Best Performance Company Benchmark

stepsMaximillian menggunakan pembanding beberapa perusahaan berkinerja terbaik 2009 versi analis bisnis Businessweek AS yang menempatkan 3 perusahaan farmasi ( definisi Maximillian) di 50 daftarnya. Kenapa Max menggunakan pembanding luar ? Ada beberapa alasan kuat, salah satunya adalah kesamaan portofolio ethical sebagai input terbesar perusahaan. Max juga sepaham dengan variabel penilaian yang digunakan Businessweek AS yaitu performa finansial inti meliputi : laba atas modal dan pertumbuhan rata- rata. Hanya saja, ini sangat kasuistik untuk iklim usaha dan karakter pebisnis di AS, apakah sama dengan Indonesia ? Tentu saja ada bedanya. Etika persaingan, metode pemasaran legal, dan goodwill penegakan hukum oleh pemerintah sebagai prasyarat kekuatan dinamis ekonomi mikro nampaknya masih belum dipenuhi secara optimal di Indonesia. Akan tetapi, pembandingan ini akan membantu untuk menjadi referensi pola bisnis farmasi ke depan, itu harapan Max.

logo-gilead


Gilead Sciences membukukan pendapatan 2 miliar US$ atas penjualan 5,3 miliar US$ dalam 12 bulan terakhir. Sebagian besar kesuksesan Gilead berkat upaya mereka mempermudah pasien menjalani perawatan yang selama ini rumit dan tidak menyenangkan. Gilead adalah salah satu perusahaan pertama yang mengeluarkan pil sekali minum, menggantikan koktail yang dimasukkan urat nadi. 2008, tiga obat HIV teratas Gilead menyumbang 84% dari total penjualan produk. Kini, 8 dari 10 pasien yang didiagnosis HIV di AS mengonsumsi produk Gilead, dan akan tetap mengonsumsinya selama bertahun- tahun.

Jika dilihat dari potensi market, para dokter memperkirakan di AS saja, 56.000 orang terinfeksi penyakit ini tiap tahunnya, dan 50% dari mereka dalam perawatan. Gilead melakukan ekspansi ke pengguna dengan karakter penyakit yang hampir sama, semacam Hepatitis B. Hepsera, salah satu portofolio Gilead, menghasilkan penjualan senilai 341 juta US $ pada 2008. Bagi para produsen obat- obatan di AS, kelompok pasien ini sangat prospektif karena hampir dua kali lipat populasi HIV di AS, dan hanya 3% yang diobati. Jenis penyakit lain, Hepatitis C, pasar obatnya bisa mencapai 4 miliar US $ sampai 5 miliar US $ pada 2015. Seperti HIV, penderita penyakit ini butuh obat kombinasi untuk perawatan.

Lalu, bagaimana dengan sustainability outlook Gilead kedepan ? Resesi tentunya sangat berpengaruh terhadap daya beli konsumen, namun nampaknya Gilead tidak akan terlalu terpengaruh, apa pasal ? Fokus Gilead untuk penyakit menular yang sukar disembuhkan adalah inti kekuatan mereka mempertahankan loyalitas pasar. Berbeda dengan hipertensi dan radang, pasien HIV yang gagal mengikuti terapi pengobatan bisa dihadapkan pada berbagai konsekuensi mengerikan, jika melewati dosisnya, virusnya akan bermutasi, resisten, dan obatnya tidak akan efektif lagi. Sebuah loyalitas konsumen yang didasari pada kepatuhan terhadap pola terapi, menarik sekali bukan ?

Opini Max

Baik, apa alasan menggunakan Gilead  sebagai target benchmarking ? Kesamaan portofolio ( ethical) dan rantai distribusi ( minus jejaring dokter) adalah latar belakang Max memilih mereka, selain dari daftar 50 Best Performance Company US Businessweek yang termasuk dalam kategori bisnis farmasi ( obat, kosmetik- toilettries, makanan fungsional) adalah hanya dua perusahaan tersebut.

Max fokus pada Gilead untuk menjadi pembanding bagi beberapa perusahaan yang masuk dalam 10 besar pangsa pasar lokal Indonesia. Strategi Gilead Sciences untuk fokus pada segmen pasien dengan terapi penyakit khusus semacam AIDS dan Hepatitis membuat pangsa pasar mereka menjadi sangat spesifik ( niche) namun memiliki net profit tinggi dan sustainability tinggi. Kekuatan ini ditunjang dengan pembelanjaan kapital tinggi untuk riset produk semacam ini, mereka juga akan menggelontorkan sejumlah 1,4 miliar $US untuk membeli CV Therapeutics, pengembang obat- obatan kardiovaskuler, pasar yang sangat potensial, karakternya sama dengan AIDS dan Hepatitis. Dari sisi market, daya beli pasien AS memang mampu menjangkau high end price yang disodorkan oleh Gilead, ini yang menjadi variabel pembeda dengan Indonesia, daya beli jauh lebih rendah dibandingkan dengan end price yang ditawarkan oleh produsen.

Strategi semacam Gilead ini nampaknya mampu dilaksanakan oleh lima besar perusahaan farmasi Indonesia yang menjadi penguasa pangsa pasar ethical maupun OTC. Captive market pada ethical memang harus dipertahankan, namun jika ada alokasi pembelanjaan kapital untuk inovasi produk, itu akan membuka pangsa pasar baru. Obat herbal nampaknya bukan pilihan yang tepat, karena akan masuk ke OTC, tidak percaya ? Baik, peluncuran produknya mudah, namun membuat dokter percaya bahwa fitofarmaka bisa diresepkan ke pasien mereka, itu pilihan yang peluangnya saat ini kecil untuk dilakukan, infrastruktur pendidikan kedokteran Indonesia nampaknya belum mengakomodasi fitofarmaka sebagai ethical. Intinya, apapun inovasi produk dari perusahaan yang punya nafas panjang untuk membelanjakan kapitalnya pada divisi litbang, harus tetap pada kategori ethical, bukan begitu ?

Opinion by : Maximillian

Data taken from : Businessweek Indonesia 08 ed. April 2009 ( Max’s collection)

3 comments

  1. kalo di indonesia apa yah?
    kan banyak industri yang serupa

  2. emsan ganesa

    Maaf, saya telat tau ttg blog anda, tetapi saya tertarik dengan data sumber daya alam yang berhasiat sebagai obat, saya berharap anda bersedia membagi informasi tersebut terutama mengenai potensi volume yang tersedia di Indonesia, kebutuhan dunia, kebutuhan Indonesia sendiri serta volume dan nilai ekspor dan impornya (maaf,maaf,maaf, belum kenal aja sudah minta banyak apa boleh ya?).
    tq banget, whatever your response would be very much appreciated (ikut2an berbahasa English dikit boleh ya, kalau salah sekalian dikoreksi please.)

  3. emsan ganesa

    tadi lupa tq loh, maklum buru2 pengen dapet data, sorry,
    makasih banyak ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: