Maximillian

Arsip untuk ‘Uncategorized’ Kategori

The Unethical of Ethical

In Market Review, Service Area, Supply Chain, Uncategorized on Januari 21, 2009 at 00:00

conspiracy-21

So, you still thinking that the pharmacy as good as medical doctor, huh ? Get out from the position pleasee…I just want to share my point of view which is come from the “body of real business” in pharmacy industry. Here is the copy of interview between Businessweek Indonesia and Francis Wanandi, Marketing Director of PT. Combiphar Indonesia :

[?] Kalau di negara maju, kategori mana yang lebih lebih banyak, obat ethical atau obat bebas ( OTC : Over The Counter ) ?

[+] Tetap lebih besar obat ethical, bahkan hingga 80%.

[?] Obat ethical itu kerap disebut unethical…Kenapa bisa begitu ?

[+] Di bisnis farmasi, ada satu moral isu ketika kami harus memberikan ketenangan pada pasien bahwa obat yang kami produksi bisa memberikan kesembuhan. Tapi di sisi lain kami juga harus melihat profitabilitas dan adanya persaingan di antara mereka yang bergerak di industri farmasi. Persaingan inilah yang kerap menyebabkan industriawan farmasi melakukan berbagai cara agar produk mereka diperhatikan.

[?] Lalu, kunci suksesnya apa ?

[+] Karena obat ethical ini tidak bersentuhan langsung dengan konsumen tapi harus melalui dokter, kunci sukses pemasaran obat ethical ada di dokter. Karena kuncinya hanya dokter, kerap terjadi bermacam cara untuk meyakinkan sang dokter agar mau menggunakan obat tersebut.

[?] Cara yang paling manjur yang pernah Anda lakukan apa ?

[+] Salah satunya menjadi sponsor bagi dokter. Misalnya untuk edukasi, trip visit, biaya liburan keluarga, dan lain sebagainya.

[?] Berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk sponsorship seperti itu ?

[+] Di Indonesia, biaya sponsorship obat mencapai 40%- 50% dari harga obat. Ini berbeda dengan di negara maju. Di sana, biaya sebesar itu justru digunakan untuk kepentingan litbang.

Hahaha…So now you can see it, right ? Being a business player is always good. The way we think are so complicated and sly, so that credo is’nt always have singular meaning….I will try to picture the drugs selling scheme in my mind, do you mind ? Hope that you can learn it, here it is :

drugs-selling-scheme1


picture : cartoonstock

article  : maximillian

scheme : maximillian

interview : Businessweek Indonesia 24 December 2008 ( maximillian’s collection)

sponsored by : maximillian’s company

NB : If you want to know the consumers opinion, you can click in Media Konsumen. My opinion as business owner, so I’m neutral, so sorry ^_^

Nilai Ekspor Indonesia

In Uncategorized on Februari 16, 2007 at 13:54

Ekspor

Tahun 2004, nilai ekspor perusahaan farmasi Indonesia lebih dari US $ 200 juta. Pasar ekspornya bukan hanya sekitar kawasan Asia, ekspor juga sudah dilakukan di kawasan Afrika, seperti Nigeria. Di Nigeria, lima perusahaan farmasi Indonesia memasok dengan nilai sekitar US$ 20 juta hingga US$ 30 juta setahun. Dan negara sasaran ekspor ini terus ditingkatkan.

Sebagai gambaran, pada tahun 2001 lalu jumlah ekspor obat Indonesia mencapai US$ 71,61 juta, diekspor ke 59 negara. Jumlah perusahaan yang memberikan kontribusi ekspor sebanyak 26 perusahaan. Tahun 2002 partisipasi perusahaan farmasi yang mengekspor produksi bertambah menjadi 31 perusahaan. Saat itu jumlah kumulatif nilai ekspor mencapai US$ 97,98 juta yang disebar ke 71 negara tujuan ekspor. Tahun 2003 jumlah perusahaan pengekpor berkurang menjadi 29 perusahaan, namun jumlah negara tujuan bertambah menjadi 89 negara dengan nilai ekspor mencapai US $ 98 juta. Tahun 2004 jumlah kumulatif ekspornya naik menjadi US$ 101,5 juta yang didukung oleh 37 perusahaan, namun jumlah negara tujuan malah berkurang menjadi 62 negara.

 

pabrik.jpg

Tukang Jahit ?

In Uncategorized on Februari 16, 2007 at 13:26

Industri Farmasi; Lingkaran Tukang Jahit

guinea_-_006_-_tailor.jpg

Fluktuasi jumlah negara tujuan dan banyaknya perusahaan pengekspor menunjukkan sebenarnya peluang untuk ekspor sangat terbuka bagi perusahaan farmasi Indonesia. Apalagi jika dilihat dari kecenderungan ekspornya yang terus naik. Masalahnya, industri farmasi Indonesia belum juga beranjak dari dulu, yakni sebagai tukang jahit, alias produksinya memang terus meningkat tetapi itu tidak lebih sebagai produk pesanan dari perusahan- perusahaan farmasi dunia yang memindahkan produksinya ke negara Indonesia.

Untuk meningkatkan derajat dari status ”tukang jahit” ini memang bukan urusan mudah, bagaimanapun juga perusahaan farmasi adalah bentuk diferensiasi dari bisnis, banyak komponen yang harus dimiliki mulai dari pasar, daya beli lokal, riset komprehensif dan stabil, bahan baku lokal, hingga kualitas SDM dan teknologi yang dikendalikan, sungguh sangat tidak murah.

 

 

Pangsa Pasar Farmasi Indonesia

In Uncategorized on Februari 10, 2007 at 06:33

Sebagai upaya menekan harga obat, pemerintah menurunkan harga jual sebesar 10%-50% untuk 29 item obat generik. Obat ini adalah satu-satunya jenis obat yang harganya dapat dikontrol oleh pemerintah, dan seharusnya mendapat prioritas untuk dikembangkan. Sejak 1998 pasar obat generik terus tumbuh dan pada 2004 nilainya mencapai Rp2,9 triliun, atau menguasai 14% pangsa pasar farmasi nasional.

Pangsa ini sesungguhnya terbilang rendah. Di negara maju, seperti AS, pangsa pasar obat generiknya mencapai 50%. Di Taiwan bahkan 70%, dan Jerman 40%. Sementara itu, di negara tetangga, Singapura dan Malaysia, pangsa pasar obat generik mencapai 25% dan 20%.

Pasar farmasi nasional saat ini masih didominasi oleh pemain lokal. Data IMS 2004 menunjukkan bahwa PT Sanbe Farma masih menempati peringkat teratas dari sisi penjualan dengan nilai Rp1,54 triliun (7,37% pangsa pasar), disusul oleh PT Kalbe Farma Tbk. – Rp1,22 triliun (5,86%) dan PT Dexa Medica – Rp1,15 triliun (5,53%). Bagaimana dengan pemain asing? PT Pfizer ternyata hanya menempati peringkat ke-6 dengan nilai penjualan Rp762,1 miliar (3,65%). Dengan kondisi seperti ini, upaya Menkes menetapkan HET agaknya bakal mendapat ganjalan.

892005121047pm338.jpg

 

200 Perusahaan Berebut Pangsa Pasar

In Uncategorized on Februari 10, 2007 at 06:32

Pasar farmasi Indonesia yang sangat kecil diperebutkan 200 industri farmasi, sedangkan pasar komoditi lain pemainnya tidak sampai 10 perusahaan. Demikian diungkapkan Sekjen GP Farmasi, M Syamsul Arifin, seusai berbicara dalam workshop bertema meningkatkan peran wartawan dalam sosialisasi kebijakan obat nasional yang digelar Forum Wartawan Kesehatan (Forwakes) kemarin.

images.jpg

Disebutkan, pasar farmasi Indonesia hanya mencapai Rp 22 triliun per tahun lebih kecil dibanding komoditi lain. Seperti mie instan yang mencapai Rp 36 triliun per tahun, rokok Rp 130 triliun, subsidi BBM Rp 90 triliun dan subsidi listrik Rp 30 triliun per tahun.

 

Di tempat sama, Richard Pandjaitan, staf ahli Menkes bidang farmasi mengungkapkan, obat tersedia di Indonesia yang diproduksi saat ini mencapai 12.000 item. Obat itu diproduksi 4 BUMN farmasi, 33 industri PMA dan 164 industri swasta masional dengan price factor. Sedangkan pelaksanaan distribusi ditangani 2.250 pedagang besar farmasi dengan mata rantai ritel Apotek dan Toko Obat yang masing-masing berjumlah 6.000 tersebar di seluruh tanah air. (bn-33)

Sumber : Suara Merdeka

 



 

Apoteker Harus Ada Di Apotek

In Uncategorized on Februari 9, 2007 at 14:09

- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) segera mengeluarkan peraturan yang melarang apotek buka jika tenaga apoteker sedang tidak ada di tempat. Peraturan itu akan diberlakukan pada 17 September 2005.

Ketua Umum Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) Ahaditomo mengatakan kebijakan tersebut merupakan usulan ISFI kepada BPOM. “Aturan itu akan dikeluarkan pada 17 Juni 2005 bersamaan Kongres Nasional ISFI dan mulai efektif diberlakukan tiga bulan setelah ketentuan itu disahkan oleh BPOM,” ujarnya kemarin.

Dia mengatakan ketidakhadiran apoteker di tempat kerja (apotek) merupakan hal yang sering terjadi di masyarakat, padahal salah satu upaya untuk meningkatkan keterjangkauan obat salah satunya adalah dengan penggunaan yang rasional.

Selain itu, kata dia, konsumen juga memiliki hak untuk menyampaikan permintaannya agar obat yang diresepkan oleh dokter dapat ditukar dengan merek lain namun memiliki fungsi yang sama dan dengan harga yang lebih terjangkau.

“Sebagai asosiasi yang membawahi para apoteker, maka kami memiliki kewajiban untuk membantu pelayanan masyarakat khususnya dalam hal obat-obatan yang termasuk dalam salah satu komponen kesehatan.”

Ahaditomo mengatakan usulan dari ISFI tersebut disambut baik oleh Kepala BPOM, karena institusi yang mengawasi peredaran obat dan makanan itu juga memiliki tanggungjawab yang sama dengan apoteker.

Sumber : Mensa Group

2004_10_31_day163-drugstore.jpg

Konsumsi Obat Indonesia Terendah Se-ASEAN

In Uncategorized on Februari 9, 2007 at 13:59

Tingkat konsumsi obat Indonesia masih lebih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Menurut data IMS 2004, Singapura menempati peringkat teratas dalam konsumsi obat per kapita, disusul oleh Thailand, Malaysia, dan Filipina. Konsumsi obat Indonesia baru US$7,2 per kapita, atau sedikit di atas Vietnam yang US$5,4 per kapita.

Sebagai upaya menekan harga obat, pemerintah menurunkan harga jual sebesar 10%-50% untuk 29 item obat generik. Obat ini adalah satu-satunya jenis obat yang harganya dapat dikontrol oleh pemerintah, dan seharusnya mendapat prioritas untuk dikembangkan. Sejak 1998 pasar obat generik terus tumbuh dan pada 2004 nilainya mencapai Rp2,9 triliun, atau menguasai 14% pangsa pasar farmasi nasional.

Pangsa ini sesungguhnya terbilang rendah. Di negara maju, seperti AS, pangsa pasar obat generiknya mencapai 50%. Di Taiwan bahkan 70%, dan Jerman 40%. Sementara itu, di negara tetangga, Singapura dan Malaysia, pangsa pasar obat generik mencapai 25% dan 20%.

892005121047pm525.jpg

Perkembangan Pasar Indonesia dan ASEAN

In Uncategorized on Februari 9, 2007 at 13:56

Industri farmasi Indonesia terus tumbuh. Penjualan obat selama 2004 mencapai Rp20,22 triliun, atau tumbuh 13,5% dibanding 2003. Memang angka ini tak bisa dibilang tinggi. Penyebabnya, antara lain, masih terbatasnya masyarakat yang bisa mengakses produk-produk kesehatan, dan lemahnya daya beli konsumen. Meski begitu, optimisme masih mewarnai industri ini. Buktinya, untuk 2005, penjualan obat diperkirakan mencapai Rp23 triliun, atau tumbuh 13,7%.

Di antara negara-negara ASEAN, pasar industri farmasi Indonesia memang terbilang besar. Data 2003 menunjukkan bahwa nilai pasar farmasi Indonesia mencapai US$1,7 miliar. Bandingkan dengan Singapura yang cuma US$269 juta, Thailand US$1,04 miliar, atau Malaysia yang US$374 juta. Betul, di sini faktor jumlah penduduk juga ikut menentukan.

Pasar Farmasi Negara Asean