Merjer Strategis ( Halah !!!)

big_merger

Masa depan perusahaan farmasi bergantung pada daftar obat- obatan yang mereka harap bisa dikeluarkan dari lab dan dipasarkan lewat jejaring apotek sebelum obat putaran sebelumnya kehilangan daya jual. Namun gelombang merjer farmasi baru- baru ini bukan pertanda baik untuk proses penggantian tersebut. Divisi penelitian dan pengembangan menjadi satu- satunya bagian dari perusahaan farmasi yang tidak pernah berjalan mulus dalam mekanisme megamerjer.

Akuisisi Merck atas Schering- Plough seharga US $ 41 miliar akan mendongkrak laba bersih selama 2- 3 tahun mendatang, seperti rencana pembelian Pfizer atas Wyeth senilai US $ 64 miliar. Memperbesar litbang tidak berarti membuatnya menjadi lebih efisien, itu menurut Dr. Joseph Schlessinger, ketua departemen Farmakologi di Yale University School of Medicine yang juga pendiri tiga perusahaan bioteknologi farmasi.

Coba kita tengok ke belakang, industri farmasi telah diubah dengan sejumlah operasi megamerjer selama 15 tahun terakhir. Namun faktanya, semakin besar perusahaan, semakin sedikit pula inovasi produk obat baru yang mereka hasilkan. Untuk unit litbang saja, pada 2008, akumulasi belanja riset perusahaan farmasi AS menghabiskan US $ 65,2 miliar. Sementara pada 2002 nilai belanjanya hanya US $ 36 miliar. Banyak alasan yang bisa dijadikan pembenaran, nyatanya hanya delapan obat yang benar- benar turun ke pasar tahun lalu, jumlah ini sama dengan separuh dari tahun 2001. Pfizer malah sudah membelanjakan lebih dari US $ 60 miliar untuk litbang sejak 2000, tapi fakta bicara bahwa mereka belum menghasilkan satu pun dari lab mereka sendiri.

Schlessinger berpendapat lagi bahwa merjer akan membuat kebijakan riset internal bisnis perusahaan juga berubah, setelah merjer, peneliti di Merck, Pfizer, Wyeth, dan Schering akan berhenti berpikir kecuali satu hal, ” Apa yang akan terjadi pada diriku ?”.

Merjer BUMN Farmasi Indonesia, Defensif ? ( Opini Max)

Karakter perusahaan farmasi di AS dan Indonesia berbeda jauh, terutama pada alokasi pembelanjaan kapital untuk penelitian dan pengembangan. Melihat 80% pangsa pasar masih dipegang oleh ethical ( which is unethical ?), dan sisanya baru diperebutkan oleh OTC yang berdarah- darah untuk berlaga iklan, nampaknya divisi riset dan pengembangan bukanlah prioritas. Marketing dan distribusi masih akan menyedot pembelanjaan kapital setiap termin tahunan.

Lalu, dari segi keberlanjutan bisnis farmasi dua BUMN yang akan dimerjer ( Indofarma- Kimia Farma) dengan Phapros, apa pendapat Maximillian ? Kalau dilihat dari performa bisnis ketiga perusahaan tersebut dari segi profitabilitasnya, kami yakin pembaca juga sudah mampu menarik hipotesa awalan, apakah merjer ini defensif atau memang strategis.

Penjualan bersih Kimia Farma yang mencapai Rp1,5 triliun, hanya mampu menghasilkan laba bersih Rp40,5 miliar per kuartal ketiga 2007. ( Sales Turnover : 0,027 %. Max)

Sedangkan Phapros pada periode yang sama meraih laba bersih Rp16,7 miliar dari penjualan bersih yang hanya Rp186,7 miliar dan sampai 31 Desember 2007 mencapai Rp52 miliar. ( Sales Turnover : 0,27 % Max)

Pangsa pasar ketiga BUMN itu hanya 7,2 persen saja dan sangat sulit ditingkatkan untuk bisa mengungguli industri farmasi swasta yang mengandalkan penjualannya pada obat bermerek. Sementara penjualan ketiga BUMN itu sekitar 72 persennya justru berasal dari obat generik dengan keuntungan yang tipis.

data-lokal1

Porsi penjualan obat generik Phapros hanya 25,7% ( Overall Margin 9,1 %), Kimia Farma 58,3% ( Overall Margin 2,7 %) dan Indofarma 84,1% ( Overall Margin 1,8 %).

Jika alasan merjer adalah untuk efisiensi melihat bahwa bahan baku 90% adalah impor dan kebijakan obat generik kedepannya harga tidak berubah, maka merjer Indofarma- Kimia Farmasi adalah bentuk strategis. Namun jika akan dimerjer lagi dengan Phapros, maka akan menjadi merjer defensif, apalagi selain melihat proporsi portofolio generik yang timpang, merjer tersebut akan mempengaruhi profitabilitas Phapros.

Hal lain yang harus menjadi pertimbangan adalah produktivitas internal bisnis perusahaan, aspek know how dan budaya perusahaan yang berbeda. Dalam jangka panjang, akan sangat berpengaruh terhadap performa perusahaan, kecuali ada knowledge management yang cepat, tepat, dan akurat dari pembuat kebijakan bisnis yang baru, dan pastinya itu butuh kerja keras luar biasa, mengingat ini adalah perusahaan BUMN ( yang kita tahu sendiri bagaimana budaya perusahaannya, bukan begitu ? –No heart feeling yaa…^_^)

Kuncinya pada efisiensi divisi produksi dan efektivitas divisi pemasaran- distribusi. Ujung tombak produk farmasi Indonesia jelas bukan pada riset dan pengembangan, fakta lapangan yang bicara. Maximillian melihat bahwa sebuah sistem organik perusahaan berkinerja kompleks semacam bisnis farmasi tetap kuncinya pada kapasitas manusia, jika memang berharap bahwa bisnis tersebut akan memiliki nafas panjang.

Data taken from :

Indonesia Businessweek 1-8 April 2008 ( Maximillian’s collection)

www.inilah.com

Picture taken from :

here

Personal opinion by :

Maximillian- Heartwood

Sponsored by :

Maximillian’s private company

2 comments

  1. wagenugraha

    Asslkm mas Galih wah tulisan yang sangat menarik…
    memang sekarang ada kecenderungan merger dalam industri global termasuk farmasi. Karena ujung tombak bisnis farmasi salah satunya adalah menghasilkan obat baru yang laris dipasaran, dimana untuk menghasilkannya dibutuhkan waktu yang lama dan riset yang mahal, maka banyak para CEO yang membeli perusahaan-perusahaan farmasi yang lain. Klo menurut analis Business week kelemahan jangka panjangnya adalah riset hasil merger yang kurang “tajam”.
    Good Job mas Galih….btw resensi The Outlier nya mas Galih sudah menulis? saya jadi tertarik juga baca buku-bukunya Malcolm Galdwell dari artikel Competitive Intelegent Mas Galih🙂
    Salam

  2. joe

    kayaknya masih maju mundur merjer BUMN-nya, mas. tergantung situasi politik😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: