Peningkatan Konsumsi Antibiotik, Efek Resistensi ?

impor-antibiotik-grafik.jpg

Imports of antibiotics basic materials substantially large Antibiotics are one of the main pharmaceutical basic materials imported by the country. Based on a survey by Data Consult, three of 11 pharmaceutical companies surveyed are major importers of antibiotics namely PT Kalbe Farma, PT Combiphar, and PT Sanbe Farma. PT Kalbe Farma imports amoxycillin, PT Combiphar imports amoxycillin and ampicillin and PT Sanbe Farma imports ofloxacin, oxytetracycline base, rifampicin, roxythrimycin, and tetracycline HCL.

Paracetamol, an active ingredient for analgesics is also imported in large quantity. Paracetamol dominates 85% of imports of analgesic basic materials.Paracetamol is imported mainly from China. The only company producing paracetamol PT Riasima Abadi, which came on stream in 1982 could not meet domestic requirement. The company was almost idle through 1992 and 1993 because of failure in market competition. Earlier the company enjoyed protection with import restriction and tariff barriers. Now, however, the protection has been removed and the import duty has been reduced on that material.

Pasar antibiotik meningkat ? Secara tidak langsung bisa dilihat dari konsumsi bahan baku yang terus menanjak.

Ada pembahasan tersendiri mengenai kultur tidak percaya diri dokter dalam menghadapi pasien, yaitu dengan tergesa untuk memberikan antibiotik. Efek jangka panjang dari kebiasaan ini adalah resistensi terhadap antibiotik. Jika pasien terkena penyakit yang sama untuk waktu yang berbeda, membutuhkan dosis lebih untuk bisa sembuh

Apabila ketidakpercayaan diri dokter ini tidak bisa dihilangkan, atau minimal dikurangi, grafik konsumsi bahan baku antibiotik akan terus meningkat.

by : Maximillian

About these ads

3 comments

  1. Ass pa kbr saudara???

  2. ludi

    pentingnya tingkat pengetahuan masyarakat umum tentang antibiotik sangat perlu ditingkatkan untuk mengurangi terjadinya resistensi kuman pada saat pemakaian antibiotik,tentunya hal tersebut merupakan tugas banyak pihak dengan disertai dukungan penuh dari orang2 yang terkait

  3. Saya melihat masalah resistensi itu adalah masalah yang pelik, jika ditinjau dari faktor penyebabnya yang kompleks. Salah satu faktor sudah anda sebutkan. Bagaimana dengan faktor yang lainnya ?
    1. Bagaimana dengan tingkat kepatuhan pasien minum antibiotik. Dokter sering mewanti-wanti bahwa antibiotik harus dihabiskan sesuai waktu yang disarankan. Namun bila demam hilang, gejala lenyap, umumnya sisa antibiotik ditinggalkan begitu saja. Bukankah ini juga pemicu utama resistensi ?
    2. Datanglah ke apotik mana saja yang terdekat di kota anda. Minta beli amoksisilin, saya yakinn hanya sedikit penjaga apotik (entah apoteker atau asistennya) yang menolak permintaan itu. Jelas-jelas di sana tertulis HANYA DENGAN RESEP DOKTER. Bukankah ini celah konsumsi antibiotik yang sangat besar ?
    3. Aturan baku tentang pelarangan apotek memberikan antibiotik tidak tegas. Berbeda dengan obat-obat yang dianggap menimbulkan bahaya langsung seperti narkotik. Namun bukankah bahaya jangka panjangnya sudah kita derita sekarang ?

    Masalah resistensi adalah masalah bersama. Perlu kesediaan kita semua untuk merasa bertanggung jawab untuk mengatasi masalah ini. Beban ini bukan di pundak dokter saja, akan tetapi di pundak kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 279 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: