Maximillian

Arsip untuk April, 2007

Apotek; Bisnis Basah di Samudera Biru

In Supply Chain on April 11, 2007 at 04:30

trend-pasar-apotek-2.jpg

Bisnis apotek dapat dibandingkan dengan skala ritel umum atau franchise Mart yang marak mengepung masyarakat. Secara teknis bisnis, apotek membutuhkan manajemen khusus karena diferensiasi serta spesifikasi produk yang kuat pada produknya, produk kesehatan, khususnya obat.

Apotek adalah bisnis,sedangkan profesi apoteker sebagai penanggungjawabnya adalah bentuk pelayanan kesehatan. Lalu, bagaimana mewujudkan sinergi yang baik dari segi bisnis dan pelayanan ? Ya, apotek harus menjadi tempat yang nyaman, leluasa, serta ramah dengan pasien atau konsumen. Ramah, leluasa, dan nyaman ini adalah sebuah personifikasi dari tata letak, pencahayaan, serta tata ruang apotek sehingga pengunjung- yang bisa saja bukan pasien atau konsumen, melainkan pengantar atau keluarga- menjadi betah dan merasa “diterima” dengan baik.Kenapa saya menyebut tata letak pada posisi penting ? Ya, ini adalah kesan pertama yang menjadi sentuhan awal ( first touch) yang memberikan efek psikologis “lebih” dibandingkan dengan suasana yang terkesan kaku dan formal.

Selain aspek desain ruangan serta tata letak, pelayanan yang efisien- tepat guna, serta efektif- tepat sasaran untuk pengunjung- konsumen dari pihak apoteker maupun asistennya akan memberikan sentuhan personal yang membuat mereka “percaya” ( trust) dengan sistem pelayanan apotek. Sifat kepercayaan (trust) ini akan menghasilkan loyalitas ( loyalty) konsumen terhadap apotek yang bersangkutan. Senyuman manis dan pelayanan ramah, serta penjelasan yang mudah untuk dipahami oleh konsumen akan membuat konsumen merasa “diterima” dengan baik, dan tentunya, dimanusiakan.

trend-apotek.jpg

margin high volume.

Apotek adalah bisnis yang sangat menarik dan akan senantiasa ” basah”. Dengan perhitungan bisnis yang tepat dan kuantitatif, beserta manajemen perubahan yang cepat dan responsif dengan pasar, apotek akan selalu jadi primadona. Karena dari segi marketing, apotek memiliki posisi, diferensiasi, dan apalagi bila memiliki brand kuat, bukan tidak mungkin apotek akan memiliki konsumen loyal dalam komunitas tertentu.

Jika menginginkan sebuah “benteng” bisnis yang kuat, metode pembuatan apotek “franchise” dengan menerapkan sistem jaringan seperti yang digunakan oleh sistem Mart, apotek akan jauh lebih kokoh serta responsif dengan pasar. Sebuah konsep “Drug Store” yang cerdas, lengkap, serta stok yang senantiasa mengalir cepat, tentunya adalah pilihan inovatif dalam kompetisi perapotekan yang terlihat dari grafik akan semakin ketat.

Dari grafik terlihat bahwa tren obat ethical ( dengan resep dokter) terus meningkat, berarti bahwa untuk apotek yang setara dengan bisnis skala ritel, dimana volume akan bicara banyak, prospeknya akan sangat cerah. Jika ingin memperbesar profit, maka apotek juga dapat melakukan diferensiasi dengan peletakan obat OTC ( Over The Counter/ Obat Bebas) pada tempat yang bisa dijangkau oleh konsumen, seperti layaknya swalayan, karena untuk OTC ini memang sifatnya likuid.

Apotek juga harus memainkan strategi basis data konsumen, untuk mengikat konsumen loyal, selain strategi low

trend-ethical-otc.jpg

Serapan pasar obat di Indonesia memang kecil, bahkan salah satu yang terkecil di Asia Tenggara. Namun potensi pasar Indonesia hampir setara dengan Cina dan India. Nah, dari grafik terlihat bahwa potensi “tidur” ini sudah mulai “terbangun”, walaupun sangat pelahan, intinya, pasar apotek adalah sebuah samudera biru yang belum terlalu banyak pemain bermain di dalamnya. Ini adalah sebuah peluang emas! Bagaimanapun, samudera merah, dengan pertarungan berdarah- darah karena pertarungan antar pemain tidak akan menyenangkan bagi penyuka kemapanan, karena dibutuhkan inovasi terus menerus beserta responsivitas tinggi terhadap pasar.

Trade off yang ada saat ini adalah, bagaimana cara membangunkan potensi pasar obat raksasa yang dimiliki oleh Indonesia ? Dan inilah yang menarik dari bisnis bukan ? High Risk High Return, always, business as usual!

Intinya adalah, bagaimana membuat sebuah wujud apotek yang humanis, bersih, ramah, serta memudahkan dan memanusiakan konsumen lengkap beserta penjelasan yang komunikatif dan memudahkan mereka mengenai produk kesehatan. Pelayanan ini harus bersama dengan sistem bisnis yang kuat, responsif dengan pasar, serta memiliki strategi brilian untuk membangunkan potensi pasar saat masih tertidur dan bersaing dengan pemain lain manakala konsumen telah tercerdaskan.

Mau tahu cara mendirikan apotek ? Mungkin Anda bisa berkunjung ke tetangga yang satu ini.

Anda juga bisa mempelajari pengaturan mata rantai distribusi obat lewat bagan di bawah ini :

drugs-selling-scheme

by : Maximillian

Indonesia; Pasar Irasional dan Emosional

In Food and Drugs Administration, Service Area on April 11, 2007 at 04:06

.perbandingan-pasar.jpg

Nilai pasar rokok sebesar 161 trilyun/ tahun, atau setara dengan 8 kali nilai pasar farmasi. Logikanya, Indonesia adalah captive market untuk farmasi jika banyak masyarakat yang sakit karena rokok. Namun, angka kematian rokok yang tinggi di Indonesia beserta rendahnya serapan pasar farmasi menunjukkan bahwa apresiasi masyarakat Indonesia terhadap kesehatan sangat rendah.

Edukasi pasar yang kurang, rendahnya tingkat pendidikan, beserta tingginya harga obat yang diimbangi dengan rendahnya daya beli masyarakat, memberikan jawaban alternatif dari angka statistik di atas.

by : Maximillian

Peningkatan Konsumsi Antibiotik, Efek Resistensi ?

In Service Area on April 9, 2007 at 04:29

impor-antibiotik-grafik.jpg

Imports of antibiotics basic materials substantially large Antibiotics are one of the main pharmaceutical basic materials imported by the country. Based on a survey by Data Consult, three of 11 pharmaceutical companies surveyed are major importers of antibiotics namely PT Kalbe Farma, PT Combiphar, and PT Sanbe Farma. PT Kalbe Farma imports amoxycillin, PT Combiphar imports amoxycillin and ampicillin and PT Sanbe Farma imports ofloxacin, oxytetracycline base, rifampicin, roxythrimycin, and tetracycline HCL.

Paracetamol, an active ingredient for analgesics is also imported in large quantity. Paracetamol dominates 85% of imports of analgesic basic materials.Paracetamol is imported mainly from China. The only company producing paracetamol PT Riasima Abadi, which came on stream in 1982 could not meet domestic requirement. The company was almost idle through 1992 and 1993 because of failure in market competition. Earlier the company enjoyed protection with import restriction and tariff barriers. Now, however, the protection has been removed and the import duty has been reduced on that material.

Pasar antibiotik meningkat ? Secara tidak langsung bisa dilihat dari konsumsi bahan baku yang terus menanjak.

Ada pembahasan tersendiri mengenai kultur tidak percaya diri dokter dalam menghadapi pasien, yaitu dengan tergesa untuk memberikan antibiotik. Efek jangka panjang dari kebiasaan ini adalah resistensi terhadap antibiotik. Jika pasien terkena penyakit yang sama untuk waktu yang berbeda, membutuhkan dosis lebih untuk bisa sembuh

Apabila ketidakpercayaan diri dokter ini tidak bisa dihilangkan, atau minimal dikurangi, grafik konsumsi bahan baku antibiotik akan terus meningkat.

by : Maximillian

Local Pharmacy Marketshare, Hm, Any Comment ?!

In Market Review on April 1, 2007 at 14:24

10-besar-penjualan-obat-indonesia.jpg

Pasar farmasi nasional saat ini masih didominasi oleh pemain lokal. Data IMS 2004 menunjukkan bahwa PT Sanbe Farma masih menempati peringkat teratas dari sisi penjualan dengan nilai Rp1,54 triliun (7,37% pangsa pasar), disusul oleh PT Kalbe Farma Tbk. – Rp1,22 triliun (5,86%) dan PT Dexa Medica – Rp1,15 triliun (5,53%). Bagaimana dengan pemain asing? PT Pfizer ternyata hanya menempati peringkat ke-6 dengan nilai penjualan Rp762,1 miliar (3,65%). Dengan kondisi seperti ini, upaya Menkes menetapkan HET agaknya bakal mendapat ganjalan.

penjualan-industri-farmasi.jpg

by : Maximillian

Indonesia’s Pharmacy Market, How Come !!

In Market Review on April 1, 2007 at 14:19

pasar-farmasi-asean.jpg

Di antara negara-negara ASEAN, pasar industri farmasi Indonesia memang terbilang besar. Data 2003 menunjukkan bahwa nilai pasar farmasi Indonesia mencapai US$1,7 miliar. Bandingkan dengan Singapura yang cuma US$269 juta, Thailand US$1,04 miliar, atau Malaysia yang US$374 juta. Betul, di sini faktor jumlah penduduk juga ikut menentukan.

Meski begitu, tingkat konsumsi obat Indonesia masih lebih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Menurut data IMS 2004, Singapura menempati peringkat teratas dalam konsumsi obat per kapita, disusul oleh Thailand, Malaysia, dan Filipina. Konsumsi obat Indonesia baru US$7,2 per kapita, atau sedikit di atas Vietnam yang US$5,4 per kapita.

konsumsi-obat-asean.jpg

by : Maximillian

Generik Market, The Government Protection for Poor

In Market Review on April 1, 2007 at 14:10

persentase-generik.jpg

Generik, obat ini adalah satu-satunya jenis obat yang harganya dapat dikontrol oleh pemerintah, dan seharusnya mendapat prioritas untuk dikembangkan. Sejak 1998 pasar obat generik terus tumbuh dan pada 2004 nilainya mencapai Rp2,9 triliun, atau menguasai 14% pangsa pasar farmasi nasional.

Pangsa ini sesungguhnya terbilang rendah. Di negara maju, seperti AS, pangsa pasar obat generiknya mencapai 50%. Di Taiwan bahkan 70%, dan Jerman 40%. Sementara itu, di negara tetangga, Singapura dan Malaysia, pangsa pasar obat generik mencapai 25% dan 20%.

Indonesia” Pharmacy Raw Material, 90% Import

In Pharmaceutical Engineering, Supply Chain on April 1, 2007 at 14:04

raw-material-demand-project.jpg

Demand Projection for Pharmaceuticals

The market of pharmaceuticals in the country is expected to continue increasing by some 15-18 % a year within the next five years. . There were three factors contributing to optimistic expectation . First and the most important factor was rupiah stability hovering around 9,000 per U.S. dollar. The rupiah stability is important as imported basic materials accounted for 85%-90% of the cost of good sold for pharmaceutical products in the country. The 5% hike in the prices of medicines had no much effect on the sales as the consumers have been used to 8%-10% inflation rate.

Second, was the growing awareness of the people of health as indicated by the fast growing consumption of health drinks (energy drink) since 2002, and an increase in per capita sales.

Third, was per capita consumption, which was still among the lowest in Asean. Per capita consumption of pharmaceuticals was about US$ 8 a year as against US$ 15 in Malaysia, the Philippines and Thailand and about US$ 25 in Singapore.

Pasar obat Indonesia potensial, namun data lapangan menunjukkan bahwa penyerapan pasar sangat kecil, bahkan paling kecil di Asia Tenggara. Denga ukuran jumlah penduduk Indonesia yang besar, ini memang aneh.

Banyak variabel irasional yang terbentuk dari konstruksi budaya lokal, terutama pandangan bahwa kesehatan bukan hak orang yang tidak memiliki penghasilan layak.

Dari data penjualan obat di Indonesia, dapat ditarik kesimpulan bahwa berbisnis bahan baku sintetik akan sangat tidak menguntungkan, terlihat dari penyerapan produk obat sintetik pada sektor hilir farmasi.

market-value.jpg

Hampir 90% bahan baku yang digunakan di industri farmasi Indonesia adalah impor. Ketergantungan yang teramat tinggi pada bahan baku impor menjadikan industri farmasi Indonesia sangat rawan, apalagi dengan keadaan kurs rupiah yang tidak stabil, manakala rupiah anjlok, perusahaan akan ikut goyah.

Mengenai impor bahan baku sebenarnya semua negara di dunia juga melakukannya, bahkan AS pun sekitar 50% bahan baku obatnya juga diimpor,namun yang menyebabkan mereka terus tumbuh dan seimbang antara neraca impor dengan ekpornya adalah karena bahan baku lokalnya pun diekspor. Lain dengan Indonesia, meski 90% bahan bakunya impor dengan bahan baku lokal sejumlah 10 %, bahan baku lokal ini belum bisa diekspor.