The Unethical of Ethical

conspiracy-21

So, you still thinking that the pharmacist as good as medical doctor, huh ? Get out from the position pleasee…I just want to share my point of view which is come from the “body of real business” in pharmacy industry. Here is the copy of interview between Businessweek Indonesia and Francis Wanandi, Marketing Director of PT. Combiphar Indonesia :

[?] Kalau di negara maju, kategori mana yang lebih lebih banyak, obat ethical atau obat bebas ( OTC : Over The Counter ) ?

[+] Tetap lebih besar obat ethical, bahkan hingga 80%.

[?] Obat ethical itu kerap disebut unethical…Kenapa bisa begitu ?

[+] Di bisnis farmasi, ada satu moral isu ketika kami harus memberikan ketenangan pada pasien bahwa obat yang kami produksi bisa memberikan kesembuhan. Tapi di sisi lain kami juga harus melihat profitabilitas dan adanya persaingan di antara mereka yang bergerak di industri farmasi. Persaingan inilah yang kerap menyebabkan industriawan farmasi melakukan berbagai cara agar produk mereka diperhatikan.

[?] Lalu, kunci suksesnya apa ?

[+] Karena obat ethical ini tidak bersentuhan langsung dengan konsumen tapi harus melalui dokter, kunci sukses pemasaran obat ethical ada di dokter. Karena kuncinya hanya dokter, kerap terjadi bermacam cara untuk meyakinkan sang dokter agar mau menggunakan obat tersebut.

[?] Cara yang paling manjur yang pernah Anda lakukan apa ?

[+] Salah satunya menjadi sponsor bagi dokter. Misalnya untuk edukasi, trip visit, biaya liburan keluarga, dan lain sebagainya.

[?] Berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk sponsorship seperti itu ?

[+] Di Indonesia, biaya sponsorship obat mencapai 40%- 50% dari harga obat. Ini berbeda dengan di negara maju. Di sana, biaya sebesar itu justru digunakan untuk kepentingan litbang.

Hahaha…So now you can see it, right ? Being a business player is always good. The way we think are so complicated and sly, so that credo is’nt always have singular meaning….I will try to picture the drugs selling scheme in my mind, do you mind ? Hope that you can learn it, here it is :

drugs-selling-scheme1


picture : cartoonstock

article  : maximillian

scheme : maximillian

interview : Businessweek Indonesia 24 December 2008 ( maximillian’s collection)

sponsored by : maximillian’s company

NB : If you want to know the consumers opinion, you can click in Media Konsumen. My opinion as business owner, so I’m neutral, so sorry ^_^

13 comments

  1. jadi di negara maju rekomendasinya bukan lewat dokter atau gimana, kok bisa 40-50% itu buat litbang, bukan buat dokter?

  2. mohon bantuanya proses cepet pengurusan surat izin apotek.

  3. Putri

    Ini yang membuat harga obat menjadi mahal…, karena sudah melewati jalur promosi dan distribusi panjang.
    Yang rugi = pasien…

  4. industry farmasi Indonesia adalah industry assembling bukan research, sehingga Indonesia cendrung menjadi tong sampah obat-obat yang sudah jarang dipakai di negeri aslinya…., hak patent habis, baru bisa diproduksi oleh industri Indonesia. padahal usia hak patent suatu obat research mencapai 10-20 tahun, jadi sekian tahunlah kita ketinggalan dan sebagai konsekensi adalah market obat di Indonesia dipenuhi obat-obat lawas yang sudah ketinggalan jaman…., strategy penjualan yang pasti hanya ada di harga, harga dan harga yang selalu terkait dengan alokasi dana untuk marketing (sponsorship) bagi user ethical dan aturan jelas-jelas menulis obat ethical harus dibeli dengan resep dokter…, sehingga market obat ethicalpun ada di benak dokter, semua field force pharmaceutical industry ter focus pada doctor mind influence agar produknya diresepkan, dengan segala macam cara, disinilah terbuka peluang korupsi dan kolusi. tapi jangan harap penegak menemukan pratek korupsi di dunia marketing farmasi karena mereka bermain sangat rapi yang didasari kesepakatan. padahal apa diungkap diatas (40-50% alokasi dana untuk sponsorship) adalah sangat rasional terjadi di Indonesia, bahkan angka itu mungkin masih sangat kecil…..so…pasienlah yang menjadi korban,baik unpredictable side efect dari obat-obat lawas maupun harga yang gila-gilaan untuk ukuran obat lawas…., bandinkan dengan obat generic (amoxicillin dengan branded nya)….kasihan pasien, kasihan masyarakat Indonesia.

  5. Mr. Setiawan

    I have realized it a moment ago that our Pharmacy Industry like tailor Industry. So..what next? We can’t make it better if we only talk each other. So Max… U’r a person that can make ideas to be reality (Who’s The Writer). This good, very good. Can you imagine How does Indonesia can have Pharmacy Industry with Scientific Based, Knowledge based, Idea Based? Or How does Indonesia make marketing of ethical become ethic. Let’s share our idea and make a new Indonesia

  6. fakhria

    Yup,
    and i think i would be proud of my self as i’m a pharmaceutical scientist, entah kenapa ga pengen ngurusin obat2an yang di apotek,,ga terlalu pengen punya pabrik juga.. sukanya jadi dosennn…haha..
    (jadi curhat gini, maksud km apa fah..) maksudnya pengen jadi dosen yang mencerdaskan calon pharmacit Indonesia..
    ngopi paste “Let’s share our idea and make a new Indonesia”

  7. yah kalau bicara obat sebagai komoditas dagang, obat itu sama saja dengan produk pasaran lainya, butuh laku buat dijual, akhirnya habis2an di marketing..
    padahal kita tau sendiri obat punya sifat sosial menyembuhkan orang (hingga harusnya tidak mahal, berhubung juga Indonesia negara berkembang dan kebanyakan di bawah garis kemiskinan) dan karakteristik obat sendiri tidak sesimpel produk kacang, ada efek samping, ada indikasi, ada dosis, dll..
    Kapan industri farmasi bs based on riset? memang butuh proses dan cost yang besar, tidak bisa sekali jadi..yang paling penting ada dulu ga yg mau buat seperti itu?
    mau? yuk!😀
    urusan nantinya laku ga laku, itu masalah strategy target pasar, bisa ga buat blue print kira2 puluhan tahun ke depan apa yang dibuthkan pasar, klo udah terbayang, mari riset dari sekarang..

  8. Ping-balik: Selama ini Kukira Marketing Hanyalah Pekerjaan Salesman yang Ngetok-Ngetok Pintu, Ternyata.. « Fakhria Itmainati

  9. aga

    Thanks for de scheme… lagi males bikin.. hehehe…
    selanjutnya mau nyari scheme produksi obat… ada gak ya….?

  10. [Di Indonesia, biaya sponsorship obat mencapai 40%- 50% dari harga obat. Ini berbeda dengan di negara maju. Di sana, biaya sebesar itu justru digunakan untuk kepentingan litbang.]

    eugh😦, gimana riset obatnya nggak ketinggalan.. masih peradaban berburu meramu memang

  11. Akhmad Chairul Latief

    I’ve been there sir. Cuma informasi aja, harus ada good intention dari pemerintah untuk memperbaiki kondisi di Indonesia. Harus ada regulasi yang jelas, dan penegakan hukum yang jelas juga. Sebab fenomena insentif untuk dokter sudah umum terjadi, dan ini merugikan pasien, bahkan industri itu sendiri. Kepentingan memperkaya diri sudah jelas terbuka bagi dokter yang mau bekerja sama.

  12. Mardon

    Klo begitu berarti pemilihan obat secara objektif, yg bener2 liat dari kualitas obatnya, profil farmakokinetik, dan tektekbengeknya sudah mulai dipertanyakan dong,, Klo gitu, ntar pertimbangan pemilihan obatnya adalah siapa yg bisa ngasi sponsorship paling gede dong,,
    Btw, kenapa sih disebut obat ethical ? apa ada kaitannya dengan etis atw etik ? sebelah mana etis nya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: