biaya produksi suatu usaha sejenis sudah sama atau dibawah rata-rata biaya produksi pemain yang sedang berlangsung, bila tidak sebenarnya jangan dipaksakan untuk survive, karena akan melanggengkan inefisiensi (banyak program pemerintah yang masuk dalamkategori ini dimasa lalu). Tahap ini menjadi semakin sulit bila pemerintah akan segera komit dengan perdagangan bebas tanpa reserve . Kedua, tahap growth adalah mereka yang responsive terhadap dinamika permintaan terhadap produk yang dihasilkan melalui market intelligent, product differentiation, dan berorientasi kepada teknologi baru (baik cost saving technology maupun output increasing technology) disini peran jenis dan varian teknologi (Badan Litbang) sangat strategis.Ketiga, tahap exit adalah dimana manajemen telah mempertimbangkan beralih produk atau diversifikasi usaha dalam rangka meningkatkan economies of scale (misalnya peternak domba yang beralih menjadi peternak sapi, yang kemudian beralih lagi kepada usaha retailer dan seandainya) . Semuanya ini semata-mata didasarkan kepada risk management strategies dari masing-masing usaha (production risk,.price risk, market risk, tuntutan ekologis, green products dan sebagainya, termasuk unsur ketidak-pastian/uncertainty).
Berdasarkan landasan teori tersebut (pada prakteknya juga benar adanya), pengembangan industri peternakan tetap harus mengikuti asas consumers behavior dan theory of the firm. Tentang kecukupan gizi adalah keinginan pemerintah yang harus dipenuhi prakondisinya (kesejahteraan, meliputi kemampuan/daya beli/preferensi konsumen) yang tidak boleh ditargetkan sefihak. Perlu dicatat bahwa salah satu tolok ukur kesejahteraan adalah proporsi konsumsi karbohidrat dan protein. Masyarakat kita secara umum (sebahagian besar) mengkonsumsi karbohidrat lebih dari 60% pangsa pendapatannya, dibandingkan dengan negara maju yang hanya mengkonsumsi karbohidrat kurang dari 20%. Dengan demikian, kemajuan industri peternakan akan tergantung kepada usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat yang akan menentukan permintaan produknya . Teknologi dan pilihan jenis maupun segmen usaha oleh para produsen hanya merupakan elemen strategi berusaha, dalam rangka entry-growth-exit .

Komplemen terhadap pemikiran ini adalah kemampuan derajat keunggulan kompetitif (dengan industri lain di dalam negeri) dan komparatif (dengan negara lain) yang merupakan pra-kondisi lain yang harus dipertimbangkan seandainya strategi kedepan juga termasuk meningkatkan devisa (melalui ekspor) . Menentukan apakah suatu usahaternak merupakan single enterprise atau elemen dari general farm business dapat dilihat dari struktur dan share biaya produksi dan kontribusinya terhadap return-on-investment, return-to-management, bahkan benefit (primary dan secondary) dan cost consideration

Ayam kampung misalnya, saat ini mempunyai pangsa pasar tersendiri baik dari segi kualitas, kuantitas, harga, pemasaran dan cara penyajian . Ayam kampung (potong) yang seragam (bentuknya) akan ditolak oleh konsumen atau akan memperoleh harga yang lebih rendah. Permintaan produk ayam kampung volumenya tidak terlalu besar, tetapi kuantitasnya dari waktu ke waktu cenderung terus meningkat. Harga persatuan unit telur dan daging ayam kampung jauh lebih tinggi dibandingkan ayam ras, serta fluktuasi harganya tidak sebesar produk ayam ras. Hal ini disebabkan antara lain karena peningkatan produksi tidak dapat diakselerasi dengan cepat. Pemasaran atau harga telur ditetapkan dengan butir bukan berat, dan justru telur yang kecil dan berwarna tertentu yang dikehendaki konsumen. Telur ayam kampung juga diakui mempunyai khasiat tertentu, sehingga konsumsi dilakukan dengan cara dimasak setengah matang atau mentah.

Keunikan dan hal yang `aneh’ tersebut juga dijumpai pada produk dan komoditas (telur) itik,sapi potong (sapi lokal harganya jauh lebih tinggi dari sapi ex impor), dan dombo/kambing. Disini terlihat bahwa komoditas lokal tersebut telah membentuk pasar tersendiri, yang dibarengi dengan keunikan resep makanan dari berbagai wilayah Indonesia. Sehingga tidak mengherankan bila ada sebagian konsumen justru menghendaki daging sapi yang liat, telur ayam yang kecil, ayam potong yang tidak seragam (warna dan fenotipanya), dlsb. Keinginan pasar ini secara klasik telah direspon dengan baik oleh peternak, sehingga untuk meningkatkan daya saing dan perkembangan agribisnis komoditas tradisional tersebut tidak perlu dilakukan dengan merubah kemauan konsumen. Justru disinilah keunggulan peternak kecil yang sulit untuk disaingi oleh produk impor. Karena agrisbisnis seperti ini sebagian besar berada di lingkungan masyarakat bawah maka sudah selayakaya pemerintah membantu dalam mengembangkan inovasi baru, sehingga usaha ini dapat lebih efisien,produktif, dan menguntungkan produsen maupun konsumen.

Namun ke depan harus diantisipasi perkembangan sistem agribisnis petemakan yang lebih banyak diwarnai oleh kemajuan atau perkembangan teknologi dan inovasi modem serta perubahan dalam tataran global . Hal ini akan menentukan arah, tujuan dan sasaran penelitian, karena penelitian harus bersifat antisipatif Sebagian masyarakat dari beberapa negara maju mulai menghendaki produk yang lebih alamiah, yaitu produk petemakan yang bebas dari residu antibiotik, hormon,pestisida, atau bahan imbuhan lainnya. Bahkan sebagian masyarakat Eropa telah mulai mengkampanyekan untuk mengkonsumsi pangan yang berasal dari ternak yang dipelihara dengan memperhatikan kesejahteraan hewan (animal walfare), dan menolak produk hasil rekayasa genetik. Hal-hal ini harus benar-benar diwaspadai dan dicermati, walaupun saat ini konsentrasi pembangunan petemakan di Indonesia masih kearah inward looking . Sasaran utama kita adalah meningkatkan produktivitas temak secara efisien melalui inovasi baru, sehingga ketahanan pangan asal ternak dapat segera diwujudkan.
Oleh karena itu teknologi dan inovasi baru yang akan dihasilkan harus mengantisapasi perubahan yang akan terjadi, kondisi pasar domestik maupun pasar global, ketersediaan sumberdaya lokal, kondisi sosial-budaya masyarakat, serta masalah lingkungan. Mengingat kondisi di Indonesia berbeda dengan Eropa, Amerika maupun Australia karena keterbatasan sumberdaya lahan (di Jawa- Bali), sumberdaya pakan, kualitas SDM, permodalan dan teknologi, maka pengembangan ternak pola integrasi (vertikal maupun horizontal) melalui pendekatan zero wuste merupakan salah satu alternatif yang harus diperhatikan. Pengembangan ternak juga harus merriperhatikan lingkungannya, sehingga alternatif penggunaan teknologi (terutama bibit) harus dipilah berdasarkan low-mediumhigh production input environment, karena adanya interaksi genotipe dengan lingkungan . Pengembangan sapi potong untuk menghasilkan bakalan misainya, akan kompetitif bila didasarkan pada sistem LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) . Akan tetapi industri penggemukannya dapat dilakukan dengan sistem high input dan high capital.

Beberapa pengalaman empiris menunjukkan bahwa pola integrasi crop-livestock system telah mampu meningkatkan efisiensi dalam penggunaan sumberdaya. HARYANTO el ul. (1999) melaporkan bahwa integrasi sapi di areal persawahan telah terbukti dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, menekan biaya pakan, dan meningkatkan pendapatan petani/petemak . Kondisi ini akon mendorong petani untuk ‘meningkatkan produksi padi dan hasil ternak, yang pada gilirannya akan mampu mewuudkan ketahanan pangan di setiap daerah maupun secara nasional.
Peternakan Unggas
Usaha peternakan syam ras sudah merupakan industri yang sangat maju, yang hampir setara dengan perkembangan industri serupa di negara Eropa maupun Amerika Utara. Keperluan teknologi untuk agrisbisnis ayam ras sebagian besar disediakan oleh swasta dan masih berasal dari impor, seperti bibit, obat-obatan, perlengkapan alsintan, komponen utama pakan, dll . Mengingat budidaya peternakan ayam ras juga melibatkan peternak kecil, maka pemerintah dapat membantu dalam menyediakan teknologi veteriner dan substitusi pakan. Teknologi veteriner sangat strategis, karena isolat lokal akan mampu menghasilkan vaksin yang jauh lebih efektif dibandingkan dengan vaksin impor. Sementara itu ketergantungan dari komponen impor (bungkil kedelai dan tepung ikan) sebagian dapat disubstitusi dengan bahan lokal setelah diproses dengan teknologi fermentasi yang mudah, murah, dan layak dikembangkan.Oleh karena itu teknologi yang diperlukan adalah yang terkait dengan bibit, pakan,budidaya (reproduksi), dan veteriner. Teknologi yang dikembangkan mengarah pada optimalisasi penggunaan sumberdaya lokal dan memaksimalkan profit. Namun dalam jangka panjangnya tidak menutup kemungkinan untuk mengarah pada perkembangan teknologi atau inovasi baru untuk menghasilkan produk eksotik untuk tujuan ekspor (pangan hewani yang lebih `alamiah’).
Ruminansia
Ternak ruminansia kecil, kambing dan domba, hampir seluruhnya diusahakan oleh peternak kecil di pedesaan maupun perkotaan . Hanya ada beberapa pengusaha yang secara khusus mengembangkan bisnis penggemukan, walaupun nuansa dagangnya lebih dominan. Oleh karena itu keperluan teknologi untuk mendorong perkembangan sistem agribisnis kambing/domba dan mewujudkan ketahanan pangan produk hewani meliputi seluruh aspek budidaya, pasca panen dan pemasaran .

Usaha peternakan sapi potong maupun sapi perah di Indonesia sebenarnya masih didominasi oleh peternakan kecil, kecuali usaha penggemukan dan industri sapi di beberapa kawasan di Jawa Barat, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY. Teknologi maupun inovasi baru yang dapat membantu untuk mengakselerasi perkembangan usaha ini adalah yang terkait dengan pengadaan pejantan unggul (proven bull), replacement stock pada sapi perah, teknologi reproduksi, rekayasa pakan pola integrasi, teknologi veteriner serta pasca panen dan pemasaran. Sementara itu, untuk kerbau penelitian yang diperlukan mengarah pada terciptanya teknologi konservasi dan veteriner.

Sumber :
Pusat Penelitian Peternakan, Jalan Raya Pajajaran Kav. E-59, Bogor 16151

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: