Maximillian

Arsip untuk ‘Phytopharmacy’ Kategori

Fitofarmaka

In Phytopharmacy on Agustus 13, 2009 at 14:38

Apakah memang terjadi kompetisi antara obat sintetik dengan obat bahan alam ? Secara pandangan pasar lokal Indonesia, nampaknya itu belum terjadi, walaupun media seringkali menghembuskan tren ”kembali ke alam” atau ”pengobatan alternatif” namun tentunya konsumen cerdas akan berpikir bahwa sesuatu yang ”alternatif” hanyalah komplemen dari yang utama, dan bukan substituen produk utama pada satu kasus penyakit yang sama.

naturopath2

Pangsa pasar obat sintetik masih dipegang oleh obat resep ( ethical) 80% dan sisanya OTC ( Over The Counter). Dengan pemanfaatan jejaring dokter, sistem ini nampaknya akan masih menjadi andalan kedepannya. Konsumen mungkin mengenal obat sintetik dosis tinggi via iklan media massa, namun jangan salah, untuk lima besar perusahaan farmasi Indonesia, input pendapatan justru masuk dari jenis obat resep.

Angka pertumbuhan konsumsi fitofarmasi ( produk farmasi  berbasis bahan alam) di Indonesia akan Max ambil dari jenis suplemen makanan ( dietary supplement) di luar kategori jamu ( dan 2 kategori yang lebih kompleks ), mengalami pertumbuhan sebesar 506%  antara tahun 2002- 2005. Jamu tidak dikategorikan sebagai suplemen makanan.Efek farmakologis yang ditimbulkan ( walaupun berupa klaim empirik) membuat jamu dimasukkan ke dalam kategori obat bahan alam, yang berfungsi untuk terapi kuratif, bukan promotif atau preventif seperti kategori suplemen makanan.80% dari konsumsi suplemen makanan Indonesia adalah impor, dan 60% darinya adalah dari Amerika Serikut. Untuk itu, bukanlah idiom kompetisi yang digunakan, melainan segmentasi. Lalu, mengapa segmen yang difokuskan di sini ? Dan, apa parameter segmen tersebut ?

Read the rest of this entry »

Obat Bahan Alam : SURAM

In Phytopharmacy on Agustus 17, 2008 at 03:35

Future of Herbs Medicine Market ; Bad News

As a business practitioner with basic knowledge in Pharmacy, my opinion ‘bout herbs medicine is negative. Focussing in medicine, meaning that herbs will compete with the conventional drugs which were build by novel technology, and now they reach nanotech level. When they took the alternative medicine position, meaning that their market is in niche level, so small chance to act as head to head opposite partner of conventional drugs.

Sales By Country

Sales By Country

I’m not just thinking ‘bout scientific mindset, but it’s more ‘bout optimist- realistic business overlook. The herbs and descent products are not limited in cure, but also to promote and prevent, see ? I mean, herbs is part of our traditional life, but in pharmaceutical aspect, it’s lack of dosage information, side effect, and supporting system to reach the modern market who are so well educated with high curiosity level. ( I’m not just talking ‘bout Indonesian market, it’s global market. Later on, Indonesia will be the part of our discussion, soon). The empiric experience in herbs functionality will need more research to get adapt with some various market character and diverse variables.

The market segment for herbs derivatives is’nt just in medicine. But it’s more segmented as functional food, or cosmetics. The capital, human resource, and market factor as the ‘constraint’ in pharmacy business will become consideration for herbs innovation to join the market competition. So, to innovate the end product in nutraceutical, and cosmeceutical will show off their powerfull potencial uses.

For example in Indonesia. The health food supplements market in Indonesia grew 509% between 2002 and 2005. For the near future, sales prospects look good, with steady growth projected in the range of 15% to 25% over the next two years. The market for dietary supplements (excluding traditional Indonesian herbs or jamu) was estimated to be $260 million in 2006, exhibiting a growth rate of 25%.Imports account for over 80% of the Indonesian supplement market, about 60% of which are U.S. products. Of special interest are products related to weight loss and appearance, chronic disease like hy¬pertension and osteoporosis, stamina, sexual health and vitamins.

I’ve collected some notable argument from By Dr. Joerg Gruenwald, President of Analyze & Realize AG (A&G) in Berlin, Germany :

In fact, the greatest potential for new herb and botanical products currently lies in the food sectors, as companies harness the current global consumer interest in natural and functional foods. Some of the latest opportunities include exploring botanical alternatives to animal-sourced ingredients such as omega 3 fatty acids from fish, or finding natural alternatives to artificial additives such as preservatives or colorings. New varieties of fiber are also being discovered, opening up areas for new product development. Other growth sectors include cosmeceuticals and the emerging category of beauty foods.

However, the growth of the herbal/ botanical drug market is not as pronounced as that of the food segments. One reason for that is the long product research and development time, most notably on the drug registration side. In spite of this, there has been a positive development in the U.S., opening up the herbal drug market, which is a sign for future growth of that segment.

Euro Market

Euro Market

In Europe, the Traditional Herbal Medicinal Products Directive is expected to have a positive impact on the market because it allows access to the market via a simplified registration procedure without having to carry out unnecessary safety and efficacy assessments. Also, a registration in one country of Europe will apply to all other EC member states, eliminating the hassle of navigating different regulatory requirements for different countries, which was a major downside of the old system.

On the supplement side, a new directive has come into effect. It is still not clear which herbs and botanicals will be able to remain on the market as supplements, so it is difficult to make predictions on successful future supplement ingredients at this time. However, many pharmacologically active herbs will probably need to be registered as herbal medicinal products. Read the rest of this entry »

Peluang Ekspor Tumbuhan Obat Indonesia

In Phytopharmacy, Supply Chain on Januari 5, 2008 at 13:12

Pada tahun 2004, pemimpin eksportir tumbuhan obat dan tanaman aromatik dari negara berkembang dengan tujuan Uni Eropa adalah Cina, India, Nigeria, Kenya, Bosnia- Herzegovina, Uzbekistan, dan Afrika Selatan. Kurang lebih senilai 75 % dari impor ekstrak dan tanaman alkaloid berasal dari Cina dan Madagaskar. Cina memasok senilai 36 % dari keseluruhan alkaloid negara berkembang, diikuti oleh India ( 25 % ) dan Brasil ( 19 %).

crane.jpg

Pada 2004, nilai impor Uni Eropa untuk tumbuhan obat stabil pada angka 375 milyar Euro, sedangkan nilai untuk kategori ekstrak dan getah tumbuhan obat adalah 101 milyar Euro, serta tanaman alkaloid senilai 521 milyar Euro, menurun jika dibanding tahun 2000. Untuk tumbuhan obat dan tanaman aromatik, serta ekstrak dan getah tanaman obat secara volume menunjukkan perkembangan positif, dan ini mengindikasikan adanya penurunan secara umum dari segi harga.

Harga untuk kategori bahan alam di industri farmasi mengalami penurunan secara global. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya presentasi spesies strategis yang diproses dalam bentuk ekstrak atau tanaman alkaloid mulai dibudidayakan secara masal. Pengembangan produk berkorelasi dengan akses menuju bahan mentahnya. Saat produksi bahan mentah beralih dari tanaman liar menuju kultivasi masal, maka harga bahan mentah akan mengalami penurunan secara bertahap juga.

Peluang Untuk Eksportir

Tidak mudah sebenarnya untuk melakukan pemastian prospek produk yang positif dari negara berkembang. Kenapa ? Karena dalam hal ini terjadi transfer dalam jumlah besar bahan alam dari negara berkembang ke industri farmasi untuk kepentingan riset. Industri farmasi berkepentingan melakukan eksplorasi kekayaan alam hayati ( terutama variabilitas) untuk kepentingan komersial dan sumber bahan biokimia. Tipe perdagangan semacam ini adalah perdagangan yang dikendalikan oleh penelitian ( research driven trading). Perusahaan farmasi melakukan studi penelitian kandungan dan efek pada spesies tanaman obat yang spesifik untuk kemudian pengembangan dilanjutkan dalam rangka menemukan obat baru, lalu dipatenkan.

Riset semacam ini membutuhkan sumber daya yang sangat besar, baik dari segi pengetahuan, teknologi, peralatan, hingga sokongan dana dimana hanya industri- industri farmasi skala besar yang mampu melaksanakan. Eksportir dari negara berkembang sebaiknya mengambil peluang dari bahan alam yang sudah diketahui kandungan dan efeknya, yang belum dipatenkan serta masih dapat diperdagangkan secara bebas.

Sebanyak 2000 tumbuhan obat dan tanaman aromatik digunakan di Eropa untuk kebutuhan komersial. Beberapa spesies botani secara konsisten dibutuhkan oleh banyak industri di US dan Eropa hingga setidaknya lima tahun kedepan. ( Laird et al., 2002). Salah satunya adalah Echinacea, dan beberapa tumbuhan yang paling banyak dibutuhkan adalah Gingko, Ginseng, Valerian, Goldenseal, dan Bawang Putih.

market-demand.jpg

Nilai impor Uni Eropa terhadap beberapa negara berkembang yang selama ini memasok tumbuhan obat dan tanaman aromatik adalah :

nilai-impor.jpg

Nilai perbandingan komoditas dan negara pengekspor tumbuhan obat dan tanaman aromatik adalah sebagai berikut :

perbandingan-marketshare.jpg

Ekspor Negara berkembang ke negara Uni Eropa cenderung menurun. Terutama untuk kategori tumbuhan alkaloid, impor dari negara berkembang menunjukkan penurunan sebanyak 17% setiap tahunnya antara tahun 2000 dan 2004. Namun, jika dilihat dari pangsa total keseluruhan impor di Uni Eropa, negara berkembang memiliki posisi stabil pada perdagangan bahan baku alami untuk farmasi.

Pada 2004, negara berkembang kuat pada sisi pemasok tumbuhan obat dan tanaman aromatik, secara nilai sekitar 39% dari total impor anggota Uni Eropa, dan 50 % secara volume dari total impor Uni Eropa. Selama beberapa tahun terakhir, pangsa impor ke Uni Eropa dari negara berkembang selalu berfluktuasi pada level ini.

Cina dan India adalah negara yang memiliki sejarah panjang dalam pengobatan bahan alam dan dengan lahan mereka yang sangat luas, memposisikan diri sebagai pemimpin produsen bahan alam untuk farmasi. Namun ekspor India untuk tumbuhan obat dan tanaman aromatik mengalami penurunan sebesar 28 % pada sekitar tahun 2000 dan 2004. Negara berkembang yang mengalami peningkatan ekspor untuk komoditas tumbuhan obat dan tanaman aromatik antara tahun 2000 dan 2004 adalah Nigeria, Kenya, Bosnia- Herzegovina, Uzbekistan, dan Afrika Selatan. Sedangkan negara berkembang yang mengalami penurunan ekspor adalah Brasil, Sudan, Argentina, India, Chile, Albania, dan Masedonia.

Source : CBI ( Euro)

by : Maximillian



Pasar Tumbuhan Obat dan Aromatik Dunia

In Phytopharmacy, Supply Chain on Januari 4, 2008 at 14:08


Selama tiga dekade terakhir telah terjadi pertumbuhan pengobatan bahan alam yang cukup substansial di berbagai belahan dunia Saat ini, 80 % populasi di negara berkembang menggunakan obat berbasis bahan alam untuk kebutuhan pelayanan kesehatan, dengan alasan pengobatan semacam ini tersedia secara luas dan mudah untuk mendapatkannya. WHO telah memprediksikan bahwa pada dekade yang akan datang, persentase yang sama dari penduduk dunia tetap akan menggunakan obat bahan alam. Pada banyak negara berkembang, penggunaan obat bahan alam didukung oleh efek samping dari obat bahan kimia, berikut semakin besarnya akses publik tentang informasi kesehatan ( WHO, 2005). Saat ini, pengobatan berbasis tanaman memiliki pangsa pasar sekitar 30 % ( FNR, Agency of Renewable Resources, 2005).

Prakiraan nilai keseluruhan dari farmasi bahan alam sangat bervariasi. Laird dan Pierce memperkirakan bahwa market obat bahan alam berada pada angka 18,2 milyar Euro pada 1999 ( 1 Euro = 1,066 Dolar AS). Eropa memiliki pangsa pasar sebesar 36 %, Asia 26 %, Amerika Utara 21 %, dan Jepang sebesar 11 %. Sisanya dari seluruh dunia sekitar 7 % ( Lard and Pierce, 2002). Laporan nasional IENICA untuk Jerman memperkirakan tingkat turn over untuk tanaman obat dan makanan fungsional sekitar 17, 9 milyar Euro ( 1 euro = 1,13 dolar AS) pada 2003, dengan keseluruhan Eropa pada angka sekitar 6 milyar euro ( IENICA 2004).

img_03672.jpg

Pada 2002, market dunia untuk bahan alam diperkirakan mencapai angka 80 milyar euro pada 2010, dengan tumbuhan obat mencapai nilai 80% dari pasar ini ( LatinPharma, 2003). Hampir senilai 3,7 milyar euro ( dari harga produsen manufaktur hingga pedagang besar) berputar pada obat herbal kategori OTC di semua negara Eropa di tahun 2003.

Di Eropa, kebutuhan farmasi bahan alam selalu meningkat senilai 10 % setiap tahunnya, sebagian karena pertumbuhan popularitas metode pengobatan alternatif dan sebagian juga karena semakin dikenalnya kemanfaatan dari sistem pengobatan tradisional ( World Wildlife Fund). Namun, manakala pertumbuhan pasar suplemen herbal dan obat herbal menurun pada angka moderat 4- 6 %, peningkatan pertumbuhan terlihat pada area makanan fungsional. Diperkirakan penjualan ekstrak ke industri makanan, untuk kebutuhan produk makanan fungsional meningkat sekitar 20 % per tahun ( Nutraingredients Europe 2006), sementara angka konsumsi meningkat pada angka 6- 7 % per tahunnya, dengan pertumbuhan terbesar pada produk untuk kesehatan pencernaan dan sistem kekebalan tubuh ( Foodtechnology, 2005)

Walaupun peningkatan pertumbuhan pasar di Eropa semakin menurun pada tahun terakhir, namun angka pertumbuhan pasar obat bahan alam tetap ada. Pasar terbesar untuk fitofarmaka di Eropa adalah Jerman dan Perancis, sekitar dua pertiga dari pasar Eropa pada angka 6 milyar Euro pada 2003 ( IENICA, 2004). Jerman menguasai 39 % pangsa pasar, sementara Perancis, Italia, Polandia, Britania Raya, dan Spanyol mengitkuti pada angka 29, 7, 6, 6, dan 4 %.

Selain informasi di atas, fakta di bawah ini mengindikasikan prospek obat bahan alam dan penggunaan bahan alam di industri farmasi :

- Penerimaan obat yang mengandung ekstrak tumbuhan dalam jumlah yang sangat tinggi diantara pasien. Untuk kategori obat semacam ini dapat digunakan sebagai obat psikiatri, penenang, kerusakan hati, atau sistem kekebalan tubuh ( FNR, Agency of Renewable Resources, 2005)

- Pada 2001, market global untuk suplemen yang berhubungan dengan makanan berada pada angka 56,5 milyar euro. Eropa pada angka 16,7 milyar euro. Suplemen herbal memiliki pangsa pasar 39 % dari total penjualan ( Grunwald and Herzberg, 2002). Untuk suplemen herbal tunggal, termasuk Echinacea, bawang [utih, ginseng, goldenseal, saw palmetto, dan St John’s Wort, penjualannya di bawah performa yang seharusnya ( Nutraceuticals World). Pasar suplemen herbal mengalami hambatan yang disebabkan oleh pasokan bahan baku, dalam hal ini adalah dengan kualitasnya. Rata- rata pertumbuhan global berada pada angka 8,7 % ((Grünwald and Herzberg, 2002).

- Pada februari 2006, Institut Federal Jerman untuk Obat dan Peralatan Kesehatan ( BfArM) melaporkan total jumlah obat herbal yang mendapatkan lisensi dan terregistrasi pada pasar Jerman. Terdapat total sejumlah 2454 produk obat bahan alam yang memiliki otoritas pemasaran atau telah melengkapi prosedur registrasi. Ini berarti telah terjadi pertumbuhan sebesar 8 % sejak Agustus 2004. 1952 ( 79,5%) adalah tumbuhan tunggal dan 437 ( 20,4%) merupakan kombinasi lebih dari satu tumbuhan atau ekstrak. BfArM juga melaporkan jumlah keseluruhan anthroposophic dan obat homeopath terregistrasi, sebagian besar berbasis tumbuhan bahan alam ( BfArM, 2006)

top-herbal-crops.jpg

by : Maximillian

Pasar Tumbuhan Obat; Agrofarmasi ( Bagian 2)

In Market Review, Phytopharmacy on Februari 19, 2007 at 17:32

wallcoocom_photography_ff117.jpg

Indonesia termasuk salah satu pusat raksasa (mega center) keanekaragaman hayati. Meskipun mempunyai keanekaragaman hayati yang melimpah namun sebagian besar belum diketahui manfaatnya. Baru sekitar 600 jenis tumbuhan, 1000 jenis hewan dan 100 jenis jasad renik yang telah diketahui potensinya dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Indonesia, dengan kekayaan alamnya yang melimpah dan belum termanfaatkan secara optimal, mempunyai potensi yang tinggi untuk digunakan sebagai lahan pengembangan industri herbal medicine dan health food yang berorientasi ekspor.Kondisi lahan yang variatif tersedia mulai lahan dengan kondisi pantai hingga lahan pegunungan dengan sebagian besar lahan yang ada belum termanfaatkan dengan baik Komoditas – komoditas seperti tanaman atsiri, tanaman rempah-rempah dan biofarmaka-obatan secara tradisional adalah komoditas andalan ekspor Indonesia.

Berbeda dengan komoditas yang mempunyai pasar lokal, komoditas ini sangat tangguh terhadap gangguan krisis moneter karena basis harga pemasarannya dalam dollar Amerika. Dalam kondisi saat ini harga jual yang tinggi (dalam rupiah) ini menjadikan produk berbasis sumberdaya alam ini sebagai penghasil devisa yang tangguh. Pasar herbal dunia pada tahun 2000 adalah sekitar USD 20 milyar dengan pasar terbesar adalah di Asia (39 %), diikuti dengan Eropa (34 %), Amerika Utara (22 %) dan belahan dunia lainnya sebesar lima persen. Sedangkan nilai pasar untuk beberapa komoditas gromedisin dalam bentuk ekstrak herbal tunggal, menurut IRI untuk tahun 1999 (dalam juta USD) adalah Gingko 90,197; Ginseng 86,048; Garlic 71,474;Echinaceae 49,189; St. John’s Wort 47,774 dan Saw Palmetto 18,381. Dari total nilai pasar food supplement di Eropa pada tahun 1999 yaitu sebesar USD 13.5 milyar, sebesar 55 % diantaranya adalah produk herbal (sekitar USD 7.43 milyar). Dalam mana Jerman mendapat pangsa sekitar 48 % (+ USD 3.57 milyar), Perancis 24 % (USD 2 milyar), Italia 9 % (USD 0.73 milyar), Inggris enam persen ( USD 0.52 milyar) dan sisanya negara Eropa lainnya. Hal yang menarik adalah nilai penjualan obat-obatan di Jerman diperoleh melalui resep dokter yang biayanya ditanggung oleh sistem asuransi kesehatan, yaitu sebanyak 54,3% (DAZ-138 Jg Nr.19, 1998) dan sisanya diperoleh melalui cara pengobatan sendiri. Di Amerika Serikat, total pasar food supplement pada tahun 2000 mencapai USD 16.7 milyar, sebesar 25 % diantaranya (USD 4.2 milyar) adalah produk herbal. Untuk kawasan Asia, dalam hal ini Cina (dengan kurang lebih 1200 industri dan 600 di antaranya memiliki kebun terintegrasi dengan pabrik), dari sumber yang layak dipercayai dapat meraup omset USD 5 milyar (domestik) dan USD satu milyar (ekspor). Dari pangsa pasar sebesar itu, sebanyak 180 jenis Traditional Chinese Medicine (TCM) diakui oleh Pemerintah dan dimasukkan dalam Daftar Obat Program Pemerintah bersama – sama dengan obat modern. Nilai yang besar dapat teramati untuk penjualan TCM ke Hongkong, Benin, Jepang, Arab Saudi, dan Australia. Sementara dari daftar yang lain dapat diketahui bahwa nilai ekspor TCM, bahan baku maupun ekstrak dari Cina jauh lebih tinggi dari nilai i impornya. Lebih jauh tentang Cina, berdasar data terakhir tahun 2000, ada 11146 jenis biofarmaka yang dimanfaatkan pada industri TCM dengan memanfaatkan area seluas 760.000 hektar dengan total output 8.500.000 metrik ton dan secara rutin pembudidayakan sekitar 200 jenis biofarmaka utama sepanjang tahun. Saat ini produk industri herbal medicine dan health food Indonesia dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu kelompok jamu, kelompok ekstrak dan kelompok fitofarmaka. Secara umum upaya pengembangan obat tradisional mengarah kepada pengembangan kelompok fitofarmaka. Jika sasaran ini tercapai, maka peluang pemanfaatannya akan semakin besar; dengan tidak hanya digunakan sebagai produk swamedikasi tetapi juga dapat imanfaatkan dalam sistem pelayanan kesehatan formal.

Omset penjualan herbal medicine di Indonesia sangat kecil dibandingkan dengan di Cina, Jerman maupun USA. Berdasarkan hasil pemantauan diperkirakan di seluruh dunia terdapat 250.000 tumbuhan tinggi dan diperkirakan paling sedikit 20 % berupa tumbuhan obat yang digunakan dalam obat tradisional. Indonesia telah dikenal sebagai salah satu dari ketujuh negara yang mempunyai keanekaragaman hayati yang menakjubkan dan tercatat sebagai negara dengan kekayaan hayati nomor dua di dunia. Bagi manusia, sudah jelas manfaatnya yaitu sebagai obat, kosmetik, pengharum, penyegar, pewarna, senyawa model dan sebagainya. Pemanfaatan oleh manusia ini didasarkan pada keanekaragaman struktur dan aktivitas metabolit sekunder tersebut. Keanekaragaman metabolit sekunder ini memberikan harapan untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi obat dari berbagai macam penyakit seperti anti bakteri, anti jamur, antimalaria, anti kanker dan anti HIV.

Di Indonesia diketahui tidak kurang dari 7000 spesies tanaman dan tumbuhan yang memiliki khasiat obat aromatik. Hutan Indonesia memiliki spesies biofarmaka tidak kurang dari 9606 spesies. Dari jumlah itu, baru 3 – 4 % yang sudah dibudidayakan dan dimanfaatkan secara komersial atau tercatat 350 biofarmaka telah diidentifikasi mempunyai khasiat obat. Pemanfaatan bahan baku obat tradisional oleh masyarakat mencapai kurang lebih 1000 jenis, dimana 74% diantaranya merupakan tumbuhan liar yang hidup di hutan. Tingkat pemanfaaatan tumbuhan obat yang ada dapat dinyatakan masih jauh dari potensi yang ada di alam. Oleh karena itu dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku – simplisia, dan meluasnya permintaan pasar domestik maupun ekspor, akan meningkatkan pemanfaatan tumbuhan obat liar di hutan-hutan yang mungkin selama ini hanya dianggap sebagai semak belukar atau diambil hasilnya sebagai kayu bakar atau kayu bangunan. Dan kenyataan ini akan memaksa akan perlunya suatu kesadaran terhadap pemanfaatan

sumber daya alam hayati secara lebih hati-hati dan lebih optimal dan lebih didasarkan pada kesadaran bahwa alam merupakan stok bahan baku obat-obatan yang potensial. Peningkatan demand biofarmaka lokal berjalan seiring dengan semakin banyaknya jumlah industri jamu, farmasi dan kosmetika. Perkembangan jumlah industri obat tradisional dan keanekaragaman produknya, dengan ciri khas ekologi dan topografi masing-masing wilayah di Indonesia, terus meningkat sepanjang tahun. Demam obat-obat alami dan ramuan tradisional (back to nature) tidak hanya melanda konsumen di negara Indonesia namun juga sudah menjangkiti Eropa dan Amerika sejak beberapa tahun yang lalu. Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat, di pasar bermunculan pula beraneka jenis obat-obatan dari tumbuhan alami.Tak hanya dalam bentuk jamu tradisonal, obat alami itu telah diolah dan dikemas secara modern. Berbagai aneka obat dari ekstrak tumbuhan alias fitofarmaka yang gencar beriklan dan sekarang mulai jadi primadona. Contohnya Prolipid, Prouric, Prorelax, Prodiab, Ginko Biloba dan lain sebagainya. Prolipid, obat penurun kolesterol yang dibuat dari ekstrak daun jati Belanda dan tempuyung, yang diproduksi pabrik obat di Indonesia memiliki pangsa pasar cukup tinggi. Sejak diluncurkan empat tahun silam, penjualan obat Prolipid meningkat 100% setiap tahunnya. Secara nasional permintaan obat tradisional yang lainnya juga cukup besar dan terus meningkat. Tahun 2002 ini diperkirakan omzet obat alami secara nasional nilainya minimal satu triliun rupiah, dan tahun depan (tahun 2003) diperkirakan meningkat menjadi Rp. 1,4 triliun.Industri obat tradisional Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 1992 jumlah Industri Obat Tradisional Indonesia berjumlah 449 buah yang terdiri dari 429 buah Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) dan 20 buah Industri Obat Tradisional (IOT). Pada tahun 1999 jumlah Industri Obat Tradisional Indonesia telah meningkat menjadi 810 yang terdiri atas 833 buah IKOT dan 87 buah IOT (diperkirakan pada tahun 2002 ini sudah mencapai sekitar 1000 industri). Industri sebanyak ini mampu menghasilkan perputaran dana sekitar Rp. 1.5 trilyun per tahun. Peningkatan jumlah industri obat tradisional tersebut signifikan dengan peningkatan total nilai jual produk obat asli Indonesia di dalam negeri, yang mana 95,5 milyar rupiah pada tahun 1991 meningkat hingga mencapai nilai 600 milyar rupiah pada tahun 1999.

Disamping meningkatnya jumlah IKOT dan IOT, potensi pasar dalam negeri di Indonesia masih terbuka lebar dengan adanya kebiasaan masyarakat Indonesia meminum jamu. Survey perilaku konsumen dalam negeri menunjukkan 61,3 % responden mempunyai kebiasaan meminum jamu tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa budaya minum jamu yang merupakan tradisi leluhur sebagian bangsa Indonesia sudah memasyarakat. Ini adalah potensi besar untuk mengembangkan pasar domestik dari produk biofarmaka.

Prospek pemasaran biofarmaka di Indonesia masih cerah. Hal ini didukung selain jamu tetap digemari oleh masyarakat Indonesia secara luas karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya masyarakat, harga jamu juga lebih murah ibandingkan obat farmasi serta sugesti masyarakat terhadap khasiat jamu adalah salah satu faktor pendukung pengembangan industri jamu. Potensi biofarmaka Indonesia juga masih besar untuk digali. Sebagai negara yang kaya akan jumlah jenis biofarmaka dan yang merupakan negara kedua terbesar setelah Brazil, Indonesia memiliki 40 000 spesies tanaman dan 940 diantaranya berkhasiat obat. Namun demikian, dari 646 biofarmaka yang diteliti baru sekitar 465 jenis yang dimanfaatkan oleh Industri Tradisional, sehingga prospek biofarmaka untuk lebih dieksplorasi dan dikembangkan seiring kemajuan ilmu dan teknologi terbuka lebar. Peningkatan ekspor simplisia biofarmaka ke berbagai negara tujuan cukup meningkat sejalan dengan meningkatnya industri-industri farmasi di dunia. Sebagai gambaran, total nilai dagang biofarmaka dunia mencapai US$ 45 miliar pada tahun 2001, dan diperkirakan akan terus meningkat menjadi US$ 5 triliun pada tahun 2005. Dari total nilai perdagangan produk biofarmaka dunia tersebut, omzet penjualan biofarmaka Indonesia baru mencapai US$ 100 juta per tahun. Hal ini berarti, kontribusi ekspor biofarmaka Indonesia baru sekitar 0,22 % saja. Walaupun kontribusi pada nilai perdagangan dunia kecil, namun secara riil ekspor simplisia biofarmaka Indonesia pada tahun 1979 sebesar US$ 700 687 dan pada tahun 1987 meningkat sebesar US$ 3 733 000. Kecenderungan masyarakat dunia yang memprioritaskan produk yang ekologis daripada kimiawi, menyebabkan demand akan obat bahan alami juga akan meningkat terus. Nilai obat modern yang berasal dari ekstrak tumbuhan tropis di dunia pada tahun 1985 mencapai US$ 43 milyar, 25 % obat modern tersebut bahan bakunya berasal dari tumbuhan. Sedangkan nilai jual obat tradisional pada tahun 1992 di dunia mencapai US$ 8 milyar. Ekspor bahan baku dan simplisia biofarmaka Indonesia mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan. Tahun 1979 nilai jual biofarmaka Indonesia adalah US$ 700.687 dan pada tahun 1987 meningkat menjadi US$ 3.733.000. Dengan demikian terjadi peningkatan sebesar 432,76%.

Peningkatan rata-rata per tahun sejak tahun 1979 hingga tahun 1984 adalah sebesar 29.47 % per tahunnya. Jika seandainya tidak ada faktor-faktor lain ceteris paribus yang mempengaruhi sampai tahun 1984, maka ekspor biofarmaka Indonesia tahun 2000 dapat mencapai US$ 26.055.063 dan pada tahun 2001 dapat mengekspor 839 590 000 Kg dengan nilai US$ 890 240 000. Beberapa negara pengimpor terbesar biofarmaka asal Indonesia pada kurun tahun 1987 hingga tahun 1991 adalah Singapore, Taiwan, Hongkong dan Jepang. Secara umum, trend nilai penjualan biofarmaka yang diekspor ke berbagai negeri berfluktuatif, menurun dalam kurun waktu 1987 – 1990 kemudian naik pada tahun 1991. Selanjutnya, peningkatan ekspor simplisia biofarmaka ke pasar internasional dapat ditunjukkan dari neraca perdagangan internasional biofarmaka Indonesia adalah positif pada lima tahun terakhir (tahun 1996 – 2001). Pada kurun waktu tersebut, nilai surplus ekspor tertinggi terjadi pada tahun 1997 dengan nilai sebesar US$ 400 476 000.

Berbagai jenis biofarmaka Indonesia banyak diminta oleh pasar dunia internasional. sebagai gambaran, sebanyak dari 45 macam obat penting di Amerika berasal dari tumbuhan obat dan aromatik tropika, 14 spesies diantaranya berasal dari biofarmaka asli Indonesia. Hasil penelitian yang dilakukan oleh International Trade Centre (ITC) UNCTAD/GATT di enam negara terbesar pasaran biofarmaka-obatan dan olahan-olahan, mencatat beberapa jenis tanaman yang memiliki tingkat demand tinggi di negara-negara industri farmasi.

Beberapa negara industri farmasi dan negara tujuan ekspor komoditas biofarmaka Indonesia yang memiliki potensi pasar yang baik dan berprospek adalah USA, Perancis, Jepang, FRG, Switzerland dan Inggris. Disamping itu, jenis-jenis biofarmaka yang diminta oleh negara-negara industri farmasi, seperti tapak dara (Catharanthus roseus),kina (Catharanthus roseus), kecubung (Datura metel), pulai pandak (Rauwolfia vomitoria) dan valerian (Valerian officinalis) umumnya dapat tumbuh di Indonesia dan tidak membutuhkan persyaratan yang spesifik untuk tumbuhnya. Jika dilihat dari besarnya peluang pasar di luar negeri maka dalam kaitannya dengan peningkatan jenis bahan obat alam yang diekspor ini perlu dilakukan pengecekan tentang jenis-jenis simplisia yang dibutuhkan oleh pasaran internasional dan dapat diusahakan di Indonesia mengingat Indonesia memiliki sumberdaya alam yang sangat besar. Beberapa simplisia biofarmaka tertentu yang saat ini dibutuhkan oleh pasar internasional dan dapat diusahakan di Indonesia serta negara yang berpotensi untuk menerima pasokan dari Indonesia, yaitu

(1) Komoditi yang dibutuhkan negara Jepang, adalah: Zizyphi Fructus, Cinanomi Cortex, Amomi Semen, Cinchonae Cortex, Caryophylli Flos, Cardamomi Fructus, Bupleuri Radix, Rhei Rhizoma, Coix lacrymajobi, dan Rauwolfiae Radix.

(2) Komoditi yang dibutuhkan negara Republik Federasi Jerman, adalah: Kulit kina, alkaloid kina (Cinchonae Cortex), ketumbar (Coriandri Fructus), lidah buaya (Alloe vera), adas (Anisi Fructus), biji pinang (Arecae Semen), daun kayu putih (Eucalypti Folium), akar pulai pandak (Rauwolfiae Radix), kulit kayu manis (Cinnamomi Cortex), meniran (Phyllanti Herba), kapulaga (Amomi Fructus), dan Sambiloto (Andrographidis Herba).Beberapa spesies biofarmaka yang saat ini mendapat perhatian dalam perdagangan internasional dan memiliki prospek yang cerah, antara lain adalah tapak dara (Catharanthus roseus), kecubung (Datura fastuosa dan Datura metel), serta pulai pandak (Rauwolfia sp), Digitalis sp, dan Dioscoreae sp.Sedangkan BPEN mencatat trend demand komoditas biofarmaka yang banyak diekspor ke pasar internasional adalah jahe (Zingiber officinale). Ekspor Indonesia akan komoditas jahe (Zingiber officinale) meningkat 101,8 % setiap tahunnya untuk kurun waktu antara tahun 1986-1990. Peningkatan ekspor jahe ini menunjukkan pangsa pasar jahe Indonesia di pasar Internasional dari 2,4 % tahun 1988 menjadi 12,9 % tahun 1991, walaupun terjadi penurunan demand jahe di pasar internasional pada tahun 1995 menjadi 9 % per tahun, namun demand kembali meningkat pada tahun 2002 menjadi 13 % setiap tahunnya. Ekspor jahe Indonesia rata-rata meningkat 32.75 % per tahun. Sedangkan pangsa pasar jahe Indonesia terhadap pasar dunia 0,8 %, hal ini berarti bahwa peluang Indonesia sangat besar untuk meningkatkan ekspor.

Walaupun volume ekspor jahe cukup tinggi, tetapi sebagian besar ekspor jahe masih dalam bentuk bahan mentah (rimpang jahe segar) dan setengah jadi (jahe asinan dan jahe kering), sedangkan dalam bentuk yang diolah (produk jadi) sangatlah sedikit. Lima negara yang menampung hasil ekspor komoditas jahe dalam bentuk jahe segar adalah Malaysia, Hongkong, Perserikatan Emirat Arab, Singapura dan Saudi Arabia. Sedangkan lima negara tujuan ekspor komoditas jahe kering Indonesia adalah Jepang, Singapura, Thailand, India dan Perserikatan Emirat Arab.

Jika dibandingkan, volume dan nilai ekspor komoditas jahe segar (rimpang) jauh lebih besar daripada jahe kering (simplisia). Sebagai contoh, pada tahun 1998 volume dan nilai ekspor jahe segar masing-masing sebesar 32 807 661 Kg dan US$ 9 286 161 jauh lebih besar dibandingkan volume dan nilai ekspor jahe kering masing-masing sebesar 507 550 Kg dan US$ 554 023. Besarnya volume dan nilai ekspor rimpang jahe ini tidak menutup kemungkinan jahe tersebut akan diproses lebih lanjut, karena dari sisi harga lebih murah menjual rimpang jahe daripada bentuk simplisia. Penggunaan jahe di luar negeri sekitar 35 % untuk kebutuhan rumahtangga dan 65 % untuk keperluan industri. Komoditas jahe gajah di luar negeri, dimanfaatkan sebagai bahan makanan, minuman, bentuk rimpang segar, ataupun sebagai food supplement yang banyak diminati konsumen di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Asia Selatan, dan lain sebagainya atau sebagai jahe asinan di Jepang. Disamping itu, komoditas jahe gajah digunakan sebagai obat batuk dalam bentuk pil di negara India dan sebagai tonikum dan obat perangsang di negara Cina dan Malaysia. Beberapa perusahaan, seperti PT Emeralindo Hijau Lestari, menjadikan komoditas jahe gajah sebagai core business bagi perusahaannya dengan sasaran ekspor ke pasar Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Pakistan, Bangladesh, Singapura, Brunei, Jepang, Perancis dan Kanada. Seperti yang telah dikemukakan di depan, prospek tanaman jahe di pasar internasional saat ini cukup cerah, dimana laju konsumsi dunia meningkat sebesar 6,7 % setiap tahunnya, karena peningkatan kebutuhan dunia akan produk jahe yang belum dapat tergantikan fungsinya dengan produk lain. Nilai ekspor jahe dunia secara terinci diperlihatkan bahwa nilai ekspor jahe dunia untuk tahun 2000 tercatat sebesar US$ 128 112 000. Lima negara pengekspor jahe terbesar adalah China, Thailand, India, Indonesia dan Brazil, dengan nilai ekspor masing-masing adalah US$ 71 138 000,-; US$ 18 394 000,-; US$ 5 914 000,-; US$ 5 797 000,-; dan US$ 576 000,- Dari uraian diatas, jika dilihat dari prospek biofarmaka maka masalah pemasaran jahe sebenarnya bukanlah masalah, karena pasar domestik dan internasional cukup terbuka lebar. Namun kenyataannya, Indonesia belum dapat memenuhi demand pasar internasional yang terus meningkat tersebut. Jahe gajah yang harganya US$ 300/ton, Indonesia baru bisa men-supply 10 % dari permintaan dunia yang berjumlah 30.000 ton/tahun.

Demikian pula halnya dengan biofarmaka yang lain. Jika dilihat dari prospeknya, maka pemasaran di luar negeri bukanlah masalah karena pasar biofarmaka ini masih belum optimal dan terbuka lebar, sementara pasokannya jauh lebih kecil. Tanaman kapulaga (Ammomum cardamomum Auct.) misalnya, dari demand negara Cina yang berjumlah 400 ton per bulan, negara Indonesia baru bisa men-supply 40 ton atau hanya sekitar 10 % -nya. Komoditas kapulaga ini selain diminta negara Cina, juga diminta oleh negara Singapura, Korea dan Hongkong. Dari demand negara Singapura akan kapulaga gelondong sebesar 180 ton per tahun, Indonesia baru dapat memenuhi sebesar 80 ton kapulaga gelondong per tahun. Sementara demand Singapura untuk kapulaga kupasan 72 ton per tahun tidak dapat terpenuhi karena keterbatasan bahan dan teknologi yang dimiliki oleh para petani dalam negeri. Permintaan kapulaga kupasan oleh negara Korea sebesar enam ton/tahun dan negara Hongkong sebesar lima ton per tahun, juga tidak terpenuhi.Contoh lainnya adalah tanaman cabe jawa (piper retrofractum), dari permintaan dunia yang berjumlah 6.000.000 ton, Indonesia baru bisa mensuplai 1/3 nya. Sama halnya dengan komoditas tanaman kencur (Kaemferia Galanga, Linn), yang harganya mencapai US$ 1.100/ton, dari permintaan ekspor dunia sebesar 200 – 300 ton per tahun hanya terpenuhi sekitar 62 ton per tahun. Disamping itu, Indonesia tidak dapat memenuhi demand pasar dunia internasional akan komoditas bangle (Zingiber purpureum Roxb.) dan biofarmaka lempuyang (Zingiberis aromaticum dan Zingiberis zerumbeti)

This article is supported by :

logo1.jpg

Omzet Jamu; 10 Triliun !

In Phytopharmacy on Februari 19, 2007 at 03:23

Omzet jamu bisa mencapai Rp 10 triliun pada 2008 atau meningkat 3,3 kali lipat dibandingkan omzet penjualan saat ini sebesar Rp 3 triliun. Untuk mencapai itu, pemerintah harus menghilangkan produk-produk jamu ilegal di pasaran yang saat ini beromzet sekitar Rp 4 triliun.

Brazil menjadi negara terbesar dalam omzet penjualan jamu sebesar US$ 20 miliar, disusul Cina sebesar US$ 6,6 miliar dan Malaysia US$ 1,2 miliar.

Indonesia terdapat 1.300 perusahaan jamu dengan omzet penjualan sekitar Rp 3 triliun. Lima perusahaan di antaranya merupakan perusahaan jamu terbesar, yakni Mustika Ratu, Sari Ayu, Air Mancur, Nyonya Meneer, dan Sido Muncul. (idi)