Perusahaan farmasi adalah sebuah ”bisnis”, paham ? Jadi, ini adalah masalah profitabilitas, penguasaan pasar, pengaturan kapital, investasi riset -inovasi teknologi, dan pertumbuhan bisnis. Obat, adalah ”produk” yang membutuhkan pasar- Dan pastikan juga bahwa pasar memang butuh produk, walaupun dengan ”dipaksa- merasa- butuh”-. Dan pasarnya adalah pasien, ya ? Anda butuh konsumen untuk membeli produk Anda, jika Anda ingin profitabilitas perusahaan Anda sehat, ya kan ? Dan, jika produk perusahaan Anda adalah obat, maka Anda membutuhkan jejaring pemasar yang dipercaya konsumen alias pasien, yaitu dokter ( Dokter punya merek personal yang dipercaya secara emosional oleh pasien dan secara kognitif-kompetensi oleh perusahaan obat ). Mutualisme yang positif secara bisnis, namun ilegal di mata hukum positif negara, ini ada aturan yang membatasi.
Likuiditas pasar obat, sangat terbatas, apalagi jika menyasar hanya pada konsumen kuratif ( penyembuhan), beda cerita jika produk bersegmen konsumen promotif ( pertahanan) dan preventif ( pencegahan), semacam makanan fungsional, vitamin, dan suplemen energi. Ketiga produk tersebut, sama masuk ke kategori standar produksi farmasi, tetapi pasarnya sangat likuid, dan yang pasti profitabilitasnya ”basah kuyup”, tidak aneh jika raksasa Pfizer, Merck, Bayer, Glaxo Smith-Kline, , IMS Health, dan Takeda- produk Takeda yang Vitamin C walaupun dosis tinggi dan melebihi kadar yang sebaiknya dikonsumsi harian konsumen, ternyata laku juga. Endorser memanfaatkan Miss Universe- yang perempuan itu- yang ”enak dipandang” itu memang efektif membujuk konsumen ( contohnya penulis blog ini- yang laki- laki ini- sendiri)- selalu punya derivasi produk yang menyumbang kas signifikan bagi profitabilitas korporasi. ( Kalau mau contoh yang lebih luar biasa, Red Bull ( KratingDaeng) bisa dijadikan contoh bagus)
Investasi riset yang biasanya masuk pada angka 10% sudah tinggi, bisa lebih tinggi untuk perusahaan farmasi, belum lagi faktor uji klinik hingga tiga tahap serta uji bioekivalensi produk kompetitor yang membutuhkan investasi SDM dan teknologi tidak murah. Sangat wajar jika perusahaan farmasi membutuhkan kapital besar, berikut pemasaran agresif untuk kesehatan profitabilitas dan pertumbuhan perusahaan yang positif.
Kasus berikut adalah yang masih hangat dibicarakan di Amerika Serikat, hingga Juli 2008 ini :
Penggunaan obat anti rokok dari Pfizer memicu debat tentang apakah pasien seharusnya diberi tahu soal ikatan antara perusahaan farmasi dan para dokter. Pada April 2008, empat pakar menerbitkan makalah untuk mengusulkan bahwa perokok dirawat analog dengan pasien penyakit kronis semacam diabetes. Artikel yang diterbitkan dalam jurnal prestisius Annals of Internal Medicine ini mungkin akan menyelinap secara sembunyi- sembunyi ke dalam tumpukan literatur anti merokok lain apabila dua paragraf terakhirnya tidak dibaca dengan seksama.
Disitu, para penulis, Dr. Michael B. Steimberg dan Dr. Jonathan Foulds, mengaku telah menerima bayaran dari pembuat produk- produk anti merokok. Salah satunya adalah Pfizer. Obat kontroversial dari perusahaan itu, Chantix, mendapat tanggapan positif dari para dokter. Padahal, penggunaan Chantix secara berlebihan dapat menimbulkan pemikiran untuk bunuh diri dan gejala penyakit kejiwaan lainnya.
Pengakuan ini memperkuat kecurigaan adanya dokter yang ’bermain mata” untuk mendongkrak penjualan produsen farmasi. ” Ada keuntungan tersendiri bagi perusahaan obat yang menjual produk mereka kepada para perokok seumur hidup- dan bukan hanya selama enam minggu-,” ujar Adriane J Fugh- Berman, ahli dari Georgetown University yang turut menulis serangan internet terhadap makalah itu untuk The Hastings Center, kelompok riset etika kesehatan dari Garrison ( New York). ” Obat- obatan dapat menjadi tambahan yang berguna bagi mereka yang ingin berhenti merokok. Tapi, tujuan utamanya haruslah penghentian ( kebiasaan merokok) itu sendiri,” katanya.
Makalah di Annals muncul hampir bersamaan dengan dipertegasnya tanda peringatan pada label Chantix oleh Pfizer atas desakan Food and Drug Administration ( FDA) atau POM-nya AS. Adanya tanda peringatan ini justru menimbulkan kekhawatiran bahwa ada dokter yang dibayar oleh industri farmasi untuk melindungi obat itu, yang penjualannya di AS bernilai lebih dari $ 680 juta pada 2007.
”Kalau Chantix mempunyai cacat, akibatnya bisa sangat besar,” ujar Dr. Daniel Seidman, direktur klinik yang bertugas menangani pasien yang ingin berhenti merokok di Columbia University. ” Orang- orang itu mungkin berpikir uang dari industri tidak mempengaruhi pendapat mereka mengenai obat tersebut. Tapi kenyataan berkata sebaliknya. Jika ada seseorang yang menggaji Anda, akan ada bias,” katanya. Dalam menjalankan praktek, Seidman mengaku tidak menerima bayaran sepeser pun dari para produsen. Read the rest of this entry »

