Maximillian

Arsip untuk Februari, 2007

Pasar Tumbuhan Obat; Agrofarmasi ( Bagian 2)

In Market Review, Phytopharmacy on Februari 19, 2007 at 17:32

wallcoocom_photography_ff117.jpg

Indonesia termasuk salah satu pusat raksasa (mega center) keanekaragaman hayati. Meskipun mempunyai keanekaragaman hayati yang melimpah namun sebagian besar belum diketahui manfaatnya. Baru sekitar 600 jenis tumbuhan, 1000 jenis hewan dan 100 jenis jasad renik yang telah diketahui potensinya dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Indonesia, dengan kekayaan alamnya yang melimpah dan belum termanfaatkan secara optimal, mempunyai potensi yang tinggi untuk digunakan sebagai lahan pengembangan industri herbal medicine dan health food yang berorientasi ekspor.Kondisi lahan yang variatif tersedia mulai lahan dengan kondisi pantai hingga lahan pegunungan dengan sebagian besar lahan yang ada belum termanfaatkan dengan baik Komoditas – komoditas seperti tanaman atsiri, tanaman rempah-rempah dan biofarmaka-obatan secara tradisional adalah komoditas andalan ekspor Indonesia.

Berbeda dengan komoditas yang mempunyai pasar lokal, komoditas ini sangat tangguh terhadap gangguan krisis moneter karena basis harga pemasarannya dalam dollar Amerika. Dalam kondisi saat ini harga jual yang tinggi (dalam rupiah) ini menjadikan produk berbasis sumberdaya alam ini sebagai penghasil devisa yang tangguh. Pasar herbal dunia pada tahun 2000 adalah sekitar USD 20 milyar dengan pasar terbesar adalah di Asia (39 %), diikuti dengan Eropa (34 %), Amerika Utara (22 %) dan belahan dunia lainnya sebesar lima persen. Sedangkan nilai pasar untuk beberapa komoditas gromedisin dalam bentuk ekstrak herbal tunggal, menurut IRI untuk tahun 1999 (dalam juta USD) adalah Gingko 90,197; Ginseng 86,048; Garlic 71,474;Echinaceae 49,189; St. John’s Wort 47,774 dan Saw Palmetto 18,381. Dari total nilai pasar food supplement di Eropa pada tahun 1999 yaitu sebesar USD 13.5 milyar, sebesar 55 % diantaranya adalah produk herbal (sekitar USD 7.43 milyar). Dalam mana Jerman mendapat pangsa sekitar 48 % (+ USD 3.57 milyar), Perancis 24 % (USD 2 milyar), Italia 9 % (USD 0.73 milyar), Inggris enam persen ( USD 0.52 milyar) dan sisanya negara Eropa lainnya. Hal yang menarik adalah nilai penjualan obat-obatan di Jerman diperoleh melalui resep dokter yang biayanya ditanggung oleh sistem asuransi kesehatan, yaitu sebanyak 54,3% (DAZ-138 Jg Nr.19, 1998) dan sisanya diperoleh melalui cara pengobatan sendiri. Di Amerika Serikat, total pasar food supplement pada tahun 2000 mencapai USD 16.7 milyar, sebesar 25 % diantaranya (USD 4.2 milyar) adalah produk herbal. Untuk kawasan Asia, dalam hal ini Cina (dengan kurang lebih 1200 industri dan 600 di antaranya memiliki kebun terintegrasi dengan pabrik), dari sumber yang layak dipercayai dapat meraup omset USD 5 milyar (domestik) dan USD satu milyar (ekspor). Dari pangsa pasar sebesar itu, sebanyak 180 jenis Traditional Chinese Medicine (TCM) diakui oleh Pemerintah dan dimasukkan dalam Daftar Obat Program Pemerintah bersama – sama dengan obat modern. Nilai yang besar dapat teramati untuk penjualan TCM ke Hongkong, Benin, Jepang, Arab Saudi, dan Australia. Sementara dari daftar yang lain dapat diketahui bahwa nilai ekspor TCM, bahan baku maupun ekstrak dari Cina jauh lebih tinggi dari nilai i impornya. Lebih jauh tentang Cina, berdasar data terakhir tahun 2000, ada 11146 jenis biofarmaka yang dimanfaatkan pada industri TCM dengan memanfaatkan area seluas 760.000 hektar dengan total output 8.500.000 metrik ton dan secara rutin pembudidayakan sekitar 200 jenis biofarmaka utama sepanjang tahun. Saat ini produk industri herbal medicine dan health food Indonesia dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu kelompok jamu, kelompok ekstrak dan kelompok fitofarmaka. Secara umum upaya pengembangan obat tradisional mengarah kepada pengembangan kelompok fitofarmaka. Jika sasaran ini tercapai, maka peluang pemanfaatannya akan semakin besar; dengan tidak hanya digunakan sebagai produk swamedikasi tetapi juga dapat imanfaatkan dalam sistem pelayanan kesehatan formal.

Omset penjualan herbal medicine di Indonesia sangat kecil dibandingkan dengan di Cina, Jerman maupun USA. Berdasarkan hasil pemantauan diperkirakan di seluruh dunia terdapat 250.000 tumbuhan tinggi dan diperkirakan paling sedikit 20 % berupa tumbuhan obat yang digunakan dalam obat tradisional. Indonesia telah dikenal sebagai salah satu dari ketujuh negara yang mempunyai keanekaragaman hayati yang menakjubkan dan tercatat sebagai negara dengan kekayaan hayati nomor dua di dunia. Bagi manusia, sudah jelas manfaatnya yaitu sebagai obat, kosmetik, pengharum, penyegar, pewarna, senyawa model dan sebagainya. Pemanfaatan oleh manusia ini didasarkan pada keanekaragaman struktur dan aktivitas metabolit sekunder tersebut. Keanekaragaman metabolit sekunder ini memberikan harapan untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi obat dari berbagai macam penyakit seperti anti bakteri, anti jamur, antimalaria, anti kanker dan anti HIV.

Di Indonesia diketahui tidak kurang dari 7000 spesies tanaman dan tumbuhan yang memiliki khasiat obat aromatik. Hutan Indonesia memiliki spesies biofarmaka tidak kurang dari 9606 spesies. Dari jumlah itu, baru 3 – 4 % yang sudah dibudidayakan dan dimanfaatkan secara komersial atau tercatat 350 biofarmaka telah diidentifikasi mempunyai khasiat obat. Pemanfaatan bahan baku obat tradisional oleh masyarakat mencapai kurang lebih 1000 jenis, dimana 74% diantaranya merupakan tumbuhan liar yang hidup di hutan. Tingkat pemanfaaatan tumbuhan obat yang ada dapat dinyatakan masih jauh dari potensi yang ada di alam. Oleh karena itu dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku – simplisia, dan meluasnya permintaan pasar domestik maupun ekspor, akan meningkatkan pemanfaatan tumbuhan obat liar di hutan-hutan yang mungkin selama ini hanya dianggap sebagai semak belukar atau diambil hasilnya sebagai kayu bakar atau kayu bangunan. Dan kenyataan ini akan memaksa akan perlunya suatu kesadaran terhadap pemanfaatan

sumber daya alam hayati secara lebih hati-hati dan lebih optimal dan lebih didasarkan pada kesadaran bahwa alam merupakan stok bahan baku obat-obatan yang potensial. Peningkatan demand biofarmaka lokal berjalan seiring dengan semakin banyaknya jumlah industri jamu, farmasi dan kosmetika. Perkembangan jumlah industri obat tradisional dan keanekaragaman produknya, dengan ciri khas ekologi dan topografi masing-masing wilayah di Indonesia, terus meningkat sepanjang tahun. Demam obat-obat alami dan ramuan tradisional (back to nature) tidak hanya melanda konsumen di negara Indonesia namun juga sudah menjangkiti Eropa dan Amerika sejak beberapa tahun yang lalu. Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat, di pasar bermunculan pula beraneka jenis obat-obatan dari tumbuhan alami.Tak hanya dalam bentuk jamu tradisonal, obat alami itu telah diolah dan dikemas secara modern. Berbagai aneka obat dari ekstrak tumbuhan alias fitofarmaka yang gencar beriklan dan sekarang mulai jadi primadona. Contohnya Prolipid, Prouric, Prorelax, Prodiab, Ginko Biloba dan lain sebagainya. Prolipid, obat penurun kolesterol yang dibuat dari ekstrak daun jati Belanda dan tempuyung, yang diproduksi pabrik obat di Indonesia memiliki pangsa pasar cukup tinggi. Sejak diluncurkan empat tahun silam, penjualan obat Prolipid meningkat 100% setiap tahunnya. Secara nasional permintaan obat tradisional yang lainnya juga cukup besar dan terus meningkat. Tahun 2002 ini diperkirakan omzet obat alami secara nasional nilainya minimal satu triliun rupiah, dan tahun depan (tahun 2003) diperkirakan meningkat menjadi Rp. 1,4 triliun.Industri obat tradisional Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 1992 jumlah Industri Obat Tradisional Indonesia berjumlah 449 buah yang terdiri dari 429 buah Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) dan 20 buah Industri Obat Tradisional (IOT). Pada tahun 1999 jumlah Industri Obat Tradisional Indonesia telah meningkat menjadi 810 yang terdiri atas 833 buah IKOT dan 87 buah IOT (diperkirakan pada tahun 2002 ini sudah mencapai sekitar 1000 industri). Industri sebanyak ini mampu menghasilkan perputaran dana sekitar Rp. 1.5 trilyun per tahun. Peningkatan jumlah industri obat tradisional tersebut signifikan dengan peningkatan total nilai jual produk obat asli Indonesia di dalam negeri, yang mana 95,5 milyar rupiah pada tahun 1991 meningkat hingga mencapai nilai 600 milyar rupiah pada tahun 1999.

Disamping meningkatnya jumlah IKOT dan IOT, potensi pasar dalam negeri di Indonesia masih terbuka lebar dengan adanya kebiasaan masyarakat Indonesia meminum jamu. Survey perilaku konsumen dalam negeri menunjukkan 61,3 % responden mempunyai kebiasaan meminum jamu tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa budaya minum jamu yang merupakan tradisi leluhur sebagian bangsa Indonesia sudah memasyarakat. Ini adalah potensi besar untuk mengembangkan pasar domestik dari produk biofarmaka.

Prospek pemasaran biofarmaka di Indonesia masih cerah. Hal ini didukung selain jamu tetap digemari oleh masyarakat Indonesia secara luas karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya masyarakat, harga jamu juga lebih murah ibandingkan obat farmasi serta sugesti masyarakat terhadap khasiat jamu adalah salah satu faktor pendukung pengembangan industri jamu. Potensi biofarmaka Indonesia juga masih besar untuk digali. Sebagai negara yang kaya akan jumlah jenis biofarmaka dan yang merupakan negara kedua terbesar setelah Brazil, Indonesia memiliki 40 000 spesies tanaman dan 940 diantaranya berkhasiat obat. Namun demikian, dari 646 biofarmaka yang diteliti baru sekitar 465 jenis yang dimanfaatkan oleh Industri Tradisional, sehingga prospek biofarmaka untuk lebih dieksplorasi dan dikembangkan seiring kemajuan ilmu dan teknologi terbuka lebar. Peningkatan ekspor simplisia biofarmaka ke berbagai negara tujuan cukup meningkat sejalan dengan meningkatnya industri-industri farmasi di dunia. Sebagai gambaran, total nilai dagang biofarmaka dunia mencapai US$ 45 miliar pada tahun 2001, dan diperkirakan akan terus meningkat menjadi US$ 5 triliun pada tahun 2005. Dari total nilai perdagangan produk biofarmaka dunia tersebut, omzet penjualan biofarmaka Indonesia baru mencapai US$ 100 juta per tahun. Hal ini berarti, kontribusi ekspor biofarmaka Indonesia baru sekitar 0,22 % saja. Walaupun kontribusi pada nilai perdagangan dunia kecil, namun secara riil ekspor simplisia biofarmaka Indonesia pada tahun 1979 sebesar US$ 700 687 dan pada tahun 1987 meningkat sebesar US$ 3 733 000. Kecenderungan masyarakat dunia yang memprioritaskan produk yang ekologis daripada kimiawi, menyebabkan demand akan obat bahan alami juga akan meningkat terus. Nilai obat modern yang berasal dari ekstrak tumbuhan tropis di dunia pada tahun 1985 mencapai US$ 43 milyar, 25 % obat modern tersebut bahan bakunya berasal dari tumbuhan. Sedangkan nilai jual obat tradisional pada tahun 1992 di dunia mencapai US$ 8 milyar. Ekspor bahan baku dan simplisia biofarmaka Indonesia mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan. Tahun 1979 nilai jual biofarmaka Indonesia adalah US$ 700.687 dan pada tahun 1987 meningkat menjadi US$ 3.733.000. Dengan demikian terjadi peningkatan sebesar 432,76%.

Peningkatan rata-rata per tahun sejak tahun 1979 hingga tahun 1984 adalah sebesar 29.47 % per tahunnya. Jika seandainya tidak ada faktor-faktor lain ceteris paribus yang mempengaruhi sampai tahun 1984, maka ekspor biofarmaka Indonesia tahun 2000 dapat mencapai US$ 26.055.063 dan pada tahun 2001 dapat mengekspor 839 590 000 Kg dengan nilai US$ 890 240 000. Beberapa negara pengimpor terbesar biofarmaka asal Indonesia pada kurun tahun 1987 hingga tahun 1991 adalah Singapore, Taiwan, Hongkong dan Jepang. Secara umum, trend nilai penjualan biofarmaka yang diekspor ke berbagai negeri berfluktuatif, menurun dalam kurun waktu 1987 – 1990 kemudian naik pada tahun 1991. Selanjutnya, peningkatan ekspor simplisia biofarmaka ke pasar internasional dapat ditunjukkan dari neraca perdagangan internasional biofarmaka Indonesia adalah positif pada lima tahun terakhir (tahun 1996 – 2001). Pada kurun waktu tersebut, nilai surplus ekspor tertinggi terjadi pada tahun 1997 dengan nilai sebesar US$ 400 476 000.

Berbagai jenis biofarmaka Indonesia banyak diminta oleh pasar dunia internasional. sebagai gambaran, sebanyak dari 45 macam obat penting di Amerika berasal dari tumbuhan obat dan aromatik tropika, 14 spesies diantaranya berasal dari biofarmaka asli Indonesia. Hasil penelitian yang dilakukan oleh International Trade Centre (ITC) UNCTAD/GATT di enam negara terbesar pasaran biofarmaka-obatan dan olahan-olahan, mencatat beberapa jenis tanaman yang memiliki tingkat demand tinggi di negara-negara industri farmasi.

Beberapa negara industri farmasi dan negara tujuan ekspor komoditas biofarmaka Indonesia yang memiliki potensi pasar yang baik dan berprospek adalah USA, Perancis, Jepang, FRG, Switzerland dan Inggris. Disamping itu, jenis-jenis biofarmaka yang diminta oleh negara-negara industri farmasi, seperti tapak dara (Catharanthus roseus),kina (Catharanthus roseus), kecubung (Datura metel), pulai pandak (Rauwolfia vomitoria) dan valerian (Valerian officinalis) umumnya dapat tumbuh di Indonesia dan tidak membutuhkan persyaratan yang spesifik untuk tumbuhnya. Jika dilihat dari besarnya peluang pasar di luar negeri maka dalam kaitannya dengan peningkatan jenis bahan obat alam yang diekspor ini perlu dilakukan pengecekan tentang jenis-jenis simplisia yang dibutuhkan oleh pasaran internasional dan dapat diusahakan di Indonesia mengingat Indonesia memiliki sumberdaya alam yang sangat besar. Beberapa simplisia biofarmaka tertentu yang saat ini dibutuhkan oleh pasar internasional dan dapat diusahakan di Indonesia serta negara yang berpotensi untuk menerima pasokan dari Indonesia, yaitu

(1) Komoditi yang dibutuhkan negara Jepang, adalah: Zizyphi Fructus, Cinanomi Cortex, Amomi Semen, Cinchonae Cortex, Caryophylli Flos, Cardamomi Fructus, Bupleuri Radix, Rhei Rhizoma, Coix lacrymajobi, dan Rauwolfiae Radix.

(2) Komoditi yang dibutuhkan negara Republik Federasi Jerman, adalah: Kulit kina, alkaloid kina (Cinchonae Cortex), ketumbar (Coriandri Fructus), lidah buaya (Alloe vera), adas (Anisi Fructus), biji pinang (Arecae Semen), daun kayu putih (Eucalypti Folium), akar pulai pandak (Rauwolfiae Radix), kulit kayu manis (Cinnamomi Cortex), meniran (Phyllanti Herba), kapulaga (Amomi Fructus), dan Sambiloto (Andrographidis Herba).Beberapa spesies biofarmaka yang saat ini mendapat perhatian dalam perdagangan internasional dan memiliki prospek yang cerah, antara lain adalah tapak dara (Catharanthus roseus), kecubung (Datura fastuosa dan Datura metel), serta pulai pandak (Rauwolfia sp), Digitalis sp, dan Dioscoreae sp.Sedangkan BPEN mencatat trend demand komoditas biofarmaka yang banyak diekspor ke pasar internasional adalah jahe (Zingiber officinale). Ekspor Indonesia akan komoditas jahe (Zingiber officinale) meningkat 101,8 % setiap tahunnya untuk kurun waktu antara tahun 1986-1990. Peningkatan ekspor jahe ini menunjukkan pangsa pasar jahe Indonesia di pasar Internasional dari 2,4 % tahun 1988 menjadi 12,9 % tahun 1991, walaupun terjadi penurunan demand jahe di pasar internasional pada tahun 1995 menjadi 9 % per tahun, namun demand kembali meningkat pada tahun 2002 menjadi 13 % setiap tahunnya. Ekspor jahe Indonesia rata-rata meningkat 32.75 % per tahun. Sedangkan pangsa pasar jahe Indonesia terhadap pasar dunia 0,8 %, hal ini berarti bahwa peluang Indonesia sangat besar untuk meningkatkan ekspor.

Walaupun volume ekspor jahe cukup tinggi, tetapi sebagian besar ekspor jahe masih dalam bentuk bahan mentah (rimpang jahe segar) dan setengah jadi (jahe asinan dan jahe kering), sedangkan dalam bentuk yang diolah (produk jadi) sangatlah sedikit. Lima negara yang menampung hasil ekspor komoditas jahe dalam bentuk jahe segar adalah Malaysia, Hongkong, Perserikatan Emirat Arab, Singapura dan Saudi Arabia. Sedangkan lima negara tujuan ekspor komoditas jahe kering Indonesia adalah Jepang, Singapura, Thailand, India dan Perserikatan Emirat Arab.

Jika dibandingkan, volume dan nilai ekspor komoditas jahe segar (rimpang) jauh lebih besar daripada jahe kering (simplisia). Sebagai contoh, pada tahun 1998 volume dan nilai ekspor jahe segar masing-masing sebesar 32 807 661 Kg dan US$ 9 286 161 jauh lebih besar dibandingkan volume dan nilai ekspor jahe kering masing-masing sebesar 507 550 Kg dan US$ 554 023. Besarnya volume dan nilai ekspor rimpang jahe ini tidak menutup kemungkinan jahe tersebut akan diproses lebih lanjut, karena dari sisi harga lebih murah menjual rimpang jahe daripada bentuk simplisia. Penggunaan jahe di luar negeri sekitar 35 % untuk kebutuhan rumahtangga dan 65 % untuk keperluan industri. Komoditas jahe gajah di luar negeri, dimanfaatkan sebagai bahan makanan, minuman, bentuk rimpang segar, ataupun sebagai food supplement yang banyak diminati konsumen di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Asia Selatan, dan lain sebagainya atau sebagai jahe asinan di Jepang. Disamping itu, komoditas jahe gajah digunakan sebagai obat batuk dalam bentuk pil di negara India dan sebagai tonikum dan obat perangsang di negara Cina dan Malaysia. Beberapa perusahaan, seperti PT Emeralindo Hijau Lestari, menjadikan komoditas jahe gajah sebagai core business bagi perusahaannya dengan sasaran ekspor ke pasar Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Pakistan, Bangladesh, Singapura, Brunei, Jepang, Perancis dan Kanada. Seperti yang telah dikemukakan di depan, prospek tanaman jahe di pasar internasional saat ini cukup cerah, dimana laju konsumsi dunia meningkat sebesar 6,7 % setiap tahunnya, karena peningkatan kebutuhan dunia akan produk jahe yang belum dapat tergantikan fungsinya dengan produk lain. Nilai ekspor jahe dunia secara terinci diperlihatkan bahwa nilai ekspor jahe dunia untuk tahun 2000 tercatat sebesar US$ 128 112 000. Lima negara pengekspor jahe terbesar adalah China, Thailand, India, Indonesia dan Brazil, dengan nilai ekspor masing-masing adalah US$ 71 138 000,-; US$ 18 394 000,-; US$ 5 914 000,-; US$ 5 797 000,-; dan US$ 576 000,- Dari uraian diatas, jika dilihat dari prospek biofarmaka maka masalah pemasaran jahe sebenarnya bukanlah masalah, karena pasar domestik dan internasional cukup terbuka lebar. Namun kenyataannya, Indonesia belum dapat memenuhi demand pasar internasional yang terus meningkat tersebut. Jahe gajah yang harganya US$ 300/ton, Indonesia baru bisa men-supply 10 % dari permintaan dunia yang berjumlah 30.000 ton/tahun.

Demikian pula halnya dengan biofarmaka yang lain. Jika dilihat dari prospeknya, maka pemasaran di luar negeri bukanlah masalah karena pasar biofarmaka ini masih belum optimal dan terbuka lebar, sementara pasokannya jauh lebih kecil. Tanaman kapulaga (Ammomum cardamomum Auct.) misalnya, dari demand negara Cina yang berjumlah 400 ton per bulan, negara Indonesia baru bisa men-supply 40 ton atau hanya sekitar 10 % -nya. Komoditas kapulaga ini selain diminta negara Cina, juga diminta oleh negara Singapura, Korea dan Hongkong. Dari demand negara Singapura akan kapulaga gelondong sebesar 180 ton per tahun, Indonesia baru dapat memenuhi sebesar 80 ton kapulaga gelondong per tahun. Sementara demand Singapura untuk kapulaga kupasan 72 ton per tahun tidak dapat terpenuhi karena keterbatasan bahan dan teknologi yang dimiliki oleh para petani dalam negeri. Permintaan kapulaga kupasan oleh negara Korea sebesar enam ton/tahun dan negara Hongkong sebesar lima ton per tahun, juga tidak terpenuhi.Contoh lainnya adalah tanaman cabe jawa (piper retrofractum), dari permintaan dunia yang berjumlah 6.000.000 ton, Indonesia baru bisa mensuplai 1/3 nya. Sama halnya dengan komoditas tanaman kencur (Kaemferia Galanga, Linn), yang harganya mencapai US$ 1.100/ton, dari permintaan ekspor dunia sebesar 200 – 300 ton per tahun hanya terpenuhi sekitar 62 ton per tahun. Disamping itu, Indonesia tidak dapat memenuhi demand pasar dunia internasional akan komoditas bangle (Zingiber purpureum Roxb.) dan biofarmaka lempuyang (Zingiberis aromaticum dan Zingiberis zerumbeti)

This article is supported by :

logo1.jpg

Pasar Tumbuhan Obat; Agrofarmasi ( Bagian 1)

In Business Profile on Februari 19, 2007 at 17:26

wallcoocom_photography_ff119.jpg

Pasar bahan baku biofarmaka merupakan keragaan supply dan demand dari bahan baku biofarmaka yang dibutuhkan oleh pabrik, dibedakan atas rimpang dan simplisia. Demand dan kebutuhan akan jenis biofarmaka yang diperlukan oleh industri obat tradisional, baik IKOT maupun IOT, juga sangat variatif. Hampir semua jenis biofarmaka dibutuhkan sebagai bahan baku pembuatan obat tradisional/jamu oleh berbagai industri obat tradisional Indonesia. Namun demikian, ada beberapa jenis biofarmaka budidaya yang dibutuhkan industri obat tradisional dalam jumlah besar, antara lain jahe (Zingiber officinale Roxb.) sebesar 5 000 ton/tahun, kapulogo (Ammomum cardamomum Auct.) 3 000 ton/tahun, temulawak (Curcuma aeruginosa Roxb.) 3 000 ton/tahun, adas (Foeniculum vulgare Mill.) 2 000 ton/tahun, kencur (Kaempferia galanga L.) 2 000 ton kering/tahun, kunyit (Curcuma domestica Val.) 3 000 ton kering/tahun dan 1 500 ton basah/tahun.

Berbagai jenis biofarmaka budidaya yang dibutuhkan oleh pabrik PT Sidomuncul, PT Air Mancur, PT Indo Farma, Dayang Sumbi, CV Temu Kencono, Indotraco, PT Nyonya Meneer, Herba Agronusa dan Jamu Jenggot, merupakan sebagian dari serapan simplisia biofarmaka oleh 10 industri besar dan 12 industri menengah obat tradisional di Indonesia. Di pasar domestik, rimpang temulawak (Curcuma aeruginoso Roxb.) dan rimpang jahe (Zingiber officinale Roxb.) merupakan dua jenis biofarmaka budidaya yang banyak dipasok oleh petani untuk industri obat tradisional, baik industri besar maupun menengah, yaitu rata-rata 310 870 kg/tahun dan 272 854 kg/tahun

Di Indonesia, komoditas jahe (Zingiber officiniale Rosc.) yang memiliki demand cukup tinggi baik di pasar domestik, disesuaikan dengan bentuk, ukuran dan warna rimpangnya. Tiga jenis jahe yang berprospek adalah jahe putih besar (jahe gajah), jahe putih kecil dan jahe merah. Diantara ketiga jenis jahe tersebut, jahe gajahlah yang memiliki demand terbesar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Demand jahe dalam negeri terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan trend peningkatan konsumsinya, yaitu dengan pertumbuhan 18,71 % setiap tahunnya selama periode 1984- 1990. Demand jahe gajah di pasar domestik, seperti catatan Koperasi BPTO (Kobapto) Kab. Tawangmangu, Jawa Tengah, berkisar 5 000 ton per tahun. Hampir semua industri obat tradisional di Jawa Tengah membutuhkan jahe gajah sebagai bahan baku produksinya, seperti PT Sidomuncul membutuhkan sekitar 15 ton per bulan, PT Air Mancur 15 ton per bulan, CV Temu Kencono 10 – 12 ton per tahun dan PT Indotraco 40 ton per bulan .Rimpang jahe juga banyak dimanfaatkan oleh 10 industri besar obat tradisional dan 12 industri obat tradisional menengah pada tahun 1995 – 1999, yaitu sebanyak 1.364.270 kg. Sedangkan menurut Survey SUBDIT ANEKA TANAMAN (2001), jumlah kebutuhan jahe dalam negeri adalah 36.200 kg/bulan. Untuk kebutuhan lokal, demand komoditas jahe gajah yang meningkat seiring dengan semakin banyaknya pabrik jamu, farmasi, dan kosmetik banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional (jamu), bahan makanan, minuman dan kosmetika.

Namun demikian, kenyataan di lapang menunjukkan bahwa agribisnis biofarmaka tidak berkembang dengan baik dan merata di seluruh Indonesia, karena petani dan pelaku usaha kurang memahami kebutuhan pasar domestik dan ekspor yang menginginkan produk siap pakai yang telah diolah. Kurangnya pemahaman tersebut karena menjual biofarmaka memang tak semudah menjual tanaman hortikultura lainnya, seperti sayur- sayuran atau buah-buahan. Disamping itu, keengganan petani untuk mengusahakan biofarmaka karena demand nya relatif belum semassal komoditas sayur-sayuran ataupun buah-buahan dan diantara ratusan jenis yang diperlukan industri obat tradisional hanya sedikit tanaman yang biasa dibudidayakan petani, seperti kencur di Nogosari dan jahe emprit di Ampel-Boyolali. Sebagai dampak dari kondisi diatas adalah belum/tidak terpenuhinya jumlah pasokan yang diminta oleh industri obat tradisional akan beberapa komoditas biofarmaka yang diperlukan, baik yang tumbuh liar maupun tanaman yang telah dibudidayakan. Bahkan sangat ironis sekali dengan adanya pernyataan dari APETOI bahwa stok biofarmaka Indonesia hanya cukup memenuhi permintaan untuk enam bulan saja. Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi simplisia biofarmaka benar-benar sangat terbatas (TRUBUS, 2001).

Sebagai contoh, komoditas pegagan (Centella asiatica), herba liar yang tumbuh di pekarangan, kebun atau dibawah tegakan hutan, yang dibutuhkan pabrik lokal 25 ton per tahun hanya sanggup dipasok sebesar empat ton per tahun. Tidak hanya tanaman liar yang masih diburu dari alam bebas, beberapa biofarmaka yang telah dibudidayakan pun banyak yang belum mampu memenuhi permintaan pasar domestik. Jahe merah dan jahe emprit, biofarmaka yang selama ini telah dibudidayakan, yang dibutuhkan industri obat tradisional sebanyak 250 ton per minggu tidak dapat terpenuhi dari pasar domestik sehingga perlu dipasok dari pasar luar negeri yaitu melalui impor dari negara Cina. Komoditas adas yang kebutuhan nasionalnya mencapai 2000 ton per tahun, juga masih dipenuhi dari impor. Kencur (Kaempferia galanga L.), yang termasuk salah satu komoditas budidaya yang belum mampu memenuhi permintaan industri obat tradisional, dengan tingkat kebutuhan nasional 125 – 150 ton per minggu baru dapat terpenuhi sekitar 80 – 100 ton.Demikian pula halnya dengan daun makuto dewa, dari kebutuhan pabrik sebesar satu ton per bulan baru terpenuhi tidak lebih dari 15 – 20 kg/bulan.

Di Jawa Tengah, dengan lebih dari 100 industri obat tradisional besar, menengah dan kecil (rumahan), mengalami masalah yaitu tidak dapat terpenuhinya kapasitas produksi pabrik karena kekurangan bahan baku biofarmaka. Sebagai contoh, PT Indotraco Jaya Utama yang membutuhkan 180 ton kapulaga (Ammomum cardamomum Auct.) gelondong per tahun belum dapat terpenuhi dari pasokan dalam negeri. Padahal, jika melihat potensi di wilayah Priangan Timur, lahan biofarmaka ini cukup luas. Misalnya, di wilayah Kabupaten Ciamis yang memiliki tiga lokasi potensial untuk budidaya biofarmaka, yakni Gunung Sawal, Pangandaran, dan Panjalu. Di Kabupaten Tasikmalaya, terdapat sekitar 62 757 hektare perkebunan rakyat yang bisa digunakan untuk menanam biofarmaka. Juga di Kabupaten Garut, yang memiliki ketinggian mulai 0 hingga 1500 derajat, sangat potensial untuk budidaya biofarmaka. Di Kabupaten Sumedang sendiri, tanaman herbal telah ditanam diatas areal seluas 2 054.2 hektar dengan produksi 9 107 ton dengan jumlah petani yang terlibat 9 218 orang. PT Sidomuncul, produsen jamu terbesar di Indonesia, membutuhkan pasokansekitar 650 ton bahan baku biofarmaka (kapulaga, temulawak, temu ireng, kunyit, lengkuas dan lempuyang) setiap bulan. Jumlah ini masih dibawah kapasitas produksi yang mencapai 800 ton per bulan. Selain itu, PT Sidomuncul membutuhkan kunyit (Curcuma domestica Val.) tidak kurang dari lima ton rimpang basah per hari, itupun belum terpenuhi. Komoditas lengkuas (Languas galanga (L) Stuntz.) dan lempuyang (Zingiberis zerumbeti R) yang masing-masing diperlukan sebanyak 15 ton kering setiap bulan namun baru sekitar 30 – 40 ton per tahun yang dipasok oleh para petani mitra. Kebutuhan pabrik akan komoditas kencur (Kaempferia galanga L.) sebanyak 7 – 8 ton per hari atau 100 ton per tahun baru terpenuhi dari kontribusi petani sebanyak 20 ton . PT Jamu Nyonya Meneer yang memproduksi 200 ton jamu bubuk dan empat ton kapsul per bulan, juga mengalami kesulitan dalam memperoleh pasokan. Komoditas kapulaga (Ammomum cardamomum Auct.) misalnya, dari kebutuhan 10 – 15 ton per bulan baru sekitar lima ton yang dapat dipasok secara rutin oleh para petani pemasok.PT Indofarma, yang merupakan badan usaha milik negara di bawah Departemen Kesehatan, juga mengalami kesulitan pasokan bahan baku daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) yang membutuhkan minimal 8 – 12 ton per bulan hanya dapat dipasok oleh petani sebanyak empat ton per tahun. Sebagai dampaknya, industri obat tradisional PT Indofarma tersebut hanya mampu memproduksi Prolipid (pil antikolesterol) sebanyak 20 000 botol per bulan atau 1,2 juta butir per bulan dari kapasitas produksi pabrik yang mencapai 50 000 botol per bulan atau target produksi 25 000 – 30 000 botol per bulan sesuai dengan permintaan pasar pada tahun 2001. Demikian pula halnya dengan komoditas daun katuk, yang menjadi bahan baku produk Proasi, yang membutuhkan satu ton per bulan juga tidak dapat terpenuhi (TRUBUS, 2001).

Fenomena tersebut diatas menunjukkan bahwa pasar domestik bahan baku dan simplisia biofarmaka masih terbuka sangat lebar. Namun demikian, kita juga tidak dapat menutup mata dengan permasalahan yang dihadapi para petani pemasok, yaitu rendahnya kualitas bahan baku dan simplisia yang dihasilkannya, sementara industri obat tradisional menuntut kualitas yang tinggi agar bahan baku dan simplisia biofarmaka dapat diproses lebih lanjut menjadi obat atau kosmetika. Perkembangan industri herbal medicine dan health food di Indonesia dewasa ini meningkat dengan pesat. Pemanfaatan sumberdaya alam hayati, khususnya dari jenis biofarmaka, akan terus berlanjut, sehubungan dengan kuatnya keterkaitan bangsa Indonesia terhadap tradisi kebudayaan memakai obat tradisional. Kecenderungan ini telah meluas ke seluruh dunia dan dikenal sebagai gelombang hijau baru new green wave atau trend gaya hidup kembali ke alam back to nature.

This Article is supported by :

logo.jpg


Omzet Jamu; 10 Triliun !

In Phytopharmacy on Februari 19, 2007 at 03:23

Omzet jamu bisa mencapai Rp 10 triliun pada 2008 atau meningkat 3,3 kali lipat dibandingkan omzet penjualan saat ini sebesar Rp 3 triliun. Untuk mencapai itu, pemerintah harus menghilangkan produk-produk jamu ilegal di pasaran yang saat ini beromzet sekitar Rp 4 triliun.

Brazil menjadi negara terbesar dalam omzet penjualan jamu sebesar US$ 20 miliar, disusul Cina sebesar US$ 6,6 miliar dan Malaysia US$ 1,2 miliar.

Indonesia terdapat 1.300 perusahaan jamu dengan omzet penjualan sekitar Rp 3 triliun. Lima perusahaan di antaranya merupakan perusahaan jamu terbesar, yakni Mustika Ratu, Sari Ayu, Air Mancur, Nyonya Meneer, dan Sido Muncul. (idi)

Nilai Ekspor Indonesia

In Uncategorized on Februari 16, 2007 at 13:54

Ekspor

Tahun 2004, nilai ekspor perusahaan farmasi Indonesia lebih dari US $ 200 juta. Pasar ekspornya bukan hanya sekitar kawasan Asia, ekspor juga sudah dilakukan di kawasan Afrika, seperti Nigeria. Di Nigeria, lima perusahaan farmasi Indonesia memasok dengan nilai sekitar US$ 20 juta hingga US$ 30 juta setahun. Dan negara sasaran ekspor ini terus ditingkatkan.

Sebagai gambaran, pada tahun 2001 lalu jumlah ekspor obat Indonesia mencapai US$ 71,61 juta, diekspor ke 59 negara. Jumlah perusahaan yang memberikan kontribusi ekspor sebanyak 26 perusahaan. Tahun 2002 partisipasi perusahaan farmasi yang mengekspor produksi bertambah menjadi 31 perusahaan. Saat itu jumlah kumulatif nilai ekspor mencapai US$ 97,98 juta yang disebar ke 71 negara tujuan ekspor. Tahun 2003 jumlah perusahaan pengekpor berkurang menjadi 29 perusahaan, namun jumlah negara tujuan bertambah menjadi 89 negara dengan nilai ekspor mencapai US $ 98 juta. Tahun 2004 jumlah kumulatif ekspornya naik menjadi US$ 101,5 juta yang didukung oleh 37 perusahaan, namun jumlah negara tujuan malah berkurang menjadi 62 negara.

 

pabrik.jpg

Tukang Jahit ?

In Uncategorized on Februari 16, 2007 at 13:26

Industri Farmasi; Lingkaran Tukang Jahit

guinea_-_006_-_tailor.jpg

Fluktuasi jumlah negara tujuan dan banyaknya perusahaan pengekspor menunjukkan sebenarnya peluang untuk ekspor sangat terbuka bagi perusahaan farmasi Indonesia. Apalagi jika dilihat dari kecenderungan ekspornya yang terus naik. Masalahnya, industri farmasi Indonesia belum juga beranjak dari dulu, yakni sebagai tukang jahit, alias produksinya memang terus meningkat tetapi itu tidak lebih sebagai produk pesanan dari perusahan- perusahaan farmasi dunia yang memindahkan produksinya ke negara Indonesia.

Untuk meningkatkan derajat dari status ”tukang jahit” ini memang bukan urusan mudah, bagaimanapun juga perusahaan farmasi adalah bentuk diferensiasi dari bisnis, banyak komponen yang harus dimiliki mulai dari pasar, daya beli lokal, riset komprehensif dan stabil, bahan baku lokal, hingga kualitas SDM dan teknologi yang dikendalikan, sungguh sangat tidak murah.

 

 

Pangsa Pasar Farmasi Indonesia

In Uncategorized on Februari 10, 2007 at 06:33

Sebagai upaya menekan harga obat, pemerintah menurunkan harga jual sebesar 10%-50% untuk 29 item obat generik. Obat ini adalah satu-satunya jenis obat yang harganya dapat dikontrol oleh pemerintah, dan seharusnya mendapat prioritas untuk dikembangkan. Sejak 1998 pasar obat generik terus tumbuh dan pada 2004 nilainya mencapai Rp2,9 triliun, atau menguasai 14% pangsa pasar farmasi nasional.

Pangsa ini sesungguhnya terbilang rendah. Di negara maju, seperti AS, pangsa pasar obat generiknya mencapai 50%. Di Taiwan bahkan 70%, dan Jerman 40%. Sementara itu, di negara tetangga, Singapura dan Malaysia, pangsa pasar obat generik mencapai 25% dan 20%.

Pasar farmasi nasional saat ini masih didominasi oleh pemain lokal. Data IMS 2004 menunjukkan bahwa PT Sanbe Farma masih menempati peringkat teratas dari sisi penjualan dengan nilai Rp1,54 triliun (7,37% pangsa pasar), disusul oleh PT Kalbe Farma Tbk. – Rp1,22 triliun (5,86%) dan PT Dexa Medica – Rp1,15 triliun (5,53%). Bagaimana dengan pemain asing? PT Pfizer ternyata hanya menempati peringkat ke-6 dengan nilai penjualan Rp762,1 miliar (3,65%). Dengan kondisi seperti ini, upaya Menkes menetapkan HET agaknya bakal mendapat ganjalan.

892005121047pm338.jpg

 

200 Perusahaan Berebut Pangsa Pasar

In Uncategorized on Februari 10, 2007 at 06:32

Pasar farmasi Indonesia yang sangat kecil diperebutkan 200 industri farmasi, sedangkan pasar komoditi lain pemainnya tidak sampai 10 perusahaan. Demikian diungkapkan Sekjen GP Farmasi, M Syamsul Arifin, seusai berbicara dalam workshop bertema meningkatkan peran wartawan dalam sosialisasi kebijakan obat nasional yang digelar Forum Wartawan Kesehatan (Forwakes) kemarin.

images.jpg

Disebutkan, pasar farmasi Indonesia hanya mencapai Rp 22 triliun per tahun lebih kecil dibanding komoditi lain. Seperti mie instan yang mencapai Rp 36 triliun per tahun, rokok Rp 130 triliun, subsidi BBM Rp 90 triliun dan subsidi listrik Rp 30 triliun per tahun.

 

Di tempat sama, Richard Pandjaitan, staf ahli Menkes bidang farmasi mengungkapkan, obat tersedia di Indonesia yang diproduksi saat ini mencapai 12.000 item. Obat itu diproduksi 4 BUMN farmasi, 33 industri PMA dan 164 industri swasta masional dengan price factor. Sedangkan pelaksanaan distribusi ditangani 2.250 pedagang besar farmasi dengan mata rantai ritel Apotek dan Toko Obat yang masing-masing berjumlah 6.000 tersebar di seluruh tanah air. (bn-33)

Sumber : Suara Merdeka

 



 

Apoteker Harus Ada Di Apotek

In Uncategorized on Februari 9, 2007 at 14:09

- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) segera mengeluarkan peraturan yang melarang apotek buka jika tenaga apoteker sedang tidak ada di tempat. Peraturan itu akan diberlakukan pada 17 September 2005.

Ketua Umum Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) Ahaditomo mengatakan kebijakan tersebut merupakan usulan ISFI kepada BPOM. “Aturan itu akan dikeluarkan pada 17 Juni 2005 bersamaan Kongres Nasional ISFI dan mulai efektif diberlakukan tiga bulan setelah ketentuan itu disahkan oleh BPOM,” ujarnya kemarin.

Dia mengatakan ketidakhadiran apoteker di tempat kerja (apotek) merupakan hal yang sering terjadi di masyarakat, padahal salah satu upaya untuk meningkatkan keterjangkauan obat salah satunya adalah dengan penggunaan yang rasional.

Selain itu, kata dia, konsumen juga memiliki hak untuk menyampaikan permintaannya agar obat yang diresepkan oleh dokter dapat ditukar dengan merek lain namun memiliki fungsi yang sama dan dengan harga yang lebih terjangkau.

“Sebagai asosiasi yang membawahi para apoteker, maka kami memiliki kewajiban untuk membantu pelayanan masyarakat khususnya dalam hal obat-obatan yang termasuk dalam salah satu komponen kesehatan.”

Ahaditomo mengatakan usulan dari ISFI tersebut disambut baik oleh Kepala BPOM, karena institusi yang mengawasi peredaran obat dan makanan itu juga memiliki tanggungjawab yang sama dengan apoteker.

Sumber : Mensa Group

2004_10_31_day163-drugstore.jpg

Konsumsi Obat Indonesia Terendah Se-ASEAN

In Uncategorized on Februari 9, 2007 at 13:59

Tingkat konsumsi obat Indonesia masih lebih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Menurut data IMS 2004, Singapura menempati peringkat teratas dalam konsumsi obat per kapita, disusul oleh Thailand, Malaysia, dan Filipina. Konsumsi obat Indonesia baru US$7,2 per kapita, atau sedikit di atas Vietnam yang US$5,4 per kapita.

Sebagai upaya menekan harga obat, pemerintah menurunkan harga jual sebesar 10%-50% untuk 29 item obat generik. Obat ini adalah satu-satunya jenis obat yang harganya dapat dikontrol oleh pemerintah, dan seharusnya mendapat prioritas untuk dikembangkan. Sejak 1998 pasar obat generik terus tumbuh dan pada 2004 nilainya mencapai Rp2,9 triliun, atau menguasai 14% pangsa pasar farmasi nasional.

Pangsa ini sesungguhnya terbilang rendah. Di negara maju, seperti AS, pangsa pasar obat generiknya mencapai 50%. Di Taiwan bahkan 70%, dan Jerman 40%. Sementara itu, di negara tetangga, Singapura dan Malaysia, pangsa pasar obat generik mencapai 25% dan 20%.

892005121047pm525.jpg

Perkembangan Pasar Indonesia dan ASEAN

In Uncategorized on Februari 9, 2007 at 13:56

Industri farmasi Indonesia terus tumbuh. Penjualan obat selama 2004 mencapai Rp20,22 triliun, atau tumbuh 13,5% dibanding 2003. Memang angka ini tak bisa dibilang tinggi. Penyebabnya, antara lain, masih terbatasnya masyarakat yang bisa mengakses produk-produk kesehatan, dan lemahnya daya beli konsumen. Meski begitu, optimisme masih mewarnai industri ini. Buktinya, untuk 2005, penjualan obat diperkirakan mencapai Rp23 triliun, atau tumbuh 13,7%.

Di antara negara-negara ASEAN, pasar industri farmasi Indonesia memang terbilang besar. Data 2003 menunjukkan bahwa nilai pasar farmasi Indonesia mencapai US$1,7 miliar. Bandingkan dengan Singapura yang cuma US$269 juta, Thailand US$1,04 miliar, atau Malaysia yang US$374 juta. Betul, di sini faktor jumlah penduduk juga ikut menentukan.

Pasar Farmasi Negara Asean