Pasar Tumbuhan Obat; Agrofarmasi ( Bagian 2)

wallcoocom_photography_ff117.jpg

Indonesia termasuk salah satu pusat raksasa (mega center) keanekaragaman hayati. Meskipun mempunyai keanekaragaman hayati yang melimpah namun sebagian besar belum diketahui manfaatnya. Baru sekitar 600 jenis tumbuhan, 1000 jenis hewan dan 100 jenis jasad renik yang telah diketahui potensinya dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Indonesia, dengan kekayaan alamnya yang melimpah dan belum termanfaatkan secara optimal, mempunyai potensi yang tinggi untuk digunakan sebagai lahan pengembangan industri herbal medicine dan health food yang berorientasi ekspor.Kondisi lahan yang variatif tersedia mulai lahan dengan kondisi pantai hingga lahan pegunungan dengan sebagian besar lahan yang ada belum termanfaatkan dengan baik Komoditas – komoditas seperti tanaman atsiri, tanaman rempah-rempah dan biofarmaka-obatan secara tradisional adalah komoditas andalan ekspor Indonesia.

Berbeda dengan komoditas yang mempunyai pasar lokal, komoditas ini sangat tangguh terhadap gangguan krisis moneter karena basis harga pemasarannya dalam dollar Amerika. Dalam kondisi saat ini harga jual yang tinggi (dalam rupiah) ini menjadikan produk berbasis sumberdaya alam ini sebagai penghasil devisa yang tangguh. Pasar herbal dunia pada tahun 2000 adalah sekitar USD 20 milyar dengan pasar terbesar adalah di Asia (39 %), diikuti dengan Eropa (34 %), Amerika Utara (22 %) dan belahan dunia lainnya sebesar lima persen. Sedangkan nilai pasar untuk beberapa komoditas gromedisin dalam bentuk ekstrak herbal tunggal, menurut IRI untuk tahun 1999 (dalam juta USD) adalah Gingko 90,197; Ginseng 86,048; Garlic 71,474;Echinaceae 49,189; St. John’s Wort 47,774 dan Saw Palmetto 18,381. Dari total nilai pasar food supplement di Eropa pada tahun 1999 yaitu sebesar USD 13.5 milyar, sebesar 55 % diantaranya adalah produk herbal (sekitar USD 7.43 milyar). Dalam mana Jerman mendapat pangsa sekitar 48 % (+ USD 3.57 milyar), Perancis 24 % (USD 2 milyar), Italia 9 % (USD 0.73 milyar), Inggris enam persen ( USD 0.52 milyar) dan sisanya negara Eropa lainnya. Hal yang menarik adalah nilai penjualan obat-obatan di Jerman diperoleh melalui resep dokter yang biayanya ditanggung oleh sistem asuransi kesehatan, yaitu sebanyak 54,3% (DAZ-138 Jg Nr.19, 1998) dan sisanya diperoleh melalui cara pengobatan sendiri. Di Amerika Serikat, total pasar food supplement pada tahun 2000 mencapai USD 16.7 milyar, sebesar 25 % diantaranya (USD 4.2 milyar) adalah produk herbal. Untuk kawasan Asia, dalam hal ini Cina (dengan kurang lebih 1200 industri dan 600 di antaranya memiliki kebun terintegrasi dengan pabrik), dari sumber yang layak dipercayai dapat meraup omset USD 5 milyar (domestik) dan USD satu milyar (ekspor). Dari pangsa pasar sebesar itu, sebanyak 180 jenis Traditional Chinese Medicine (TCM) diakui oleh Pemerintah dan dimasukkan dalam Daftar Obat Program Pemerintah bersama – sama dengan obat modern. Nilai yang besar dapat teramati untuk penjualan TCM ke Hongkong, Benin, Jepang, Arab Saudi, dan Australia. Sementara dari daftar yang lain dapat diketahui bahwa nilai ekspor TCM, bahan baku maupun ekstrak dari Cina jauh lebih tinggi dari nilai i impornya. Lebih jauh tentang Cina, berdasar data terakhir tahun 2000, ada 11146 jenis biofarmaka yang dimanfaatkan pada industri TCM dengan memanfaatkan area seluas 760.000 hektar dengan total output 8.500.000 metrik ton dan secara rutin pembudidayakan sekitar 200 jenis biofarmaka utama sepanjang tahun. Saat ini produk industri herbal medicine dan health food Indonesia dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu kelompok jamu, kelompok ekstrak dan kelompok fitofarmaka. Secara umum upaya pengembangan obat tradisional mengarah kepada pengembangan kelompok fitofarmaka. Jika sasaran ini tercapai, maka peluang pemanfaatannya akan semakin besar; dengan tidak hanya digunakan sebagai produk swamedikasi tetapi juga dapat imanfaatkan dalam sistem pelayanan kesehatan formal.

Omset penjualan herbal medicine di Indonesia sangat kecil dibandingkan dengan di Cina, Jerman maupun USA. Berdasarkan hasil pemantauan diperkirakan di seluruh dunia terdapat 250.000 tumbuhan tinggi dan diperkirakan paling sedikit 20 % berupa tumbuhan obat yang digunakan dalam obat tradisional. Indonesia telah dikenal sebagai salah satu dari ketujuh negara yang mempunyai keanekaragaman hayati yang menakjubkan dan tercatat sebagai negara dengan kekayaan hayati nomor dua di dunia. Bagi manusia, sudah jelas manfaatnya yaitu sebagai obat, kosmetik, pengharum, penyegar, pewarna, senyawa model dan sebagainya. Pemanfaatan oleh manusia ini didasarkan pada keanekaragaman struktur dan aktivitas metabolit sekunder tersebut. Keanekaragaman metabolit sekunder ini memberikan harapan untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi obat dari berbagai macam penyakit seperti anti bakteri, anti jamur, antimalaria, anti kanker dan anti HIV.

Di Indonesia diketahui tidak kurang dari 7000 spesies tanaman dan tumbuhan yang memiliki khasiat obat aromatik. Hutan Indonesia memiliki spesies biofarmaka tidak kurang dari 9606 spesies. Dari jumlah itu, baru 3 – 4 % yang sudah dibudidayakan dan dimanfaatkan secara komersial atau tercatat 350 biofarmaka telah diidentifikasi mempunyai khasiat obat. Pemanfaatan bahan baku obat tradisional oleh masyarakat mencapai kurang lebih 1000 jenis, dimana 74% diantaranya merupakan tumbuhan liar yang hidup di hutan. Tingkat pemanfaaatan tumbuhan obat yang ada dapat dinyatakan masih jauh dari potensi yang ada di alam. Oleh karena itu dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku – simplisia, dan meluasnya permintaan pasar domestik maupun ekspor, akan meningkatkan pemanfaatan tumbuhan obat liar di hutan-hutan yang mungkin selama ini hanya dianggap sebagai semak belukar atau diambil hasilnya sebagai kayu bakar atau kayu bangunan. Dan kenyataan ini akan memaksa akan perlunya suatu kesadaran terhadap pemanfaatan

sumber daya alam hayati secara lebih hati-hati dan lebih optimal dan lebih didasarkan pada kesadaran bahwa alam merupakan stok bahan baku obat-obatan yang potensial. Peningkatan demand biofarmaka lokal berjalan seiring dengan semakin banyaknya jumlah industri jamu, farmasi dan kosmetika. Perkembangan jumlah industri obat tradisional dan keanekaragaman produknya, dengan ciri khas ekologi dan topografi masing-masing wilayah di Indonesia, terus meningkat sepanjang tahun. Demam obat-obat alami dan ramuan tradisional (back to nature) tidak hanya melanda konsumen di negara Indonesia namun juga sudah menjangkiti Eropa dan Amerika sejak beberapa tahun yang lalu. Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat, di pasar bermunculan pula beraneka jenis obat-obatan dari tumbuhan alami.Tak hanya dalam bentuk jamu tradisonal, obat alami itu telah diolah dan dikemas secara modern. Berbagai aneka obat dari ekstrak tumbuhan alias fitofarmaka yang gencar beriklan dan sekarang mulai jadi primadona. Contohnya Prolipid, Prouric, Prorelax, Prodiab, Ginko Biloba dan lain sebagainya. Prolipid, obat penurun kolesterol yang dibuat dari ekstrak daun jati Belanda dan tempuyung, yang diproduksi pabrik obat di Indonesia memiliki pangsa pasar cukup tinggi. Sejak diluncurkan empat tahun silam, penjualan obat Prolipid meningkat 100% setiap tahunnya. Secara nasional permintaan obat tradisional yang lainnya juga cukup besar dan terus meningkat. Tahun 2002 ini diperkirakan omzet obat alami secara nasional nilainya minimal satu triliun rupiah, dan tahun depan (tahun 2003) diperkirakan meningkat menjadi Rp. 1,4 triliun.Industri obat tradisional Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 1992 jumlah Industri Obat Tradisional Indonesia berjumlah 449 buah yang terdiri dari 429 buah Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) dan 20 buah Industri Obat Tradisional (IOT). Pada tahun 1999 jumlah Industri Obat Tradisional Indonesia telah meningkat menjadi 810 yang terdiri atas 833 buah IKOT dan 87 buah IOT (diperkirakan pada tahun 2002 ini sudah mencapai sekitar 1000 industri). Industri sebanyak ini mampu menghasilkan perputaran dana sekitar Rp. 1.5 trilyun per tahun. Peningkatan jumlah industri obat tradisional tersebut signifikan dengan peningkatan total nilai jual produk obat asli Indonesia di dalam negeri, yang mana 95,5 milyar rupiah pada tahun 1991 meningkat hingga mencapai nilai 600 milyar rupiah pada tahun 1999.

Disamping meningkatnya jumlah IKOT dan IOT, potensi pasar dalam negeri di Indonesia masih terbuka lebar dengan adanya kebiasaan masyarakat Indonesia meminum jamu. Survey perilaku konsumen dalam negeri menunjukkan 61,3 % responden mempunyai kebiasaan meminum jamu tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa budaya minum jamu yang merupakan tradisi leluhur sebagian bangsa Indonesia sudah memasyarakat. Ini adalah potensi besar untuk mengembangkan pasar domestik dari produk biofarmaka.

Prospek pemasaran biofarmaka di Indonesia masih cerah. Hal ini didukung selain jamu tetap digemari oleh masyarakat Indonesia secara luas karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya masyarakat, harga jamu juga lebih murah ibandingkan obat farmasi serta sugesti masyarakat terhadap khasiat jamu adalah salah satu faktor pendukung pengembangan industri jamu. Potensi biofarmaka Indonesia juga masih besar untuk digali. Sebagai negara yang kaya akan jumlah jenis biofarmaka dan yang merupakan negara kedua terbesar setelah Brazil, Indonesia memiliki 40 000 spesies tanaman dan 940 diantaranya berkhasiat obat. Namun demikian, dari 646 biofarmaka yang diteliti baru sekitar 465 jenis yang dimanfaatkan oleh Industri Tradisional, sehingga prospek biofarmaka untuk lebih dieksplorasi dan dikembangkan seiring kemajuan ilmu dan teknologi terbuka lebar. Peningkatan ekspor simplisia biofarmaka ke berbagai negara tujuan cukup meningkat sejalan dengan meningkatnya industri-industri farmasi di dunia. Sebagai gambaran, total nilai dagang biofarmaka dunia mencapai US$ 45 miliar pada tahun 2001, dan diperkirakan akan terus meningkat menjadi US$ 5 triliun pada tahun 2005. Dari total nilai perdagangan produk biofarmaka dunia tersebut, omzet penjualan biofarmaka Indonesia baru mencapai US$ 100 juta per tahun. Hal ini berarti, kontribusi ekspor biofarmaka Indonesia baru sekitar 0,22 % saja. Walaupun kontribusi pada nilai perdagangan dunia kecil, namun secara riil ekspor simplisia biofarmaka Indonesia pada tahun 1979 sebesar US$ 700 687 dan pada tahun 1987 meningkat sebesar US$ 3 733 000. Kecenderungan masyarakat dunia yang memprioritaskan produk yang ekologis daripada kimiawi, menyebabkan demand akan obat bahan alami juga akan meningkat terus. Nilai obat modern yang berasal dari ekstrak tumbuhan tropis di dunia pada tahun 1985 mencapai US$ 43 milyar, 25 % obat modern tersebut bahan bakunya berasal dari tumbuhan. Sedangkan nilai jual obat tradisional pada tahun 1992 di dunia mencapai US$ 8 milyar. Ekspor bahan baku dan simplisia biofarmaka Indonesia mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan. Tahun 1979 nilai jual biofarmaka Indonesia adalah US$ 700.687 dan pada tahun 1987 meningkat menjadi US$ 3.733.000. Dengan demikian terjadi peningkatan sebesar 432,76%.

Peningkatan rata-rata per tahun sejak tahun 1979 hingga tahun 1984 adalah sebesar 29.47 % per tahunnya. Jika seandainya tidak ada faktor-faktor lain ceteris paribus yang mempengaruhi sampai tahun 1984, maka ekspor biofarmaka Indonesia tahun 2000 dapat mencapai US$ 26.055.063 dan pada tahun 2001 dapat mengekspor 839 590 000 Kg dengan nilai US$ 890 240 000. Beberapa negara pengimpor terbesar biofarmaka asal Indonesia pada kurun tahun 1987 hingga tahun 1991 adalah Singapore, Taiwan, Hongkong dan Jepang. Secara umum, trend nilai penjualan biofarmaka yang diekspor ke berbagai negeri berfluktuatif, menurun dalam kurun waktu 1987 – 1990 kemudian naik pada tahun 1991. Selanjutnya, peningkatan ekspor simplisia biofarmaka ke pasar internasional dapat ditunjukkan dari neraca perdagangan internasional biofarmaka Indonesia adalah positif pada lima tahun terakhir (tahun 1996 – 2001). Pada kurun waktu tersebut, nilai surplus ekspor tertinggi terjadi pada tahun 1997 dengan nilai sebesar US$ 400 476 000.

Berbagai jenis biofarmaka Indonesia banyak diminta oleh pasar dunia internasional. sebagai gambaran, sebanyak dari 45 macam obat penting di Amerika berasal dari tumbuhan obat dan aromatik tropika, 14 spesies diantaranya berasal dari biofarmaka asli Indonesia. Hasil penelitian yang dilakukan oleh International Trade Centre (ITC) UNCTAD/GATT di enam negara terbesar pasaran biofarmaka-obatan dan olahan-olahan, mencatat beberapa jenis tanaman yang memiliki tingkat demand tinggi di negara-negara industri farmasi.

Beberapa negara industri farmasi dan negara tujuan ekspor komoditas biofarmaka Indonesia yang memiliki potensi pasar yang baik dan berprospek adalah USA, Perancis, Jepang, FRG, Switzerland dan Inggris. Disamping itu, jenis-jenis biofarmaka yang diminta oleh negara-negara industri farmasi, seperti tapak dara (Catharanthus roseus),kina (Catharanthus roseus), kecubung (Datura metel), pulai pandak (Rauwolfia vomitoria) dan valerian (Valerian officinalis) umumnya dapat tumbuh di Indonesia dan tidak membutuhkan persyaratan yang spesifik untuk tumbuhnya. Jika dilihat dari besarnya peluang pasar di luar negeri maka dalam kaitannya dengan peningkatan jenis bahan obat alam yang diekspor ini perlu dilakukan pengecekan tentang jenis-jenis simplisia yang dibutuhkan oleh pasaran internasional dan dapat diusahakan di Indonesia mengingat Indonesia memiliki sumberdaya alam yang sangat besar. Beberapa simplisia biofarmaka tertentu yang saat ini dibutuhkan oleh pasar internasional dan dapat diusahakan di Indonesia serta negara yang berpotensi untuk menerima pasokan dari Indonesia, yaitu

(1) Komoditi yang dibutuhkan negara Jepang, adalah: Zizyphi Fructus, Cinanomi Cortex, Amomi Semen, Cinchonae Cortex, Caryophylli Flos, Cardamomi Fructus, Bupleuri Radix, Rhei Rhizoma, Coix lacrymajobi, dan Rauwolfiae Radix.

(2) Komoditi yang dibutuhkan negara Republik Federasi Jerman, adalah: Kulit kina, alkaloid kina (Cinchonae Cortex), ketumbar (Coriandri Fructus), lidah buaya (Alloe vera), adas (Anisi Fructus), biji pinang (Arecae Semen), daun kayu putih (Eucalypti Folium), akar pulai pandak (Rauwolfiae Radix), kulit kayu manis (Cinnamomi Cortex), meniran (Phyllanti Herba), kapulaga (Amomi Fructus), dan Sambiloto (Andrographidis Herba).Beberapa spesies biofarmaka yang saat ini mendapat perhatian dalam perdagangan internasional dan memiliki prospek yang cerah, antara lain adalah tapak dara (Catharanthus roseus), kecubung (Datura fastuosa dan Datura metel), serta pulai pandak (Rauwolfia sp), Digitalis sp, dan Dioscoreae sp.Sedangkan BPEN mencatat trend demand komoditas biofarmaka yang banyak diekspor ke pasar internasional adalah jahe (Zingiber officinale). Ekspor Indonesia akan komoditas jahe (Zingiber officinale) meningkat 101,8 % setiap tahunnya untuk kurun waktu antara tahun 1986-1990. Peningkatan ekspor jahe ini menunjukkan pangsa pasar jahe Indonesia di pasar Internasional dari 2,4 % tahun 1988 menjadi 12,9 % tahun 1991, walaupun terjadi penurunan demand jahe di pasar internasional pada tahun 1995 menjadi 9 % per tahun, namun demand kembali meningkat pada tahun 2002 menjadi 13 % setiap tahunnya. Ekspor jahe Indonesia rata-rata meningkat 32.75 % per tahun. Sedangkan pangsa pasar jahe Indonesia terhadap pasar dunia 0,8 %, hal ini berarti bahwa peluang Indonesia sangat besar untuk meningkatkan ekspor.

Walaupun volume ekspor jahe cukup tinggi, tetapi sebagian besar ekspor jahe masih dalam bentuk bahan mentah (rimpang jahe segar) dan setengah jadi (jahe asinan dan jahe kering), sedangkan dalam bentuk yang diolah (produk jadi) sangatlah sedikit. Lima negara yang menampung hasil ekspor komoditas jahe dalam bentuk jahe segar adalah Malaysia, Hongkong, Perserikatan Emirat Arab, Singapura dan Saudi Arabia. Sedangkan lima negara tujuan ekspor komoditas jahe kering Indonesia adalah Jepang, Singapura, Thailand, India dan Perserikatan Emirat Arab.

Jika dibandingkan, volume dan nilai ekspor komoditas jahe segar (rimpang) jauh lebih besar daripada jahe kering (simplisia). Sebagai contoh, pada tahun 1998 volume dan nilai ekspor jahe segar masing-masing sebesar 32 807 661 Kg dan US$ 9 286 161 jauh lebih besar dibandingkan volume dan nilai ekspor jahe kering masing-masing sebesar 507 550 Kg dan US$ 554 023. Besarnya volume dan nilai ekspor rimpang jahe ini tidak menutup kemungkinan jahe tersebut akan diproses lebih lanjut, karena dari sisi harga lebih murah menjual rimpang jahe daripada bentuk simplisia. Penggunaan jahe di luar negeri sekitar 35 % untuk kebutuhan rumahtangga dan 65 % untuk keperluan industri. Komoditas jahe gajah di luar negeri, dimanfaatkan sebagai bahan makanan, minuman, bentuk rimpang segar, ataupun sebagai food supplement yang banyak diminati konsumen di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Asia Selatan, dan lain sebagainya atau sebagai jahe asinan di Jepang. Disamping itu, komoditas jahe gajah digunakan sebagai obat batuk dalam bentuk pil di negara India dan sebagai tonikum dan obat perangsang di negara Cina dan Malaysia. Beberapa perusahaan, seperti PT Emeralindo Hijau Lestari, menjadikan komoditas jahe gajah sebagai core business bagi perusahaannya dengan sasaran ekspor ke pasar Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Pakistan, Bangladesh, Singapura, Brunei, Jepang, Perancis dan Kanada. Seperti yang telah dikemukakan di depan, prospek tanaman jahe di pasar internasional saat ini cukup cerah, dimana laju konsumsi dunia meningkat sebesar 6,7 % setiap tahunnya, karena peningkatan kebutuhan dunia akan produk jahe yang belum dapat tergantikan fungsinya dengan produk lain. Nilai ekspor jahe dunia secara terinci diperlihatkan bahwa nilai ekspor jahe dunia untuk tahun 2000 tercatat sebesar US$ 128 112 000. Lima negara pengekspor jahe terbesar adalah China, Thailand, India, Indonesia dan Brazil, dengan nilai ekspor masing-masing adalah US$ 71 138 000,-; US$ 18 394 000,-; US$ 5 914 000,-; US$ 5 797 000,-; dan US$ 576 000,- Dari uraian diatas, jika dilihat dari prospek biofarmaka maka masalah pemasaran jahe sebenarnya bukanlah masalah, karena pasar domestik dan internasional cukup terbuka lebar. Namun kenyataannya, Indonesia belum dapat memenuhi demand pasar internasional yang terus meningkat tersebut. Jahe gajah yang harganya US$ 300/ton, Indonesia baru bisa men-supply 10 % dari permintaan dunia yang berjumlah 30.000 ton/tahun.

Demikian pula halnya dengan biofarmaka yang lain. Jika dilihat dari prospeknya, maka pemasaran di luar negeri bukanlah masalah karena pasar biofarmaka ini masih belum optimal dan terbuka lebar, sementara pasokannya jauh lebih kecil. Tanaman kapulaga (Ammomum cardamomum Auct.) misalnya, dari demand negara Cina yang berjumlah 400 ton per bulan, negara Indonesia baru bisa men-supply 40 ton atau hanya sekitar 10 % -nya. Komoditas kapulaga ini selain diminta negara Cina, juga diminta oleh negara Singapura, Korea dan Hongkong. Dari demand negara Singapura akan kapulaga gelondong sebesar 180 ton per tahun, Indonesia baru dapat memenuhi sebesar 80 ton kapulaga gelondong per tahun. Sementara demand Singapura untuk kapulaga kupasan 72 ton per tahun tidak dapat terpenuhi karena keterbatasan bahan dan teknologi yang dimiliki oleh para petani dalam negeri. Permintaan kapulaga kupasan oleh negara Korea sebesar enam ton/tahun dan negara Hongkong sebesar lima ton per tahun, juga tidak terpenuhi.Contoh lainnya adalah tanaman cabe jawa (piper retrofractum), dari permintaan dunia yang berjumlah 6.000.000 ton, Indonesia baru bisa mensuplai 1/3 nya. Sama halnya dengan komoditas tanaman kencur (Kaemferia Galanga, Linn), yang harganya mencapai US$ 1.100/ton, dari permintaan ekspor dunia sebesar 200 – 300 ton per tahun hanya terpenuhi sekitar 62 ton per tahun. Disamping itu, Indonesia tidak dapat memenuhi demand pasar dunia internasional akan komoditas bangle (Zingiber purpureum Roxb.) dan biofarmaka lempuyang (Zingiberis aromaticum dan Zingiberis zerumbeti)

This article is supported by :

logo1.jpg

About these ads

21 comments

  1. Website ini sangat menarik, dan dari profile perusahaan pharmasi yang ditampilkan adalah sebuah pelopor industri obat yang yang cukup visioner.

    Kami sebagai sebuah lembaga yang bergerak dipendampingan masyarakat sekitar hutan sangat berharap dengan perusahaan2 yang ditampilkan di website ini bisa menjalin komunikasi dan informasi. Selain itu juga berharap agar produk-produk masyarakat yang kami dampingi juga bisa diserap oleh industri-industri farmasi nasional.

    Dan bagaimanakah caranya?

    Terimakasih

    Budi

  2. Silakan kontak dulu via weblog ini, terima kasih

  3. Bapak Galih Utomo yang baik,

    Kami sangat tertarik untuk menjalin kemungkinan kerjasama dengan perusahaan bapak. Oleh karena itu kami bermaksud untuk mengunjungi perusahaan bapak, sekaligus melakukan diskusi tentang kemungkinan kerjasama ini. Baik kerjasama riset, pasokan bahan baku, dan pengembagan produk.

    Telapak adalah sebuah perkumpulan yang beranggotakan individu-individu yang peduli pada upaya-upaya pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Telapak berkeinginan (bersama elemen bangsa yang lainnya) menciptakan Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan bermartabat secara budaya.

    Anggota Telapak tersebar di 15 propinsi di Indonesia dengan profesi yang beragam, mulai dari petani, nelayan, pengacara, pengusaha media, eksportir hasil laut yang ramah lingkungan, eksportir kayu ber-ecolabel, petani hutan penghasil tanaman obat, pengusaha TI, Dosen, LSM, dan Pegawai Negeri.

    Untuk itu kami mohon kiranya bapak berkenan menerima delegasi kami (3 orang), untuk berdiskusi di Kantor bapak. Kami mohon bapak berkenan meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan kami. ( Mohon dikirimkan alamat kantor, dan jam yang disediakan).

    salam,
    Budi Sarinto

  4. Assalamualaikum Wr Wb

    Bapak Budi Sarinto yang kami hormati,
    Mohon maaf karena baru bisa membalas email yang Bapak kirimkan. Ide bagus, kami juga ingin bekerjasama dengan pihak- pihak yang memiliki kesamaan visi dalam konservasi SDA. Nah, kami bergerak di sektor privat- riil, oleh karena itu, selain tanaman yang bersifat budi daya- terutama untuk produksi massal dengan bantuan petani, kami juga punya keinginan untuk menjaga plasma nutfah yang masih liar dan belum diteliti, karena itu adalah aset masa depan.

    Kantor saya di PIB Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha no.15 Bandung. Perusahaan ini memang masih baru, tetapi kami bekerjasama juga dengan Farmasi ITB , Pusat Studi Biofarmaka Bogor, serta Departemen Pertanian. Ketiganya untuk memastikan standar serta kontribusi terhadap penelitian biofarmaka. Sedangkan untuk petani, saat ini kami sedang berproses dengan petani di daerah Banjaran dan Subang, Kabupaten Bandung.

    Kalau bisa, saya ingin berdiskusi dahulu via email atau bisa juga sms ke nomor hp saya di 081322111991 atau 02291717226. Alamat website kami di http://www.naturalifeindonesia.com, tetapi saat ini sedang dalam proses rekonstruksi.

    Selama ini proses yang terjadi di lapangan hanyalah wacana belaka beserta sistem bisnis lemah. Kami percaya bahwa bisnis harus berdasarkan pada kesalingpercayaan ( Trusworthy) dan kesalingtergantungan dalam kemandirian ( Interdependency) yang sifatnya saling menguntungkan. Petani menginginkan kepastian pembayaran tunai beserta pasar, dan perusahaan dalam negeri maupun luar negeri menginginkan kualitas, kuantitas, serta konsistensi bahan baku yang memenuhi syarat. Untuk membuat keduanya sinergis dan saling menguntungkan satu sama lain, kami menjunjung kehati- hatian tanpa mengabaikan aspek pengambilan resiko yang terukur.

    Kami juga tidak ingin menjadi perusahaan yang “Evil”, oleh karena itu kami sangat berhati- hati dalam pemilihan jenis tanaman beserta metode budidayanya. Jikalau plasma nutfah di hutan tropis memang bagus dan permintaan besar serta jangka panjang, kami akan menjadi penjamin petani dan industri untuk budi daya. Sedangkan untuk plasma nutfah yang masih belum diteliti, kami punya misi untuk melindungi, karena itu adalah- sekali lagi- aset masa depan.

    Kami sangat tertarik untuk berdiskusi lebih jauh lagi, sebelum diskusi langsung. Saya bisa atur tempat dan waktu yang tepat untuk diskusi supaya lebih nyaman. Dan, setelah email yang satu ini, saya akan lebih responsif lagi untuk menjawab dan berdiskusi dengan Pak Budi beserta rekan di LSM Telapak, sekali lagi, saya mohon maaf yang sebesar- besarnya.

    Kalau boleh tahu, kantor Telapak.org ini ada dimana? Ada nomor yang bisa saya hubungi ? Terima kasih.

    Regards

    Wassalamualaikum Wr Wb

    Galih Prasetya Utama
    http://www.bisnisfarmasi.wordpress.com
    NB : Untuk kemandirian Bangsa Indonesia, kita sepakat! Tetapi, sekali lagi, saya ingin tetap berhati- hati dan melihat semua aspek- variabel yang akan terjadi, agar idealisme ini bisa turun ke ranah konkret, bukan sekedar wacana, sukses!

  5. Evi

    Mas Galih yang baik,

    Satu lagi bukti bahwa seorang idealis membawa berkah bagi orang2 yang membutuhkan. Sebagai pengumpul dan pedagang rempah2 yang langsung bekerjasama dengan petani, artikel anda memuat informasi yg sangat berharga bagi kelangsungan usaha kami. Sekarang saya tahu kemana memasarkan produk atau mencari kekurangan pasokan .

    Terima kasih ya Mas. Keep the good work!

  6. tulisannya terlalu kecil
    ‘content’-nya terlalu besar.
    tulisan n riset berikutnya kami tunggu

  7. Paul

    Nice article, i’m proud for being one of indonesian variety. :D

    Saya butuh Amomi semen buat diekspor ke Jepang, bila ada yg bisa supply / tertarik silakan kirim email ke first_sept@yahoo.com.sg

  8. Nanang Isnandar Sulaeman

    Saya Nanang dari Bandung menjual produk pertanian jahe Gajah(rempah-rempah) seandainya ada yang membutuhkan Contak ke E-mail dencimande@yahoo.co.id / 081573243729, saya ucapkan trimakasih

  9. saya menawarkan kunir kering rajangan.kualitas bagus sebanyak 200 ton.jika ada yg berminat kontak saya di 08562747674

  10. selain itu saya juga membutuhkan kapulaga,cabai,pinang belah.bagi rekan yang bisa bantu, tolong kontak saya di 08562747674.terimakasih

  11. netta

    diamana yach mencari obat daun jati belanda untuk konsumsi agar kurus. tapi lokasi penjualannya hanya disekitar jawa tengah dan berfokus di sala tiga atau semarang.tolong bantuannya.

  12. saya mengiginkan daun jati belanda untuk langsung dikonsumsiseharihari agar tubuh saya dapat cepat kurus, untuk megejar target diet… saya minta alamat penjualan daun jati belanda yang hanya dijual disekitar jawa tengah, khususnya salatiga, purwokerto.

  13. saya mengiginkan daun jati belanda untuk langsung dikonsumsiseharihari agar tubuh saya dapat cepat kurus, untuk megejar target diet… saya minta alamat penjualan daun jati belanda yang hanya dijual disekitar jawa tengah, khususnya salatiga, purwokerto. bisa hubungi saya lewat email yang telah terdaftar.

  14. retha

    Saya mau tanya, yang termasuk tanaman herbal itu apa aja ya…? Tolong dong infonya..makasih banyak…

  15. authar

    Ass.wr.wb.
    Saya ingin menjual jahe hasil budidaya jahe di lahan pribadi, adapun hasil produksi jahe pada lahan saya sekitar 60 ton. yang berminat silahkan email saya authar_um@yahoo.com

  16. naa_dhaa*

    tulisan na kurangg keciiilllllllllll ……….

  17. verry good…
    ya….ya….

  18. edy

    ass.wr.wb
    salam kenal, saya berdomisili di bogor dan saat ini saya membutuhkan jahe sebanyak 5 ton untuk dilepas kepasar, bagi yang memiliki stock jahe yang jenisnya biasa dijual di pasar mohon informasinya.

    trims

    edy (phoenixtigatujuh@yahoo.co.id)

  19. ass.wr.wb sayah herdian petani rempah2 dari sumedang jawabrat dengan hormat kepada semua penerima rempah rempah sayah punya beberapa macam rempah2 contoh kunyit, jahe, lengkuas, serih, DLL apakah ada yang memerlukan rempah2 tersebut tlg hubungi kami ke Hp 087866090658 terimakasih

  20. Saya himyar dari pekanbaru propinsi riau,menawarkan temu ireng dan temu giring,..yg berminat hubungi 08127681046

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 279 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: