Maximillian

Arsip untuk ‘Supply Chain’ Kategori

Manajemen Bisnis Apotek

In Supply Chain on Mei 17, 2009 at 01:10

Indikator Kinerja Ritel Apotek

Mengevaluasi komentar pengunjung pada tulisan Apotek Bisnis Basah di Samudera Biru, Max memutuskan untuk melakukan pembahasan seputar indikator kinerja ritel apotek dengan menggunakan pembandingan  manajerial ritel dan  sistem pelayanan klinik.

Optimasi bisnis pelayanan kesehatan ( Healthcare Business) pada apotek di Indonesia terbilang unik, kenapa ? Tulang punggung pemasaran obat di Indonesia bukan pada jejaring distributor ritel via apoteker, melainkan justru menggunakan tenaga dokter yang memiliki jam interaksi dan tingkat kepercayaan lebih tinggi dibanding sosok profesi apoteker. Terlepas dari aspek legalitas profesi, strategi ini adalah model optimal dengan pangsa pasar ethical : OTC adalah 80:20. Pasien akan patuh pada resep yang diberikan oleh dokter ( obat ethical), dan bukan pada rekomendasi apoteker, ditambah pada sosok apoteker sendiri yang tidak optimal menjalankan fungsi profesi pada bisnis apotek ( tidak signifikan eksistensinya secara profitabilitas maupun produktifitas apotek). Alokasi investasi sponsor untuk dokter  ( edukasi, bonus, wisata) di internal perusahaan farmasi  nilainya bisa mencapai 40- 50% dari harga obatnya itu sendiri.

dre0130l

Dalam pembahasan ini, faktor dominan variabel dokter dalam pola pemasaran obat masuk dalam pertimbangan utama, disamping faktor lain yang tentunya memiliki pengaruh. Dimensi penilaian bisnis pelayanan ( Service Business) yang ritel apotek masuk ke dalam kategori ini, meliputi lima hal, yaitu :

Read the rest of this entry »

The Unethical of Ethical

In Market Review, Service Area, Supply Chain, Uncategorized on Januari 21, 2009 at 00:00

conspiracy-21

So, you still thinking that the pharmacy as good as medical doctor, huh ? Get out from the position pleasee…I just want to share my point of view which is come from the “body of real business” in pharmacy industry. Here is the copy of interview between Businessweek Indonesia and Francis Wanandi, Marketing Director of PT. Combiphar Indonesia :

[?] Kalau di negara maju, kategori mana yang lebih lebih banyak, obat ethical atau obat bebas ( OTC : Over The Counter ) ?

[+] Tetap lebih besar obat ethical, bahkan hingga 80%.

[?] Obat ethical itu kerap disebut unethical…Kenapa bisa begitu ?

[+] Di bisnis farmasi, ada satu moral isu ketika kami harus memberikan ketenangan pada pasien bahwa obat yang kami produksi bisa memberikan kesembuhan. Tapi di sisi lain kami juga harus melihat profitabilitas dan adanya persaingan di antara mereka yang bergerak di industri farmasi. Persaingan inilah yang kerap menyebabkan industriawan farmasi melakukan berbagai cara agar produk mereka diperhatikan.

[?] Lalu, kunci suksesnya apa ?

[+] Karena obat ethical ini tidak bersentuhan langsung dengan konsumen tapi harus melalui dokter, kunci sukses pemasaran obat ethical ada di dokter. Karena kuncinya hanya dokter, kerap terjadi bermacam cara untuk meyakinkan sang dokter agar mau menggunakan obat tersebut.

[?] Cara yang paling manjur yang pernah Anda lakukan apa ?

[+] Salah satunya menjadi sponsor bagi dokter. Misalnya untuk edukasi, trip visit, biaya liburan keluarga, dan lain sebagainya.

[?] Berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk sponsorship seperti itu ?

[+] Di Indonesia, biaya sponsorship obat mencapai 40%- 50% dari harga obat. Ini berbeda dengan di negara maju. Di sana, biaya sebesar itu justru digunakan untuk kepentingan litbang.

Hahaha…So now you can see it, right ? Being a business player is always good. The way we think are so complicated and sly, so that credo is’nt always have singular meaning….I will try to picture the drugs selling scheme in my mind, do you mind ? Hope that you can learn it, here it is :

drugs-selling-scheme1


picture : cartoonstock

article  : maximillian

scheme : maximillian

interview : Businessweek Indonesia 24 December 2008 ( maximillian’s collection)

sponsored by : maximillian’s company

NB : If you want to know the consumers opinion, you can click in Media Konsumen. My opinion as business owner, so I’m neutral, so sorry ^_^

Bahan Baku Farmasi; 90% Impor

In Pharmaceutical Engineering, Supply Chain on Oktober 13, 2008 at 04:05

raw-material-demand-project.jpg

Demand Projection for Pharmaceuticals

The market of pharmaceuticals in the country is expected to continue increasing by some 15-18 % a year within the next five years. . There were three factors contributing to optimistic expectation . First and the most important factor was rupiah stability hovering around 9,000 per U.S. dollar. The rupiah stability is important as imported basic materials accounted for 85%-90% of the cost of good sold for pharmaceutical products in the country. The 5% hike in the prices of medicines had no much effect on the sales as the consumers have been used to 8%-10% inflation rate.

Second, was the growing awareness of the people of health as indicated by the fast growing consumption of health drinks (energy drink) since 2002, and an increase in per capita sales.

Third, was per capita consumption, which was still among the lowest in Asean. Per capita consumption of pharmaceuticals was about US$ 8 a year as against US$ 15 in Malaysia, the Philippines and Thailand and about US$ 25 in Singapore.

Pasar obat Indonesia potensial, namun data lapangan menunjukkan bahwa penyerapan pasar sangat kecil, bahkan paling kecil di Asia Tenggara. Denga ukuran jumlah penduduk Indonesia yang besar, ini memang aneh.

Banyak variabel irasional yang terbentuk dari konstruksi budaya lokal, terutama pandangan bahwa kesehatan bukan hak orang yang tidak memiliki penghasilan layak.

Dari data penjualan obat di Indonesia, dapat ditarik kesimpulan bahwa berbisnis bahan baku sintetik akan sangat tidak menguntungkan, terlihat dari penyerapan produk obat sintetik pada sektor hilir farmasi.

market-value.jpg

Hampir 90% bahan baku yang digunakan di industri farmasi Indonesia adalah impor. Ketergantungan yang teramat tinggi pada bahan baku impor menjadikan industri farmasi Indonesia sangat rawan, apalagi dengan keadaan kurs rupiah yang tidak stabil, manakala rupiah anjlok, perusahaan akan ikut goyah.

Mengenai impor bahan baku sebenarnya semua negara di dunia juga melakukannya, bahkan AS pun sekitar 50% bahan baku obatnya juga diimpor,namun yang menyebabkan mereka terus tumbuh dan seimbang antara neraca impor dengan ekpornya adalah karena bahan baku lokalnya pun diekspor. Lain dengan Indonesia, meski 90% bahan bakunya impor dengan bahan baku lokal sejumlah 10 %, bahan baku lokal ini belum bisa diekspor.

by : Maximillian

( Konspirasi ) Dokter dan Perusahaan Farmasi

In Service Area, Supply Chain on Juli 21, 2008 at 15:09

Perusahaan farmasi adalah sebuah ”bisnis”, paham ? Jadi, ini adalah masalah profitabilitas, penguasaan pasar, pengaturan kapital, investasi riset -inovasi teknologi, dan pertumbuhan bisnis. Obat, adalah ”produk” yang membutuhkan pasar- Dan pastikan juga bahwa pasar memang butuh produk, walaupun dengan ”dipaksa- merasa- butuh”-. Dan pasarnya adalah pasien, ya ? Anda butuh konsumen untuk membeli produk Anda, jika Anda ingin profitabilitas perusahaan Anda sehat, ya kan ? Dan, jika produk perusahaan Anda adalah obat, maka Anda membutuhkan jejaring pemasar yang dipercaya konsumen alias pasien, yaitu dokter ( Dokter punya merek personal yang dipercaya secara emosional oleh pasien dan secara kognitif-kompetensi oleh perusahaan obat ). Mutualisme yang positif secara bisnis, namun ilegal di mata hukum positif negara, ini ada aturan yang membatasi.

Likuiditas pasar obat, sangat terbatas, apalagi jika menyasar hanya pada konsumen kuratif ( penyembuhan), beda cerita jika produk bersegmen konsumen promotif ( pertahanan) dan preventif ( pencegahan), semacam makanan fungsional, vitamin, dan suplemen energi. Ketiga produk tersebut, sama masuk ke kategori standar produksi farmasi, tetapi pasarnya sangat likuid, dan yang pasti profitabilitasnya ”basah kuyup”, tidak aneh jika raksasa Pfizer, Merck, Bayer, Glaxo Smith-Kline, , IMS Health, dan Takeda- produk Takeda yang Vitamin C walaupun dosis tinggi dan melebihi kadar yang sebaiknya dikonsumsi harian konsumen, ternyata laku juga. Endorser memanfaatkan Miss Universe- yang perempuan itu- yang ”enak dipandang” itu memang efektif membujuk konsumen ( contohnya penulis blog ini- yang laki- laki ini- sendiri)- selalu punya derivasi produk yang menyumbang kas signifikan bagi profitabilitas korporasi. ( Kalau mau contoh yang lebih luar biasa, Red Bull ( KratingDaeng) bisa dijadikan contoh bagus)

Investasi riset yang biasanya masuk pada angka 10% sudah tinggi, bisa lebih tinggi untuk perusahaan farmasi, belum lagi faktor uji klinik hingga tiga tahap serta uji bioekivalensi produk kompetitor yang membutuhkan investasi SDM dan teknologi tidak murah. Sangat wajar jika perusahaan farmasi membutuhkan kapital besar, berikut pemasaran agresif untuk kesehatan profitabilitas dan pertumbuhan perusahaan yang positif.

Kasus berikut adalah yang masih hangat dibicarakan di Amerika Serikat, hingga Juli 2008 ini :

Penggunaan obat anti rokok dari Pfizer memicu debat tentang apakah pasien seharusnya diberi tahu soal ikatan antara perusahaan farmasi dan para dokter. Pada April 2008, empat pakar menerbitkan makalah untuk mengusulkan bahwa perokok dirawat analog dengan pasien penyakit kronis semacam diabetes. Artikel yang diterbitkan dalam jurnal prestisius Annals of Internal Medicine ini mungkin akan menyelinap secara sembunyi- sembunyi ke dalam tumpukan literatur anti merokok lain apabila dua paragraf terakhirnya tidak dibaca dengan seksama.

Disitu, para penulis, Dr. Michael B. Steimberg dan Dr. Jonathan Foulds, mengaku telah menerima bayaran dari pembuat produk- produk anti merokok. Salah satunya adalah Pfizer. Obat kontroversial dari perusahaan itu, Chantix, mendapat tanggapan positif dari para dokter. Padahal, penggunaan Chantix secara berlebihan dapat menimbulkan pemikiran untuk bunuh diri dan gejala penyakit kejiwaan lainnya.

Pengakuan ini memperkuat kecurigaan adanya dokter yang ’bermain mata” untuk mendongkrak penjualan produsen farmasi. ” Ada keuntungan tersendiri bagi perusahaan obat yang menjual produk mereka kepada para perokok seumur hidup- dan bukan hanya selama enam minggu-,” ujar Adriane J Fugh- Berman, ahli dari Georgetown University yang turut menulis serangan internet terhadap makalah itu untuk The Hastings Center, kelompok riset etika kesehatan dari Garrison ( New York). ” Obat- obatan dapat menjadi tambahan yang berguna bagi mereka yang ingin berhenti merokok. Tapi, tujuan utamanya haruslah penghentian ( kebiasaan merokok) itu sendiri,” katanya.

Makalah di Annals muncul hampir bersamaan dengan dipertegasnya tanda peringatan pada label Chantix oleh Pfizer atas desakan Food and Drug Administration ( FDA) atau POM-nya AS. Adanya tanda peringatan ini justru menimbulkan kekhawatiran bahwa ada dokter yang dibayar oleh industri farmasi untuk melindungi obat itu, yang penjualannya di AS bernilai lebih dari $ 680 juta pada 2007.

”Kalau Chantix mempunyai cacat, akibatnya bisa sangat besar,” ujar Dr. Daniel Seidman, direktur klinik yang bertugas menangani pasien yang ingin berhenti merokok di Columbia University. ” Orang- orang itu mungkin berpikir uang dari industri tidak mempengaruhi pendapat mereka mengenai obat tersebut. Tapi kenyataan berkata sebaliknya. Jika ada seseorang yang menggaji Anda, akan ada bias,” katanya. Dalam menjalankan praktek, Seidman mengaku tidak menerima bayaran sepeser pun dari para produsen. Read the rest of this entry »

Strategi Marketing dan Distribusi Obat

In Supply Chain on Maret 16, 2008 at 15:49

a little bit of writer’s stupid talk!….

Menilik dari sejarahnya, sebenarnya industri farmasi kita berasal dari berkembangnya Pedagang Besar Farmasi ( PBF ) dan Importir di masa lalu. Jadi, kalau kita menyaksikan industri farmasi yang memiliki fasilitas manufaktur seperti sekarang ini, sebenarnya hal itu baru berkembang sekitar tahun 1970-an.

10-besar-penjualan-obat-indonesia1.jpgSekarang tantangan berat yang dialami industri pada saat yang bersamaan juga mengimbas ke perusahaan-perusahaan distributor farmasi atau distributor obat, terutama dihadapi oleh kalangan distributor lokal yang memiliki daya saing rendah. Pasalnya, ketimpangan yang tajam antara jumlah perusahaan farmasi dengan jumlah distributor obat, apotek dan toko obat, semakin kurang kondusif bagi perkembangan usaha jika dilihat dari sisi skala ekonominya.

Kondisi industri farmasi nasional sekarang ini terasa sangat timpang. Betapa tidak, dengan hanya 196 pabrik obat, jumlah distributornya (PBF-Pedagang Besar Farmasi) ada sebanyak 2.250, yang berarti 1 pabrik obat rata-rata berhadapan dengan 11 distributor, ditambah lagi 1 distributor (PBF) berhadapan dengan 2,3 apotek. Ketimpangan tersebut bagaikan sebuah piramid terbalik, dimana untuk mencapai skala ekonomi atau efisiensi, seharusnya jumlah distributor nasional jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah pabriknya. Dengan begitu, akan diperoleh rasio dimana 1 distributor obat dapat melayani puluhan pabrik, tidak seperti sekarang ini dimana 1 pabrik obat dilayani oleh beberapa puluh distributor. Kondisi ini pula yang justru menjadikan PBF lokal, terutama yang tidak memiliki bentuk kerjasama, misalnya sebagai ‘distributor tunggal’ atau ‘sub distributor’, tidak lagi mampu bersaing.

Ketidakseimbangan ini semakin mendorong tidak efisiennya biaya operasional pendistribusian obat. Kecilnya volume yang didistribusikan oleh satu PBF, bukan saja tidak efisien, juga tidak ekonomis, sehingga tidak dapat bersaing secara baik. Dampaknya, obat-obat yang telah diproduksi mengikuti CPOB (cara pembuatan obat yang baik) tidak dapat disimpan dan didistribusikan dengan baik. Begitu juga kualitas obatnya pun tidak lagi terjamin oleh distributor, karena PBF tersebut tidak sanggup melaksanakan GDP (good distribution practice).

Berdasarkan regulasi pemerintah, setiap pabrik obat dalam mendistribusikan produk obatnya harus menggunakan jalur PBF. Saat ini jumlahnya sudah mencapai 2.250 distributor. Sedang jumlah retailer-nya: sekitar 5.695 apotek dan 5.513 toko obat – besar dan kecil.

penjualan-industri-farmasi.jpgSelain itu, dari 196 perusahaan farmasi, sekitar 60 pabrik obat menguasai lebih dari 80% total pasar, sedangkan 20% sisanya diperebutkan oleh 140 parik obat lainnya. Dari jumlah itu perbandingan antara perusahaan lokal dan multinasional masih 60 berbanding 40. Gambaran ini menunjukkan betapa lemahnya persaingan industri farmasi di Indonesia, termasuk lemahnya skala ekonomi distributornya, sehingga tak heran bila harga obat di Indonesia bisa begitu melangit.

Peningkatan jumlah PBF yang sangat dramatis, selain karena rata-rata pabrik obat mendirikan PBF sendiri, juga lebih dikarenakan regulasi pemerintah yang memungkinkan perusahaan-perusahaan yang tidak berbasis industri farmasi untuk mendirikan PBF. Jadi, meski jumlah pabrik obat tidak bertambah, sebaliknya malah berkurang, namun jumlah PBF terus meningkat.

Perusahaan-perusahaan distributor dari negara- negara maju, yang memang telah terdukung oleh aplikasi TI, mereka dapat lebih efisien. Selain itu, skala ekonomisnya sangat baik terpenuhi, karena volumenya sangat besar, sehingga meski mendapatkan margin penjualan yang tipis, yakni antara 3-4% dari penjualan, hal itu masih sangat menguntungkan.Di Indonesia rata-rata besar marginnya masih antara 11-12% dan tergantung pada beberapa faktor lainnya, sehingga dalam konteks ini kemampuan distributor nasional untuk bersaing semakin kecil alias tak mampu bersaing dengan baik.Pada tahun 2003, pasar produk-produk farmasi diperkirakan tumbuh sekitar 20%, namun daya beli masyarakat sudah sangat menurun. Produk obat-obatan yang selama ini diproduksi oleh 196 pabrik obat, 4 di antaranya merupakan 4 BUMN, 31 perusahaan PMA, dan sisanya adalah PMDN. Read the rest of this entry »

Peluang Ekspor Tumbuhan Obat Indonesia

In Phytopharmacy, Supply Chain on Januari 5, 2008 at 13:12

Pada tahun 2004, pemimpin eksportir tumbuhan obat dan tanaman aromatik dari negara berkembang dengan tujuan Uni Eropa adalah Cina, India, Nigeria, Kenya, Bosnia- Herzegovina, Uzbekistan, dan Afrika Selatan. Kurang lebih senilai 75 % dari impor ekstrak dan tanaman alkaloid berasal dari Cina dan Madagaskar. Cina memasok senilai 36 % dari keseluruhan alkaloid negara berkembang, diikuti oleh India ( 25 % ) dan Brasil ( 19 %).

crane.jpg

Pada 2004, nilai impor Uni Eropa untuk tumbuhan obat stabil pada angka 375 milyar Euro, sedangkan nilai untuk kategori ekstrak dan getah tumbuhan obat adalah 101 milyar Euro, serta tanaman alkaloid senilai 521 milyar Euro, menurun jika dibanding tahun 2000. Untuk tumbuhan obat dan tanaman aromatik, serta ekstrak dan getah tanaman obat secara volume menunjukkan perkembangan positif, dan ini mengindikasikan adanya penurunan secara umum dari segi harga.

Harga untuk kategori bahan alam di industri farmasi mengalami penurunan secara global. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya presentasi spesies strategis yang diproses dalam bentuk ekstrak atau tanaman alkaloid mulai dibudidayakan secara masal. Pengembangan produk berkorelasi dengan akses menuju bahan mentahnya. Saat produksi bahan mentah beralih dari tanaman liar menuju kultivasi masal, maka harga bahan mentah akan mengalami penurunan secara bertahap juga.

Peluang Untuk Eksportir

Tidak mudah sebenarnya untuk melakukan pemastian prospek produk yang positif dari negara berkembang. Kenapa ? Karena dalam hal ini terjadi transfer dalam jumlah besar bahan alam dari negara berkembang ke industri farmasi untuk kepentingan riset. Industri farmasi berkepentingan melakukan eksplorasi kekayaan alam hayati ( terutama variabilitas) untuk kepentingan komersial dan sumber bahan biokimia. Tipe perdagangan semacam ini adalah perdagangan yang dikendalikan oleh penelitian ( research driven trading). Perusahaan farmasi melakukan studi penelitian kandungan dan efek pada spesies tanaman obat yang spesifik untuk kemudian pengembangan dilanjutkan dalam rangka menemukan obat baru, lalu dipatenkan.

Riset semacam ini membutuhkan sumber daya yang sangat besar, baik dari segi pengetahuan, teknologi, peralatan, hingga sokongan dana dimana hanya industri- industri farmasi skala besar yang mampu melaksanakan. Eksportir dari negara berkembang sebaiknya mengambil peluang dari bahan alam yang sudah diketahui kandungan dan efeknya, yang belum dipatenkan serta masih dapat diperdagangkan secara bebas.

Sebanyak 2000 tumbuhan obat dan tanaman aromatik digunakan di Eropa untuk kebutuhan komersial. Beberapa spesies botani secara konsisten dibutuhkan oleh banyak industri di US dan Eropa hingga setidaknya lima tahun kedepan. ( Laird et al., 2002). Salah satunya adalah Echinacea, dan beberapa tumbuhan yang paling banyak dibutuhkan adalah Gingko, Ginseng, Valerian, Goldenseal, dan Bawang Putih.

market-demand.jpg

Nilai impor Uni Eropa terhadap beberapa negara berkembang yang selama ini memasok tumbuhan obat dan tanaman aromatik adalah :

nilai-impor.jpg

Nilai perbandingan komoditas dan negara pengekspor tumbuhan obat dan tanaman aromatik adalah sebagai berikut :

perbandingan-marketshare.jpg

Ekspor Negara berkembang ke negara Uni Eropa cenderung menurun. Terutama untuk kategori tumbuhan alkaloid, impor dari negara berkembang menunjukkan penurunan sebanyak 17% setiap tahunnya antara tahun 2000 dan 2004. Namun, jika dilihat dari pangsa total keseluruhan impor di Uni Eropa, negara berkembang memiliki posisi stabil pada perdagangan bahan baku alami untuk farmasi.

Pada 2004, negara berkembang kuat pada sisi pemasok tumbuhan obat dan tanaman aromatik, secara nilai sekitar 39% dari total impor anggota Uni Eropa, dan 50 % secara volume dari total impor Uni Eropa. Selama beberapa tahun terakhir, pangsa impor ke Uni Eropa dari negara berkembang selalu berfluktuasi pada level ini.

Cina dan India adalah negara yang memiliki sejarah panjang dalam pengobatan bahan alam dan dengan lahan mereka yang sangat luas, memposisikan diri sebagai pemimpin produsen bahan alam untuk farmasi. Namun ekspor India untuk tumbuhan obat dan tanaman aromatik mengalami penurunan sebesar 28 % pada sekitar tahun 2000 dan 2004. Negara berkembang yang mengalami peningkatan ekspor untuk komoditas tumbuhan obat dan tanaman aromatik antara tahun 2000 dan 2004 adalah Nigeria, Kenya, Bosnia- Herzegovina, Uzbekistan, dan Afrika Selatan. Sedangkan negara berkembang yang mengalami penurunan ekspor adalah Brasil, Sudan, Argentina, India, Chile, Albania, dan Masedonia.

Source : CBI ( Euro)

by : Maximillian



Pasar Tumbuhan Obat dan Aromatik Dunia

In Phytopharmacy, Supply Chain on Januari 4, 2008 at 14:08


Selama tiga dekade terakhir telah terjadi pertumbuhan pengobatan bahan alam yang cukup substansial di berbagai belahan dunia Saat ini, 80 % populasi di negara berkembang menggunakan obat berbasis bahan alam untuk kebutuhan pelayanan kesehatan, dengan alasan pengobatan semacam ini tersedia secara luas dan mudah untuk mendapatkannya. WHO telah memprediksikan bahwa pada dekade yang akan datang, persentase yang sama dari penduduk dunia tetap akan menggunakan obat bahan alam. Pada banyak negara berkembang, penggunaan obat bahan alam didukung oleh efek samping dari obat bahan kimia, berikut semakin besarnya akses publik tentang informasi kesehatan ( WHO, 2005). Saat ini, pengobatan berbasis tanaman memiliki pangsa pasar sekitar 30 % ( FNR, Agency of Renewable Resources, 2005).

Prakiraan nilai keseluruhan dari farmasi bahan alam sangat bervariasi. Laird dan Pierce memperkirakan bahwa market obat bahan alam berada pada angka 18,2 milyar Euro pada 1999 ( 1 Euro = 1,066 Dolar AS). Eropa memiliki pangsa pasar sebesar 36 %, Asia 26 %, Amerika Utara 21 %, dan Jepang sebesar 11 %. Sisanya dari seluruh dunia sekitar 7 % ( Lard and Pierce, 2002). Laporan nasional IENICA untuk Jerman memperkirakan tingkat turn over untuk tanaman obat dan makanan fungsional sekitar 17, 9 milyar Euro ( 1 euro = 1,13 dolar AS) pada 2003, dengan keseluruhan Eropa pada angka sekitar 6 milyar euro ( IENICA 2004).

img_03672.jpg

Pada 2002, market dunia untuk bahan alam diperkirakan mencapai angka 80 milyar euro pada 2010, dengan tumbuhan obat mencapai nilai 80% dari pasar ini ( LatinPharma, 2003). Hampir senilai 3,7 milyar euro ( dari harga produsen manufaktur hingga pedagang besar) berputar pada obat herbal kategori OTC di semua negara Eropa di tahun 2003.

Di Eropa, kebutuhan farmasi bahan alam selalu meningkat senilai 10 % setiap tahunnya, sebagian karena pertumbuhan popularitas metode pengobatan alternatif dan sebagian juga karena semakin dikenalnya kemanfaatan dari sistem pengobatan tradisional ( World Wildlife Fund). Namun, manakala pertumbuhan pasar suplemen herbal dan obat herbal menurun pada angka moderat 4- 6 %, peningkatan pertumbuhan terlihat pada area makanan fungsional. Diperkirakan penjualan ekstrak ke industri makanan, untuk kebutuhan produk makanan fungsional meningkat sekitar 20 % per tahun ( Nutraingredients Europe 2006), sementara angka konsumsi meningkat pada angka 6- 7 % per tahunnya, dengan pertumbuhan terbesar pada produk untuk kesehatan pencernaan dan sistem kekebalan tubuh ( Foodtechnology, 2005)

Walaupun peningkatan pertumbuhan pasar di Eropa semakin menurun pada tahun terakhir, namun angka pertumbuhan pasar obat bahan alam tetap ada. Pasar terbesar untuk fitofarmaka di Eropa adalah Jerman dan Perancis, sekitar dua pertiga dari pasar Eropa pada angka 6 milyar Euro pada 2003 ( IENICA, 2004). Jerman menguasai 39 % pangsa pasar, sementara Perancis, Italia, Polandia, Britania Raya, dan Spanyol mengitkuti pada angka 29, 7, 6, 6, dan 4 %.

Selain informasi di atas, fakta di bawah ini mengindikasikan prospek obat bahan alam dan penggunaan bahan alam di industri farmasi :

- Penerimaan obat yang mengandung ekstrak tumbuhan dalam jumlah yang sangat tinggi diantara pasien. Untuk kategori obat semacam ini dapat digunakan sebagai obat psikiatri, penenang, kerusakan hati, atau sistem kekebalan tubuh ( FNR, Agency of Renewable Resources, 2005)

- Pada 2001, market global untuk suplemen yang berhubungan dengan makanan berada pada angka 56,5 milyar euro. Eropa pada angka 16,7 milyar euro. Suplemen herbal memiliki pangsa pasar 39 % dari total penjualan ( Grunwald and Herzberg, 2002). Untuk suplemen herbal tunggal, termasuk Echinacea, bawang [utih, ginseng, goldenseal, saw palmetto, dan St John’s Wort, penjualannya di bawah performa yang seharusnya ( Nutraceuticals World). Pasar suplemen herbal mengalami hambatan yang disebabkan oleh pasokan bahan baku, dalam hal ini adalah dengan kualitasnya. Rata- rata pertumbuhan global berada pada angka 8,7 % ((Grünwald and Herzberg, 2002).

- Pada februari 2006, Institut Federal Jerman untuk Obat dan Peralatan Kesehatan ( BfArM) melaporkan total jumlah obat herbal yang mendapatkan lisensi dan terregistrasi pada pasar Jerman. Terdapat total sejumlah 2454 produk obat bahan alam yang memiliki otoritas pemasaran atau telah melengkapi prosedur registrasi. Ini berarti telah terjadi pertumbuhan sebesar 8 % sejak Agustus 2004. 1952 ( 79,5%) adalah tumbuhan tunggal dan 437 ( 20,4%) merupakan kombinasi lebih dari satu tumbuhan atau ekstrak. BfArM juga melaporkan jumlah keseluruhan anthroposophic dan obat homeopath terregistrasi, sebagian besar berbasis tumbuhan bahan alam ( BfArM, 2006)

top-herbal-crops.jpg

by : Maximillian

Apotek; Bisnis Basah di Samudera Biru

In Supply Chain on April 11, 2007 at 04:30

trend-pasar-apotek-2.jpg

Bisnis apotek dapat dibandingkan dengan skala ritel umum atau franchise Mart yang marak mengepung masyarakat. Secara teknis bisnis, apotek membutuhkan manajemen khusus karena diferensiasi serta spesifikasi produk yang kuat pada produknya, produk kesehatan, khususnya obat.

Apotek adalah bisnis,sedangkan profesi apoteker sebagai penanggungjawabnya adalah bentuk pelayanan kesehatan. Lalu, bagaimana mewujudkan sinergi yang baik dari segi bisnis dan pelayanan ? Ya, apotek harus menjadi tempat yang nyaman, leluasa, serta ramah dengan pasien atau konsumen. Ramah, leluasa, dan nyaman ini adalah sebuah personifikasi dari tata letak, pencahayaan, serta tata ruang apotek sehingga pengunjung- yang bisa saja bukan pasien atau konsumen, melainkan pengantar atau keluarga- menjadi betah dan merasa “diterima” dengan baik.Kenapa saya menyebut tata letak pada posisi penting ? Ya, ini adalah kesan pertama yang menjadi sentuhan awal ( first touch) yang memberikan efek psikologis “lebih” dibandingkan dengan suasana yang terkesan kaku dan formal.

Selain aspek desain ruangan serta tata letak, pelayanan yang efisien- tepat guna, serta efektif- tepat sasaran untuk pengunjung- konsumen dari pihak apoteker maupun asistennya akan memberikan sentuhan personal yang membuat mereka “percaya” ( trust) dengan sistem pelayanan apotek. Sifat kepercayaan (trust) ini akan menghasilkan loyalitas ( loyalty) konsumen terhadap apotek yang bersangkutan. Senyuman manis dan pelayanan ramah, serta penjelasan yang mudah untuk dipahami oleh konsumen akan membuat konsumen merasa “diterima” dengan baik, dan tentunya, dimanusiakan.

trend-apotek.jpg

margin high volume.

Apotek adalah bisnis yang sangat menarik dan akan senantiasa ” basah”. Dengan perhitungan bisnis yang tepat dan kuantitatif, beserta manajemen perubahan yang cepat dan responsif dengan pasar, apotek akan selalu jadi primadona. Karena dari segi marketing, apotek memiliki posisi, diferensiasi, dan apalagi bila memiliki brand kuat, bukan tidak mungkin apotek akan memiliki konsumen loyal dalam komunitas tertentu.

Jika menginginkan sebuah “benteng” bisnis yang kuat, metode pembuatan apotek “franchise” dengan menerapkan sistem jaringan seperti yang digunakan oleh sistem Mart, apotek akan jauh lebih kokoh serta responsif dengan pasar. Sebuah konsep “Drug Store” yang cerdas, lengkap, serta stok yang senantiasa mengalir cepat, tentunya adalah pilihan inovatif dalam kompetisi perapotekan yang terlihat dari grafik akan semakin ketat.

Dari grafik terlihat bahwa tren obat ethical ( dengan resep dokter) terus meningkat, berarti bahwa untuk apotek yang setara dengan bisnis skala ritel, dimana volume akan bicara banyak, prospeknya akan sangat cerah. Jika ingin memperbesar profit, maka apotek juga dapat melakukan diferensiasi dengan peletakan obat OTC ( Over The Counter/ Obat Bebas) pada tempat yang bisa dijangkau oleh konsumen, seperti layaknya swalayan, karena untuk OTC ini memang sifatnya likuid.

Apotek juga harus memainkan strategi basis data konsumen, untuk mengikat konsumen loyal, selain strategi low

trend-ethical-otc.jpg

Serapan pasar obat di Indonesia memang kecil, bahkan salah satu yang terkecil di Asia Tenggara. Namun potensi pasar Indonesia hampir setara dengan Cina dan India. Nah, dari grafik terlihat bahwa potensi “tidur” ini sudah mulai “terbangun”, walaupun sangat pelahan, intinya, pasar apotek adalah sebuah samudera biru yang belum terlalu banyak pemain bermain di dalamnya. Ini adalah sebuah peluang emas! Bagaimanapun, samudera merah, dengan pertarungan berdarah- darah karena pertarungan antar pemain tidak akan menyenangkan bagi penyuka kemapanan, karena dibutuhkan inovasi terus menerus beserta responsivitas tinggi terhadap pasar.

Trade off yang ada saat ini adalah, bagaimana cara membangunkan potensi pasar obat raksasa yang dimiliki oleh Indonesia ? Dan inilah yang menarik dari bisnis bukan ? High Risk High Return, always, business as usual!

Intinya adalah, bagaimana membuat sebuah wujud apotek yang humanis, bersih, ramah, serta memudahkan dan memanusiakan konsumen lengkap beserta penjelasan yang komunikatif dan memudahkan mereka mengenai produk kesehatan. Pelayanan ini harus bersama dengan sistem bisnis yang kuat, responsif dengan pasar, serta memiliki strategi brilian untuk membangunkan potensi pasar saat masih tertidur dan bersaing dengan pemain lain manakala konsumen telah tercerdaskan.

Mau tahu cara mendirikan apotek ? Mungkin Anda bisa berkunjung ke tetangga yang satu ini.

Anda juga bisa mempelajari pengaturan mata rantai distribusi obat lewat bagan di bawah ini :

drugs-selling-scheme

by : Maximillian

Indonesia” Pharmacy Raw Material, 90% Import

In Pharmaceutical Engineering, Supply Chain on April 1, 2007 at 14:04

raw-material-demand-project.jpg

Demand Projection for Pharmaceuticals

The market of pharmaceuticals in the country is expected to continue increasing by some 15-18 % a year within the next five years. . There were three factors contributing to optimistic expectation . First and the most important factor was rupiah stability hovering around 9,000 per U.S. dollar. The rupiah stability is important as imported basic materials accounted for 85%-90% of the cost of good sold for pharmaceutical products in the country. The 5% hike in the prices of medicines had no much effect on the sales as the consumers have been used to 8%-10% inflation rate.

Second, was the growing awareness of the people of health as indicated by the fast growing consumption of health drinks (energy drink) since 2002, and an increase in per capita sales.

Third, was per capita consumption, which was still among the lowest in Asean. Per capita consumption of pharmaceuticals was about US$ 8 a year as against US$ 15 in Malaysia, the Philippines and Thailand and about US$ 25 in Singapore.

Pasar obat Indonesia potensial, namun data lapangan menunjukkan bahwa penyerapan pasar sangat kecil, bahkan paling kecil di Asia Tenggara. Denga ukuran jumlah penduduk Indonesia yang besar, ini memang aneh.

Banyak variabel irasional yang terbentuk dari konstruksi budaya lokal, terutama pandangan bahwa kesehatan bukan hak orang yang tidak memiliki penghasilan layak.

Dari data penjualan obat di Indonesia, dapat ditarik kesimpulan bahwa berbisnis bahan baku sintetik akan sangat tidak menguntungkan, terlihat dari penyerapan produk obat sintetik pada sektor hilir farmasi.

market-value.jpg

Hampir 90% bahan baku yang digunakan di industri farmasi Indonesia adalah impor. Ketergantungan yang teramat tinggi pada bahan baku impor menjadikan industri farmasi Indonesia sangat rawan, apalagi dengan keadaan kurs rupiah yang tidak stabil, manakala rupiah anjlok, perusahaan akan ikut goyah.

Mengenai impor bahan baku sebenarnya semua negara di dunia juga melakukannya, bahkan AS pun sekitar 50% bahan baku obatnya juga diimpor,namun yang menyebabkan mereka terus tumbuh dan seimbang antara neraca impor dengan ekpornya adalah karena bahan baku lokalnya pun diekspor. Lain dengan Indonesia, meski 90% bahan bakunya impor dengan bahan baku lokal sejumlah 10 %, bahan baku lokal ini belum bisa diekspor.